Skip to main content

I Stand Up Not For The MANY. I Stand Up For What I Think is Right!

Tapi belum pernah merasa sesedih hari ini. Ini seperti patah hati yang terakumulasi."

Tweet saya tanggal 9 Mei 2017 kemarin benar-benar mencerminkan kesedihan saya yang luar biasa terhadap negara ini. Ahok akhirnya dihukum 2 tahun penjara karena dianggap menista agama. Saya tercengang! Bukan karena Ahok seorang Kristen sama seperti saya, maka saya merasa tidak adil. Saya merasa ini tidak adil karena orang-orang di luar sana yang terang-terangan menista dan tak segan mengunggah penistaan agama lain tersebut terpampang nyata di youtube MALAH bebas melenggang kangkung.

Saya menangis. Marah tapi tidak tahu mau marah ke siapa. Jadilah saya marah terhadap diri saya sendiri, yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk ketidakadilan yang terjadi di negeri ini.
Saya teringat ketika saya masih bersekolah di bangku SD, bahkan hingga SMA. Jika teman saya "mengolok" saya dengan memberikan simbol tanda salib semaunya sambil tertawa-tawa. Saya marah? Tidak. Saya ikut tertawa. Atau apabila teman saya itu bercandanya sudah sangat keterlaluan, seperti menamai Tuhan yang saya sembah, saya tak marah. Hanya saya ingatkan saja kalau candaannya sudah keterlaluan. Sesederhana itu!
Namun yang terjadi di negeri kita hari ini menunjukkan kualitas ke-BAPER-an bangsa kita sangatlah tinggi dan sangat kanak-kanak.


Saya mencoba meredam kemarahan saya dengan menyibukkan diri pada hari itu. Hari itu kebetulan saya ada pemotretan produk dan wawancara. Emosi saya sempat mereda, namun meninggi kembali ketika membaca respon dari orang-orang yang memang bahagia karena Ahok dipenjara, respon orang-orang yang MASA BODOH dengan kasus Ahok, dan respon orang-orang yang TERLALU membela Ahok.
Saya bukan bagian dari ketiganya. Saya adalah bagian dari masyarakat yang melihat ketidakadilan yang terjadi, bahwa dalam hukum pun ada tebang pilihnya.

* * *

Istri TNI Dilarang Berkomentar Tentang Politik

Masih di hari yang sama, seorang teman menuliskan pendapatnya di path semacam ajakan untuk tidak berkomentar atau mengutarakan pendapat bagi para istri TNI mengenai keadaan politik dalam negeri. Saya mengomentari statusnya, hendak meluruskan bahwa berkomentar terhadap hal politis sudah diizinkan dan bahkan terjun kedalamnya pun sudah boleh. Jadi tidaklah tepat komentar beliau yang menurut saya dapat membungkam aspirasi kita terhadap keadaan dalam negeri kita ini.

Saya belum berpikir untuk terjun dalam bidang politik, meski terang-terangan saya Sarjana Ilmu Politik. Namun, saya pastikan saya akan selalu berdiri di garda depan mengenai apapun yang menurut saya BENAR, bukan karena menurut apa yang "KEBANYAKAN".

* * *

Paham-paham yang Tidak Sesuai PANCASILA, Silahkan Bikin Negara Sendiri!

Saya tidak mempersoalkan Anda menganut kepercayaan apapun, meski seliar atau se-enggak masuk akalnya bagi saya, namun satu hal: SEGALA bentuk PAHAM yang menyebabkan bangsa ini ter-disintegrasi, saya MENOLAKNYA dengan keras.

Saya tak pula mempersoalkan pendapat Anda tentang bagaimana Anda menjalani dan memahami hidup ini, namun apabila pendapat Anda menjerumuskan dan membuat orang lain yang tadinya hidup aman tenteram menjadi terancam, saya pun takkan segan-segan berdiri paling depan untuk menyatakan bahwa kita tidak sehaluan.

Jadi saya sangat SETUJU jika pemerintah kita membumihanguskan segala bentuk ormas radikal yang terang-terangan ingin membawa paham lain di luar Pancasila. Anda tak setuju Pancasila, silahkan bangun negara sendiri sana!
INGAT, Country before Self! Agama atau apapun yang Anda yakini adalah urusan anda ke Tuhan. Sementara tanggungjawab Anda sebagai Warga Negara tetaplah harus Anda taati.

Saya mungkin terlalu lama juga berdiam diri. Hanya bisa menonton dan melihat betapa kacaunya negeri ini. Saya mungkin juga pernah menjadi kaum yang tidak mau ambil perduli karena takut, dan juga tidak merasa ada dampaknya juga bagi diri sendiri.
Namun, kali ini TIDAK lagi!
Saya juga ingin berkontribusi bagi negeri, meski sekecil apapun itu.
Jadi, bagi anda-anda sekalian yang merasa sudah paling benar sendiri dan menganggap ideologi negeri ini harus diganti, saya sarankan kepada Anda untuk hengkang saja dari sini. Dan kepada pemerintah negara ini, kalau mau tetap negara ini berdiri, saya sarankan untuk menjalankan program doktrinasi bagi orang-orang yang mau mengganti ideologi negeri.

INGAT, Timor Leste sudah memisahkan diri. Aceh bisa jadi sebentar lagi. Papua pun menuju ke arah sana! Membiarkan pemahaman-pemahaman sesat dan radikal tumbuh dan berkembang mengakibatkan negara kita ini akan pecah belah dengan sendirinya dari dalam.
Sudah saatnya kita yang tadinya cuma diam dan "berusaha" selalu beradaptasi dengan sistem yang baru setiap waktu UNTUK bangkit dan mempertahankan apa yang benar. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk anak cucu kita nanti.

Jangan biarkan negara Indonesia ini hanya tinggal sebuah cerita, bahwa suatu hari pernah ada sebuah negara yang sangat kaya dengan flora maupun fauna, serta mempunyai sumber daya alam yang melimpah ruah, dan memiliki keaneragaman suku bangsa, bahasa, budaya, serta agama duduk berdampingan secara harmonis dan penuh dengan toleransi...yang membuat negara-negara lain di sekitarnya pernah memandangnya penuh rasa IRI...

~

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...