Skip to main content

Diselamati atau Tidak, Natal Tetaplah Natal

Ada yang menarik dari perayaan Natal tahun ini di Indonesia. Di tengah memanasnya suasana keberagaman di Tanah Air, toh perayaan malam Natal dan Natal kemarin dapat berlangsung dengan baik, aman, dan khusyuk. Setidaknya di Ibukota Jakarta, tepatnya di GKPO Halim Perdanakusuma - Jakarta Timur.

Kemarin ketika kami hendak menuju ke gereja, berbagai elemen masyarakat dari polisi, ormas (entah Pemuda Pancasila atau FKPPI, Saya lupa), bahkan adik-adik pramuka ikut mengamankan dengan menata lalu lintas, membantu memeriksa tas yang dibawa jemaat sebelum masuk ke gereja. Saya tidak tahu apakah mereka diberi kompensasi atas bantuannya atau tidak sama sekali, bagi saya kerelaan mereka meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu sangatlah saya apresiasi.
Saya sangat terharu melihat perempuan-perempuan berjilbab berseragam ormas maupun pramuka turun tangan bahu-membahu mengamankan kegiatan ibadah kami kemarin.
Sungguh Natal 2017 ini sangatlah mengharukan.

Ucapan Selamat Natal
Dan tahun ini pula saya menerima ucapan Natal yang sangat banyak, lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya sejak saya meninggalkan bangku SMA. Ucapan ini malah banyak datang dari kalangan rekan-rekan yang beragama non-Nasrani.
Sebenarnya saya juga tak mengharapkan ucapan selamat, karena bagi saya pribadi diucapkan atau tidak, hari tersebut tetaplah Natal.

Sama halnya dengan ulangtahun. Anda berulangtahun, lalu saya menyelamati Anda. Apakah saya harus merayakan ulangtahun tersebut dulu baru saya mengucapkan selamat?
Saya menyelamati Anda yang berulangtahun karena saya turut bahagia melihat Anda bertambah usia, bukan karena saya mengalami usia saya yang bertambah juga. 😊

Sama halnya dengan Natal. Natal itu lahir. Merayakan kelahiran Sang Juruselamat. Anda tak perlu mengimaninya. Ucapan selamat ya selamat saja. Memang ada yang menggelikan ketika saya diselamati: "Selamat Berbahagia..." oleh beberapa orang kenalan saya.
Lah saya bingung dong. Selamat berbahagia atas apa? Atas kenaikan gaji? Atas usia yang bertambah? Atau apa? Barulah saya telisik, ya selamat berbahagia karena merayakan hari raya. Tapi mungkin mengucapkan Selamat Berbahagia Atas Kelahiran Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat-mu dirasa sangat berat dan dapat mengganggu keimanan dan ketakwaannya atas keyakinan yanh dianutnya. Atau memang barangkali di keyakinan yang dianutnya itu mengucapkan selamat = meyakini. Entahlah. Saya juga tidak ambil pusing. Bagi saya, diselamati atau tidak Natal ya tetap Natal bagi saya. Sebuah hari dimana saya diingatkan bahwa telah lahir Sang Juruselamat bagi saya dan anda yang mau meyakininya. Yang tidak meyakininya, tidak usah ambil pusing ya.

Cheers,

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...