Skip to main content

Cerita Tentang Seleksi CPNS Kemarin

Lama nian tak menulis, jemari dan pikiran pun lantas kaku dan gagu. Urusan keluarga, pekerjaan rumah tangga, bisnis kecil-kecilan, anak hingga kegiatan organisasi seakan menguapkan semua waktu yang tersedia dalam sehari.

Yasudahlah, toh saya menulis pagi-pagi begini bukan untuk mengeluh. Tapi untuk refleksi diri. Okay, baiklah! Saya gagal untuk kali ketiga dalam seleksi CPNS kali ini. Lucunya saya gagal ini merupakan kegagalan terparah. Lha kok bisa? Iya, saya gagal di Wawasan Kebangsaan. Jika dua tes sebelumnya saya bisa memenuhi passing grade, cuma hanya karena saya bukan yang tertinggi sehingga saya tidak bisa melanjutkan ke tes berikutnya. Nah, sekarang saya tidak bisa melanjutkan ke seleksi berikutnya karena nilai saya tidak bisa memenuhi kualifikasi. Sedih! Tapi hidup harus berjalan... tapi ya tetap saja sedih. Dikarenakan parno dengan Matematika, maka saya belajar mati-matian di bagian Intelijensi Umum. Saya kemudian menganggap remeh bagian Wawasan Kebangsaan. Bagian Kepribadian juga boleh dibilang saya pas-pasan nilainya. 

Well, I still have one last chance in the next two year sih kalau ada bukaan CPNS lagi. Oke baiklah, saya akan belajar dengan giat, Kawan! Sebelumnya, bukan tentang kegagalan CPNS kali ini yang membuat saya ingin bercerita, tapi lebih ke ingin menceritakan kronologis kenapa saya menuliskan ini semua...

Tentang CPNS & Kegagalan yang Menyertainya
Ketika saya mengetahui CPNS Kemenkumham, saya lantas mendaftar. Mulai dari mengunggah dokumen-dokumen yang di scan, dan pengisian data secara online. Jujur saja, hanya dengan memasukkan NIK, seluruh informasi umum tentang saya langsung keluar otomatis. Hal seperti jenis kelamin, nama lengkap, tempat tanggal lahir, dsb. Jadi saya tidak perlu berlelah-lelah lagi mengetik satu demi satu informasi pada kolom.

Nah, setelah saya input semua persyaratan yang diperlukan, saya pun melenggang kangkung. Pikir saya, AMAN! Hingga rumor mengenai keluarnya kartu tes dan sebagainya membuat saya bingung, kok saya enggak ada info apapun? Lalu saya mulai pantau aktifitas di twitter dan ketika ada informasi resmi dari BKN keluar mengenai siapa-siapa saja yang lulus seleksi administrasi, saya pun ikut mengaksesnya dan JENG...JENG... nama saya enggak muncul. Saya gagal di unggah dokumen. Kegagalannya adalah kesalahan saya menginput data yang mengharuskan saya meng-scan dokumen asli, ini yang saya unggah adalah hasil scan-an dokumen kopian yang dilegalisir. Dari permintaan persyaratan yang harus dipenuhi saja, saya sudah tidak masuk hitungan. Hadeh!
Oke, patah tumbuh hilang berganti! Gagal di Kemenkumham, masih ada slot pembukaan CPNS lainnya! Pikir saya mantap. Dan benar! Tiba-tiba pembukaan CPNS seperti hujan di musim penghujan: bertubi-tubi ga berhenti! Lalu saya terjebak di antara banyak pilihan. Bingung memilih! Akhirnya saya memilih Bekraf, alias Badan Ekonomi Kreatif. Selain baru kali ini saya dengar nama lembaga tersebut, menjadi pelaku ekonomi kreatif dalam kurun waktu 5 tahun ini membuat saya tidak terlalu passionate lagi berbicara tentang politik, meski saya lulusan dari Sospol. 
Jadi saya lulus seleksi administrasinya. Tapi tidak lulus seleksi tertulisnya dengan alasan yang sudah saya kemukakan di atas, yakni wawasan kebangsaan saya... so POOR! Namun demikian, mantan calon kantor saya itu tetap membuat saya bergairah. Begini, saya belum pernah sedemikian "inginnya" menjadi bagian dari sesuatu seperti ketika saya mendaftar menjadi CPNS di Bekraf. Jadi, meski saya gagal. Saya masih rajin mantengin tweet-tweet dari Bekraf di twitter. Sesekali pula saya masih membuka website-nya. Hihihi... 

Tentang CPNS dan Suami Yang Mendukung (Meski Saya Gagal Untuk Kesekian Kali)
Meski saya gagal, tapi rangkaian kejadian tes CPNS memang seru! Suami saya yang menemani saya tes ke Surabaya kemarin. Dengan mengendarai BMW tahun 1997, berdua kami melaju menembus kabut pagi menuju Surabaya dari Malang. Untuk pertama kalinya suami mengendarai mobil melaju ke Surabaya, karena sebagai seorang prajurit, tak mudah ia kemana-mana tanpa yang namanya SIJ alias Surat Izin Jalan. Ooooh iya, suami saya taat peraturan. Dia ANTI keluar wilayah Malang tanpa SIJ, dan tanpa woro-woro dulu ke senior dan komandan tempatnya berdinas. Jadi, setelah suami saya mendapat acc untuk keluar mengantarkan istri tercintanya tes CPNS (lalu gagal), maka barulah ia berani pergi mengendarai mobil.

Jujur, ini juga merupakan pengalaman kami yang pertama kali menggunankan e-toll card. Ternyata Indomaret Card saya berguna juga akhirnya. Soalnya selama perjalanan ke Surabaya, kami full menggunakan jalan tol, dan jalan tersebut mengharuskan kami membayar jasa penggunaannya dengan menggunakan money electronic. Sepanjang jalan kami lalui macam dua kekasih masih belum terikat catatan sipil. Sementara anak-anak kami tinggalkan di rumah bersama rewang. Ya, mau gimana lagi? Kalau kami bawa justru kasihan anak-anak. Kasihan karena tipe kondisi iklim di Surabaya yang berbeda drastis dengan Malang. 

Seusai tes, kami tidak langsung pulang ke Malang. Kami melipir sebentar ke Tunjungan Plaza. Belanja? Enggak, cuma melihat peradaban. Secara di Malang, enggak ada mall bertingkat dengan koleksi stand merk internasional seperti di Surabaya.
Jadilah kami berdua seperti anak ayam kehilangan induknya karena celingak-celinguk keheranan melihat beragam manusia dengan gaya yang hampir mendekati gaya The Jakartan (baca: orang Jakarta).
Setelah puas berkeliling lalu membeli cokelat monggo which is my husband's favorite, kami singgah makan Bakmi GM dan menyantap semangkuk gelatto harga 50,000 sembari membahas tes tadi yang na'udzubillahmindzalik susahnya. Suami saya menggodai saya beberapa kali untuk segera move on dari tes tadi. Tapi kan saya orangnya susah move on! Mana bisa?!

Akhirnya setelah perut kenyang, kami pun pulang kembali ke Malang dengan menggunakan aplikasi google maps yang membantu mengarahkan kami. 
Perjalanan kami ini bukan tanpa ada bumbu drama beberapa kali. Yang tadinya janji berangkat jam 04.30 pagi, kami harus mundur jadi jam 5.00 karena rewang kami baru nyampe di rumah sekitar jam 4.55. Wajah suami sudah membete, dan saya juga sudah ketar-ketir takut terlambat. Perjalanan Malang - Surabaya memang hanya memakan waktu 1.30 menit dengan jarak kurang lebih 100km-an. Namun, aktifitas berlalu lintas yang padat bisa menurunkan kecepatan berkendaraan kami, jadi sebaiknya lebih cepat dan lebih pagi berangkat, berarti lebih cepat sampainya. 

Oke deh, mungkin itu beberapa hal yang bisa saya reka dan cerita ulang, sebelum ingatan saya ini musnah dimakan waktu. Etcieeeee...

Cheers,
Yoan.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...