Me: What makes you are so comfy enuff to tell me everything about your private life?
Tanya saya ketika YCN menceritakan secara detail dan gamblang mengenai kehidupannya kini di luar negeri. YCN menjawabnya via Line chat: "You are one of my bestfriends I am comfortable to share with and I know you are not kinda judgmental person."
NICE!
Ternyata saya di matanya ya begitu itu. Entah itu pujian atau sebuah olokan mengingat beberapa waktu silam saya adalah orang yang sangat judging dan mungkin termasuk kaum yang senang membuat orang lain tidak nyaman.
Tapi ya memang bila saya perhatikan orang-orang memang suka bercerita ke Saya. Bukan karena saya enak jadi tempat menuangkan cerita mereka, mungkin karena saya lebih banyak diamnya aja sekarang dan lebih suka memerhatikan. Ditambah lagi saya juga mulai malas mengomentari kehidupan orang lain, kecuali dimintai pendapatnya. Saya lebih suka mendengarkan dan mengamati. Ada semacam kepuasan pribadi ketika dapat mengenal orang hanya dengan melihatnya berekspresi.
Namun, jika saya menilik diri saya lebih dalam lagi, mungkin... yah mungkin loh ya... saya hanya mencoba jujur dan apa adanya dengan diri saya sendiri yang bisa jadi itu menarik bagi orang-orang tertentu dan kemudian mereka mendekat dan merasa nyaman dengan diri saya itu.
Begini-begini maksudnya... saya sebenarnya suka bergaul, bercerita, bersosialisasi lah intinya. Untuk masuk ke lingkaran yang lebih rapat, saya tentu harus membuka diri saya dengan menunjukkan lapisan yang ada dalam diri saya. Dan tak semua orang bisa menerima hal itu. Ada yang mundur teratur, ada yang terkaget-kaget lalu menjauh, namun tak sedikit pula yang ikut membuka lapisannya lalu membaur dengan saya sehingga merasa nyaman untuk kemudian berbagi.
Saya pikir menjadi jujur dan apa adanya adalah hal langka zaman sekarang ini. Kalaupun ada, bisa dikatakan mereka adalah kaum-kaum yang yah... akan berbeda sendiri dengan pada umumnya. Kalau saya memilih untuk menyamar saja. Menyamar bukan juga artinya munafik. Menyamar lebih tepatnya agar tidak terlalu nampak dan gamblang saja. Soalnya terlalu apa adanya juga saya pikir tak tepat juga. Untuk meningkatkan tahapan pertemanan, ya ada baiknya ada layer demi layer yang dibuka agar kita bisa mengetahui seberapa orang yang kita anggap teman ini bisa menerima diri kita, dan sebaliknya. Kalau ternyata mereka tidak bisa menerima diri anda apa adanya, artinya tingkat pertemanan pun ada batasan-batasannya juga. Hal ini penting dijaga agar tidak ada salah kata terucap dan perilaku yang salah dilakukan.
Mungkin begitu...
Menurut Anda?
Tanya saya ketika YCN menceritakan secara detail dan gamblang mengenai kehidupannya kini di luar negeri. YCN menjawabnya via Line chat: "You are one of my bestfriends I am comfortable to share with and I know you are not kinda judgmental person."
NICE!
Ternyata saya di matanya ya begitu itu. Entah itu pujian atau sebuah olokan mengingat beberapa waktu silam saya adalah orang yang sangat judging dan mungkin termasuk kaum yang senang membuat orang lain tidak nyaman.
Tapi ya memang bila saya perhatikan orang-orang memang suka bercerita ke Saya. Bukan karena saya enak jadi tempat menuangkan cerita mereka, mungkin karena saya lebih banyak diamnya aja sekarang dan lebih suka memerhatikan. Ditambah lagi saya juga mulai malas mengomentari kehidupan orang lain, kecuali dimintai pendapatnya. Saya lebih suka mendengarkan dan mengamati. Ada semacam kepuasan pribadi ketika dapat mengenal orang hanya dengan melihatnya berekspresi.
Namun, jika saya menilik diri saya lebih dalam lagi, mungkin... yah mungkin loh ya... saya hanya mencoba jujur dan apa adanya dengan diri saya sendiri yang bisa jadi itu menarik bagi orang-orang tertentu dan kemudian mereka mendekat dan merasa nyaman dengan diri saya itu.
Begini-begini maksudnya... saya sebenarnya suka bergaul, bercerita, bersosialisasi lah intinya. Untuk masuk ke lingkaran yang lebih rapat, saya tentu harus membuka diri saya dengan menunjukkan lapisan yang ada dalam diri saya. Dan tak semua orang bisa menerima hal itu. Ada yang mundur teratur, ada yang terkaget-kaget lalu menjauh, namun tak sedikit pula yang ikut membuka lapisannya lalu membaur dengan saya sehingga merasa nyaman untuk kemudian berbagi.
Saya pikir menjadi jujur dan apa adanya adalah hal langka zaman sekarang ini. Kalaupun ada, bisa dikatakan mereka adalah kaum-kaum yang yah... akan berbeda sendiri dengan pada umumnya. Kalau saya memilih untuk menyamar saja. Menyamar bukan juga artinya munafik. Menyamar lebih tepatnya agar tidak terlalu nampak dan gamblang saja. Soalnya terlalu apa adanya juga saya pikir tak tepat juga. Untuk meningkatkan tahapan pertemanan, ya ada baiknya ada layer demi layer yang dibuka agar kita bisa mengetahui seberapa orang yang kita anggap teman ini bisa menerima diri kita, dan sebaliknya. Kalau ternyata mereka tidak bisa menerima diri anda apa adanya, artinya tingkat pertemanan pun ada batasan-batasannya juga. Hal ini penting dijaga agar tidak ada salah kata terucap dan perilaku yang salah dilakukan.
Mungkin begitu...
Menurut Anda?
Comments
Post a Comment