Akhir-akhir ini saya sering menjumpai hal yang membuat saya agak sebal, yaitu janji yang tak ditepati dan pesan yang tidak diresponi.
Sempat beberapa pikiran buruk datang menghampiri membuat saya jadi berpikiran yang tidak-tidak terhadap manusia-manusia yang macam begini ini.
Sempat beberapa pikiran buruk datang menghampiri membuat saya jadi berpikiran yang tidak-tidak terhadap manusia-manusia yang macam begini ini.
Pesan-pesan yang kita kirim, tidak digubris. Sementara hal macam status dan gambar profil bolak-balik diganti. Ini manusia mau apa? Begitu saya membatin. Padahal kita menghubungi bukan untuk sesuatu yang tidak penting. Tapi ah... bisa jadi baginya kita tidak sedemikian pentingnya.
Yasudahlah... ~
Yasudahlah... ~
Lalu ada lagi cerita, saya bertanya bagaimana kejelasan yang menjadi tanggungjawabnya, namun yah begitu. Lain yang ditanya... lain pula yang dijawab.
"Sabar...sabar." kata saya menghibur diri.
Ketika saya curhat ke suami, suami cuma mendengarkan dan menyabarkan. Lagi-lagi yasudahlah... ~
"Sabar...sabar." kata saya menghibur diri.
Ketika saya curhat ke suami, suami cuma mendengarkan dan menyabarkan. Lagi-lagi yasudahlah... ~
Belum genap hari dimana saya di PHP-in, saya kembali di PHP-in. Diucapkanlah sebuah janji, saya pikir akan ditepati. Eh taunya, malah tidak ada kabar sama sekali hingga hari ini.
Dan yasudahlah ~
Dan yasudahlah ~
Namun, ketika saya menuliskan tulisan ini sembari menggendong Gio, putra saya yang berusia 3 bulan, saya merasa ditoyor oleh pikiran saya sendiri.
"Ah, jangan-jangan begini ini perasaan orang-orang dulu ketika saya PHP-in, ketika janji-janji manis yang saya ucapkan tak kunjung saya realisasikan, ditambah lagi pesan-pesan yang saya baca namun urung saya balas." Begitu batin saya berkecamuk.
"Ah, jangan-jangan begini ini perasaan orang-orang dulu ketika saya PHP-in, ketika janji-janji manis yang saya ucapkan tak kunjung saya realisasikan, ditambah lagi pesan-pesan yang saya baca namun urung saya balas." Begitu batin saya berkecamuk.
TERNYATA saya adalah termasuk manusia-manusia yang sulit dahulu kala. Saya berani bilang "dahulu" karena sekarang ini saya mencoba untuk tidak lagi termasuk dalam kategori manusia-manusia sulit itu.
Eh, manusia sulit yang bagaimana sih maksudnya?
Manusia yang sulit MENGHARGAI orang lain.
Ketika seseorang menghubungi kita, artinya ada sesuatu yang bersifat urgent, atau taruhlah ketika pun tidak urgent ya mbok kita hargai niatnya yang telah menghubungi kita. Kalaupun memang kita tidak bisa lekas menjawab, kan bisa jujur saja dengan bilang: nanti saya hubungi kembali. Atau kalaupun tidak ingin menjawab, ya jujur saja bilang sedang tidak ingin membahas topik ini-itu.
Manusia yang sulit MENGHARGAI orang lain.
Ketika seseorang menghubungi kita, artinya ada sesuatu yang bersifat urgent, atau taruhlah ketika pun tidak urgent ya mbok kita hargai niatnya yang telah menghubungi kita. Kalaupun memang kita tidak bisa lekas menjawab, kan bisa jujur saja dengan bilang: nanti saya hubungi kembali. Atau kalaupun tidak ingin menjawab, ya jujur saja bilang sedang tidak ingin membahas topik ini-itu.
Perihal janji, wah... janji itu memang lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Dalam bahasa Inggrisnya, much easier said than done.
Untuk manusia sulit yang tidak bisa menepati janji dan tidak menghargai, saya cuma mau bilang selamat saja.
Untuk manusia sulit yang tidak bisa menepati janji dan tidak menghargai, saya cuma mau bilang selamat saja.
Selamat apa?
Ya selamat saja... tidak bermaksud mengutuki, dan tidak juga dalam taraf hendak memberkati. Hanya mau menyelamati.
"Selamat karena termasuk menjadi manusia-manusia sulit."
Ya selamat saja... tidak bermaksud mengutuki, dan tidak juga dalam taraf hendak memberkati. Hanya mau menyelamati.
"Selamat karena termasuk menjadi manusia-manusia sulit."
(Dan lagi-lagi saya tetap mengintrospeksi diri, semoga saya tidak menjadi manusia sulit!)
Comments
Post a Comment