Skip to main content

Bertemu dengan Manusia-manusia Sulit

Akhir-akhir ini saya sering menjumpai hal yang membuat saya agak sebal, yaitu janji yang tak ditepati dan pesan yang tidak diresponi.
Sempat beberapa pikiran buruk datang menghampiri membuat saya jadi berpikiran yang tidak-tidak terhadap manusia-manusia yang macam begini ini.
Pesan-pesan yang kita kirim, tidak digubris. Sementara hal macam status dan gambar profil bolak-balik diganti. Ini manusia mau apa? Begitu saya membatin. Padahal kita menghubungi bukan untuk sesuatu yang tidak penting. Tapi ah... bisa jadi baginya kita tidak sedemikian pentingnya.
Yasudahlah... ~

Lalu ada lagi cerita, saya bertanya bagaimana kejelasan yang menjadi tanggungjawabnya, namun yah begitu. Lain yang ditanya... lain pula yang dijawab.
"Sabar...sabar." kata saya menghibur diri.
Ketika saya curhat ke suami, suami cuma mendengarkan dan menyabarkan. Lagi-lagi yasudahlah... ~
Belum genap hari dimana saya di PHP-in, saya kembali di PHP-in. Diucapkanlah sebuah janji, saya pikir akan ditepati. Eh taunya, malah tidak ada kabar sama sekali hingga hari ini.
Dan yasudahlah ~
Namun, ketika saya menuliskan tulisan ini sembari menggendong Gio, putra saya yang berusia 3 bulan, saya merasa ditoyor oleh pikiran saya sendiri.
"Ah, jangan-jangan begini ini perasaan orang-orang dulu ketika saya PHP-in, ketika janji-janji manis yang saya ucapkan tak kunjung saya realisasikan, ditambah lagi pesan-pesan yang saya baca namun urung saya balas." Begitu batin saya berkecamuk.
TERNYATA saya adalah termasuk manusia-manusia yang sulit dahulu kala. Saya berani bilang "dahulu" karena sekarang ini saya mencoba untuk tidak lagi termasuk dalam kategori manusia-manusia sulit itu.
Eh, manusia sulit yang bagaimana sih maksudnya?
Manusia yang sulit MENGHARGAI orang lain.
Ketika seseorang menghubungi kita, artinya ada sesuatu yang bersifat urgent, atau taruhlah ketika pun tidak urgent ya mbok kita hargai niatnya yang telah menghubungi kita. Kalaupun memang kita tidak bisa lekas menjawab, kan bisa jujur saja dengan bilang: nanti saya hubungi kembali. Atau kalaupun tidak ingin menjawab, ya jujur saja bilang sedang tidak ingin membahas topik ini-itu.
Perihal janji, wah... janji itu memang lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Dalam bahasa Inggrisnya, much easier said than done.
Untuk manusia sulit yang tidak bisa menepati janji dan tidak menghargai, saya cuma mau bilang selamat saja.
Selamat apa?
Ya selamat saja... tidak bermaksud mengutuki, dan tidak juga dalam taraf hendak memberkati. Hanya mau menyelamati.
"Selamat karena termasuk menjadi manusia-manusia sulit."
(Dan lagi-lagi saya tetap mengintrospeksi diri, semoga saya tidak menjadi manusia sulit!)

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...