03 Februari 2017, namun kalender 2017 pun belum punya. Apa kata yang tepat untuk menyimpulkan saya selain susah move on?
Menariknya adalah bukan hanya saya yang ternyata seperti itu. Rekan-rekan juga banyak yang belum punya kalender 2017, entah karena memang malas beli jadi tinggal nunggu pembagian saja, atau sedang riweuh alias aktifitasnya sedang padat merayap. Memang awal tahun 2017 ini, kedinasan suami disini disibukkan dengan aneka sertijab Komandan kemarin. Rangkaian kegiatan sertijab akan seabrek. Lelah? Pasti. Tapi sudah biasa. Dan lagipula hanya sekali sewaktu-waktu.
Nah, saya mau cerita tentang aneka perubahan di awal tahun dalam kehidupan saya dan keluarga. Begitu banyak kejadian di akhir tahun yang berdampak tentunya di awal tahun ini bagi kami.
Mulai dari perut yang saya yang semakin besar. Hey, bobot saya sudah 81kilo, Cintaa! Sebentar lagi saya akan melahirkan seorang bayi laki-laki lagi. Yay! Tentunya ini akan membuat perubahan dalam hidup kami sebagai keluarga. Suami saya jadi ayah dari 2 anak. Saya pun jadi ibu dari 2 anak. Puji Tuhan! Semoga dilancarkan dan sehat walafiat semua.
Mulai dari perut yang saya yang semakin besar. Hey, bobot saya sudah 81kilo, Cintaa! Sebentar lagi saya akan melahirkan seorang bayi laki-laki lagi. Yay! Tentunya ini akan membuat perubahan dalam hidup kami sebagai keluarga. Suami saya jadi ayah dari 2 anak. Saya pun jadi ibu dari 2 anak. Puji Tuhan! Semoga dilancarkan dan sehat walafiat semua.
Kemudian saya juga sudah diberhentikan dari kepengurusan PIA AG Ranting 02 Cab 3 Daerah II Skadron Udara 32. Alasan Ibu Ketua alias Ny. Sugeng Budiono adalah agar saya bisa istirahat dulu. Matursembahnuwun, Ibu! Jujur saja dengan perut besar dan badan besar seperti ini, langkah saya semakin terseok-seok dan juga tidak mudah lagi bagi saya untuk mengerjakan tugas serta tanggungjawab. Lagipula sebentar lagi saya pun akan cuti melahirkan. Sementara untuk kegiatan keorganisasian kan tidak mengenal cuti.
Awal 2017 ini juga membuat saya tak henti mengucapkan terimakasih kepada TUHAN untuk setiap hal sepele yang boleh terjadi. Biasanya sih saya ga terlalu gimana terhadap hal sederhana atau sepele yang boleh terjadi, tapi kali ini berubah.
Ketika suami saya boleh terbang dan kembali dengan selamat, saya tak habisnya mengucap syukur. Menciumi dan memeluknya. Biasanya dulu yah biasa. Suami pergi terbang, pulang dan yah sudah.
Kali ini berbeda.
Kemarin ketika suami RON di Pontianak, saya nitip rambutan sama Mama. Kebetulan lagi musim buah rambutan. Wah, si Mama malah ngepacking banyak hal: rambutan, manggis, pete (oh yeah baby), jeruk sambal, ikan tongkol goreng, dan sambal goreng tahu-tempe-udang pake pete khas Mama.
Saya terkikik geli tapi dalam hati mengucap syukur lagi. Tak semua anak yang masih punya orangtua bisa seperhatian ini, atau tak semua anak masih bisa merasakan perhatian orangtua seperti yang saya rasakan ini.
Ketika suami saya boleh terbang dan kembali dengan selamat, saya tak habisnya mengucap syukur. Menciumi dan memeluknya. Biasanya dulu yah biasa. Suami pergi terbang, pulang dan yah sudah.
Kali ini berbeda.
Kemarin ketika suami RON di Pontianak, saya nitip rambutan sama Mama. Kebetulan lagi musim buah rambutan. Wah, si Mama malah ngepacking banyak hal: rambutan, manggis, pete (oh yeah baby), jeruk sambal, ikan tongkol goreng, dan sambal goreng tahu-tempe-udang pake pete khas Mama.
Saya terkikik geli tapi dalam hati mengucap syukur lagi. Tak semua anak yang masih punya orangtua bisa seperhatian ini, atau tak semua anak masih bisa merasakan perhatian orangtua seperti yang saya rasakan ini.
Menikmati berkat yang TUHAN berikan lewat tangan-tangan orang yang saya kasihi malah mengingatkan saya bahwa hidup ini takkan berlangsung lama. Sebentar saja bisa saya nikmati. Maka dari itu, saya harus bisa memaknainya lebih. Suatu hari nanti, entah kapan... kenikmatan-kenikmatan pinjaman seperti ini kan berhenti.
Makin bertambah usia saya semakin realistis tapi juga penuh pengharapan. Maksudnya gini lho... mudahnya saya pengin kaya. Saya berharap kaya. Tapi berharap saja tidak cukup, saya harus realistis dengan berusaha agar hemat, dan cari tambahan lain.
Berpengharapan dan realistis. Jadi tidak kecewa jika yang diharapkan tak terjadi bila mengingat usaha tak seberapa tapi maunya ya serba berkelebihan.
Berpengharapan dan realistis. Jadi tidak kecewa jika yang diharapkan tak terjadi bila mengingat usaha tak seberapa tapi maunya ya serba berkelebihan.
Tentang Perubahan
Saya menyadari bahwa hidup sekarang ini sangat tak bisa diprediksi. Begitu banyak perubahan yang tak terduga.
Satu-satunya cara untuk survive/bertahan adalah mampu beradaptasi terhadap perubahan itu sendiri.
Misalkan hari ini kita terbiasa makan nasi, besok kalau nasi tidak ada, kita masih bisa hidup meski hanya makan dengan ubi atau roti sepotong.
Saya menyadari bahwa hidup sekarang ini sangat tak bisa diprediksi. Begitu banyak perubahan yang tak terduga.
Satu-satunya cara untuk survive/bertahan adalah mampu beradaptasi terhadap perubahan itu sendiri.
Misalkan hari ini kita terbiasa makan nasi, besok kalau nasi tidak ada, kita masih bisa hidup meski hanya makan dengan ubi atau roti sepotong.
Saya kebetulan adalah tipe yang sanggup untuk bertahan dalam segala kondisi. Bukan sok-sokan tapi memang sedari kecil dilatih secara tidak sadar oleh orangtua.
Orangtua saya adalah kelas pekerja. Buruh. Saya terbiasa diantar jemput naik mobil atau motor kalau ke sekolah, tempat les, atau bahkan main ke rumah teman. Naik angkot sih bisa tapi ga pernah dibiasain orangtua. Jadi boleh dibilang tingkat ketergantungan saya pada ortu itu tinggi. Hingga... suatu hari hidup indah saya itu berakhir ketika ortu pindah kerja ke daerah.
Disitu saya dipaksa belajar untuk bisa ngendarain motor maupun mobil.
Tabrakan demi tabrakan terjadi.
Luka demi luka di badan mau ga mau dialami.
Biaya perbaikan kendaraan begitu banyak habis.
Tapi mau tidak mau saya harus belajar untuk dapat menggantikan orangtua saya mengantari adik-adik saya.
Orangtua saya adalah kelas pekerja. Buruh. Saya terbiasa diantar jemput naik mobil atau motor kalau ke sekolah, tempat les, atau bahkan main ke rumah teman. Naik angkot sih bisa tapi ga pernah dibiasain orangtua. Jadi boleh dibilang tingkat ketergantungan saya pada ortu itu tinggi. Hingga... suatu hari hidup indah saya itu berakhir ketika ortu pindah kerja ke daerah.
Disitu saya dipaksa belajar untuk bisa ngendarain motor maupun mobil.
Tabrakan demi tabrakan terjadi.
Luka demi luka di badan mau ga mau dialami.
Biaya perbaikan kendaraan begitu banyak habis.
Tapi mau tidak mau saya harus belajar untuk dapat menggantikan orangtua saya mengantari adik-adik saya.
Berbicara tentang perubahan selalu tidak mudah untuk dilakukan. Transisinya itu yang membuat kita seringkali tidak nyaman. Namun, percayalah bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu selalu berdampak menyenangkan.
Anyway, kok saya jadi ngelantur begini?
Hehe. Selamat bulan Februari ya, Sahabat!
Anyway, kok saya jadi ngelantur begini?
Hehe. Selamat bulan Februari ya, Sahabat!
Comments
Post a Comment