Usia saya sudah 29 tahun dan saya hitung-hitung baru 4 karya yang dicetak: 1) berupa cerita bersambung zaman SMP yang sempat dicetak di majalah sekolah. 2) Karangan mengenai Presiden Soekarno dalam rangka memperingati 100 tahun Bung Karno. Saya juara 3 se-Kalimantan Barat. Saya ingat saya dapat duit sebesar 200rb kalau tidak salah. Tahun 2001, duit sebesar itu sudah bisa beli macam-macam kan ya?
3) Saya pernah nulis di koran di rubrik Swara Kampus. Honornya 70,000 per tulisan yang dimuat. Lumayanlah buat bayar pulsa.
4) Saya menulis cerita karena diminta untuk mengisi kolom website Senyum Community.
3) Saya pernah nulis di koran di rubrik Swara Kampus. Honornya 70,000 per tulisan yang dimuat. Lumayanlah buat bayar pulsa.
4) Saya menulis cerita karena diminta untuk mengisi kolom website Senyum Community.
Saya menyadari tidak ada yang bisa dibanggakan dari itu semua, mengingat banyak remaja bahkan anak-anak muda zaman sekarang mampu menelurkan beratus tulisan di usia mereka yang belia. Sementara saya? Entah terlalu takut, atau terlalu banyak mikirnya dalam berkarya.
Saya teringat omongan sahabat dan mantan sahabat saya untuk menulis kembali.
SCK, sahabat saya dari sejak SD pas ketemu kemarin di Pontianak, masih membahas hal yang sama agar saya... menulis.
Lalu dulu sekali EKN. Dia pernah berpesan agar saya menulis novel lalu terbitkan. Nanti dia orang pertama yang akan membeli novel saya itu. Saya cuma tersenyum mendengarnya waktu itu.
Nah, ada lagi Yulince (bukan nama sebenarnya-red). Dia ini 'maksa' supaya saya nulis. Lalu, PSU tiba-tiba ngasih link untuk join sebagai penulis lepasan di website. Saya bakal dibayar oleh viewer. Jadi semakin banyak yang ngeklik tulisan saya, semakin banyak uang saya dapatkan.
Lantas kenapa belum dilakukan?
Pertanyaan menarik. Tapi saya cuma bisa jawab: entahlah...saya mungkin butuh lebih dari sekedar waktu dan kesiapan mental untuk memulai. Semoga belum terlambat. Hehehe.
Pertanyaan menarik. Tapi saya cuma bisa jawab: entahlah...saya mungkin butuh lebih dari sekedar waktu dan kesiapan mental untuk memulai. Semoga belum terlambat. Hehehe.
Akhir-akhir ini saya membaca sebuah novel karangan senior saya. Ide ceritanya sebenarnya sederhana, tapi masuk akal dan menarik. Yang lucunya adalah ketika saya menghampiri untuk membeli novel beliau yang sudah diterbitkan, beliau malah berpesan supaya saya ikut event-event lomba menulis novel. Syukur-syukur menang, lantas dimuat dan dijadiin buku. Alasan beliau berkata seperti itu karena dijumpainya kecintaan akan literasi dalam diri saya cukup tinggi, atau bisa jadi cuma sekedar kelakar yang kebetulan.
Eh tapi, apa benar di dunia ini semuanya serba kebetulan?
Ah, baiklah... saya pikir lebih baik saya memulainya. Sekarang.
Pikir punya pikir, menulis bagi saya itu merupakan bagian dari self-healing. Syukur-syukur sih bisa menginspirasi ya.
Pikir punya pikir, menulis bagi saya itu merupakan bagian dari self-healing. Syukur-syukur sih bisa menginspirasi ya.
Baikslaaah... saya sedang menyelesaikan draft novel pertama saya. Isinya apa? Rahasia. Nanti kalau beneran terbit, pasti saya share. Mohon doanya saja ya...
Cheers,
Comments
Post a Comment