Skip to main content

Unwritten Rules: Do's and Don'ts for Junior

Sebenarnya ini postingan lama. Saya baru menemukannya pas bongkar-bongkar file di laptop yang saya beri nama Windu. 
Saya tulis ulang di blog ini karena murni hasil pemikiran Saya. Kalau pun Saya ditegur dan dipanggil, ya ga papa. Soalnya saya butuh menuliskan apa yang saya rasakan dan pikirkan, selama hasil dari perasaan dan pikiran saya itu tidak membuat seseorang lantas menjadi gila lalu bunuh diri.

* * *

Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, adalah wajar jika kadang-kadang kita mengalami yang namanya bersinggungan. Dimana keinginan Saya seperti ini, namun ternyata keinginan si A seperti itu. Bahkan si B, si C, dan seterusnya juga memiliki keinginan yang berlainan. Saya tidak mau menamakannya sebagai sebuah konflik, karena menurut Saya konflik sebagai suatu istilah terkesan berlebihan. Saya lebih suka memaknainya sebagai kebersinggungan, persinggungan, singgungan, jujur Saya kurang tahu EYD pastinya. Izinkan Saya menggunakan istilah persinggungan disini. Persinggungan menurut pengamatan Saya yang masih sangat dangkal ini, lebih banyak terjadi karena kita seringkali sebagai insan pribadi memiliki tendensi untuk berasumsi daripada mengklarifikasi. Kita lebih suka mengandalkan perasaan dan kebiasaan kita ketimbang bernalar dengan logika dan mencoba membuka wawasan kita terhadap hal-hal yang bagi kita tidak biasa.
Batas toleransi manusia terhadap persinggungan demi persinggungan yang terjadi pun berbeda. Ada yang batas toleransinya besar, sehingga ketika menghadapi persinggungan, insan tersebut tidak terlalu ambil pusing. Namun, sebaliknya ada yang batas toleransinya kecil sehingga hal yang bukan masalah dibuatnya sebagai masalah besar. Jika kita dan pihak-pihak yang dengan mereka kita bersinggungan setara dan mengenalnya dengan baik, mungkin kita bisa menyelesaikannya dengan mudah dan tidak berlarut-larut.Tapi bagaimana jika pihak yang kita bersinggungan tidak setara? Kita kah yang harus merendah mengalah atau membiarkannya menjadi konflik laten yang tidak terselesaikan tapi membiarkan waktu sendiri yang memecahkannya.
Ngomong opo tho, Yo?! Lha, Saya juga bingung sebenarnya Saya ngomong apa? Hehehe.
Mungkin akan lebih mudah jika saya menarasikannya sebagai berikut: Jadi semenjak saya resmi menjadi seorang istri dari Ricardo Sinaga, secara otomatis Saya masuk dalam ruang lingkup kehidupan tentara yang sarat akan aturan, norma, dan kebiasaan yang tertulis dan lebih banyak tidak tertulisnya. Dalam kehidupan Saya menjadi seorang istri tentara, Saya tidak lepas dari yang namanya hubungan senior dan junior dimana senior tidak pernah salah dan jika senior salah, baca kembali kalimat pertama. Okelah, meski jauh di dalam lubuk hati Saya, Saya masih bersikukuh dengan pendirian Saya bahwa kalau salah ya salah. Benar ya benar. Habis perkara!
Satu hal yang sangat Saya soroti adalah kehidupan senior dan junior yang sangat mencolok, yakni: senior boleh berbuat A, kalau tarafnya masih junior TIDAK BOLEH. (Huruf gede, tebel, dan digaris bawahi!). Suatu hari Saya berbincang-bincang dengan seorang senior, sebutlah namanya XYZ. Mbak XYZ ini memberitahu Saya bahwa wajar jika seorang senior berpakaian seperti itu, maksudnya dengan seperti itu adalah: roknya di atas lutut, mengenakan sandal selop atau kadang hanya sandal, dan gaya berpakaiannya semi casual dan bahkan nyaris santai. Alasannya: siapa yang berani menegur? Kan sudah senior. Mbak XYZ ini lantas menasehati Saya, bahwa jangan pernah membandingkan diri kita yang junior sama seperti senior. Kita harus selalu menjaga diri kita sesuai aturan dan kaidah norma yang berlaku sebagai junior. Disini dahi Saya mengernyit. Tanda Saya tidak setuju. Kemudian beliau menambahkan lagi, bahwa zaman dulu Mbak-mbak  ketika masih sangat junior tidak berani berbicara dengan para senior bahkan memandang wajah Mbak-mbaknya. Mereka akan duduk diam mematung, dan kalau diajak berbicara akan sangat merendah sekali. Saya termangu. Pikiran Saya lantas melayang ke zaman perbudakan yang legal maupun tidak legal. Perbudakan yang tidak legal itu seperti bangsa kulit hitam yang dijadikan budak bagi keluarga kulit putih. Sementara perbudakan yang legal itu seperti keharusan mengistimewakan anak keluarga kerajaan, merasa berhak memerintah seseorang karena orang tersebut pangkatnya lebih rendah dari kita, dan sebagainya. Legal ataupun tidak legal, yang namanya perbudakan itu bentuk penjajahan. Saya menerima segala bentuk kesenioritasan, dimana kita sebagai junior dan adik sadar diri dan tanggap untuk membantu, mendukung, patuh dan mau diatur oleh kakak kita demi kelancaran sistem yang ada. Yang Saya tolak dengan tegas adalah ketika kita sebagai junior dituntut untuk patuh tanpa pertimbangan, patuh tanpa bernalar, patuh tanpa diizinkan bertanya, pokoknya  patuh 100%.
Saya menolak yang Mbak XYZ kemukakan agar Saya sebagai junior tidak mempersoalkan tata berpakaian dan berperilaku yang dilakukan oleh Mbak-mbak yang jauh lebih senior. Karena mereka... itu tadi SENIOR. Bukankah sebagai seorang senior, mereka harusnya memberi contoh yang baik dan benar kepada para junior macam Saya ini? Yang benar-benar tidak tahu seluk-beluk dunia militer lantas kemudian terjun 100%. Apakah para senior menuntut para junior untuk berlaku baik dan benar tanpa mereka harus memberi contoh lebih dulu? Itu bukannya sama saja ya dengan para pemimpin kita yang terbukti korupsi, namun dengan pedenya ngomong: “jangan korupsi ya. Korupsi itu dosa.” Oke, mungkin analogi Saya terlalu berlebihan. Tapi... paham kan maksud Saya?
Saya kembali mengingat-ingat yang pernah orangtua Saya nasehatkan ke Saya tentang berperilaku, berbicara, dan bersikap untuk selalu sopan karena Saya sebagai anak sulung menjadi contoh bagi adik-adik Saya. Saya harus menjadi penolong dan pelindung adik-adik Saya. Dan ketika Saya berontak, dan berkata-kata tidak patut segera adik-adik Saya meniru: “Kak Yoan aja boleh!” Sebagai seorang kakak, Saya dituntut banyak karena Saya panutan bagi adik-adik Saya.
Namun, agaknya disini Saya mengalami kesulitan menemukan role model yang tepat. Mungkin Saya harus banyak trouble-nya dulu sehingga Saya tahu apa saja aturan tidak tertulis yang harus Saya pahami dan kembali kepada pemahaman awal Saya bahwa Saya harus senantiasa memberi contoh yang baik bagi para istri daripada junior suami Saya kelak. Saya tidak bisa menyamakan diri Saya seperti senior Saya, lha wong mereka senior tho? Pelajaran buat Saya juga kedepannya, supaya Saya harus selalu mawas dalam berkata-kata, bersikap, berpakaian, dan sebagainya tanpa menghilangkan khas diri Saya yang ekspresif, terbuka, dan bertanggungjawab terhadap apa yang sudah Saya katakan. AMIN.

Malang, 01 Desember 2015

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...