Bisa memberikan asi tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para ibu. Namun, ada kondisi tertentu dimana tak semua ibu bisa menyusui bayinya.
Apapun pilihan ibu untuk asupan bayinya, berhak dihargai. Dan kita tidak berhak menjudge pilihan mereka, para ibu yang memberikan sufor pada bayinya.
Bisa menghasilkan ASI itu rezeki. Dan rezeki adalah hak yang Kuasa, maka tak elok kalau kita meminta disamaratakan atau bahkan mempertanyakannya.
Bagi ibu lain yang diberi rezeki ASI yang berlimpah, saya percaya kita diberi anugerah rezeki di hal lain.
Bagi ibu lain yang diberi rezeki ASI yang berlimpah, saya percaya kita diberi anugerah rezeki di hal lain.
Namun secara pribadi, saya menyatakan dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif (maksudnya menyusui) selama 6 bulan eksklusif dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih (kalau mampu). Meski pada realitanya, saya cuma mampu memberikan ASI pada Ello hanya 1 tahun karena Ello enggan menghisap puting saya lagi dan lebih memilih meminum susu dari botol.
Alasan kenapa saya mendukung ASI sebenarnya sederhana :
Alasan kenapa saya mendukung ASI sebenarnya sederhana :
1. HEMAT
2. Simpel, ga ribet karena tinggal buka kancing baju.
3. Bisa bikin kurus. (Hahaha!)
4. Aman bagi perut bayi.
Saya tidak menganggap memberi sufor pada bayi adalah hal yang jahat. Memang (katanya) pemberian asupan lain termasuk formula bayi, membawa konsekuensi yang tidak sedikit dan hal ini perlu diketahui ibu-ayah.
Akan tetapi memaksakan pemberian asi tanpa disertai pengetahuan juga salah. Ingat kasus baby Landon yang menjadi viral akhir-akhir ini? (Kalau ga tau, google ya, Shaay.)
Akan tetapi memaksakan pemberian asi tanpa disertai pengetahuan juga salah. Ingat kasus baby Landon yang menjadi viral akhir-akhir ini? (Kalau ga tau, google ya, Shaay.)
Saya dan adik-adik saya merupakan anak asi kombi sufor. Oleh karena Mama dulu setelah melahirkan saya langsung kuliah kerja lapangan (KKL), maka saya cuma berhasil disusui 3 bulan saja setelah itu sufor bekerja dalam tubuh saya. Adik-adik saya juga disusui kurang lebih 3-6 bulan saja lantaran Mama bekerja. Disela-sela itu sufor pun dicekoki ke kami. Tidak ada yang salah dengan sufor, apalagi jika ternyata gizi asi ibu tidak memadai. Perlu diketahui, asi melimpah tumpah ruah belum tentu bergizi.
Hal menarik dari Mama dan ibu mertua yang saya tiru adalah memberi ASI berarti memastikan asupan gizi kedalam tubuh kita pun memadai.
Jangan hanya memberikan asi tapi tidak disertai dengan kecukupan gizi yang dikonsumsi. Itu artinya konyol.
Maka dari itu saya berusaha memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh. Karena saya berusaha menurunkan berat badan, saya pun mengurangi asupan karbohidrat dan makanan yang mengandung lemak.
Jangan hanya memberikan asi tapi tidak disertai dengan kecukupan gizi yang dikonsumsi. Itu artinya konyol.
Maka dari itu saya berusaha memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh. Karena saya berusaha menurunkan berat badan, saya pun mengurangi asupan karbohidrat dan makanan yang mengandung lemak.
Bagi para ibu pejuang asi, selamat mengasihi dan tetap konsumsi makanan bergizi untuk si adek bayi.
Bagi para ibu yang tidak memberikan asi, jangan berkecil hati.
Karena menyusui bukanlah semata-mata tanda bahwa kita menjadi ibu sejati.
Bagi para ibu yang tidak memberikan asi, jangan berkecil hati.
Karena menyusui bukanlah semata-mata tanda bahwa kita menjadi ibu sejati.
Cheers,
Comments
Post a Comment