Suami saya memasuki ruang terapi untuk kesekian kalinya. Saya masih menunggui dirinya dengan setia dan mesra di deretan bangku panjang di depan meja panjang bertanda Loket Karcis Rehabilitasi Medik di RSSA.
Setahun lebih sudah suami saya menderita bells palsy. Penyakit yang disebabkan virus yang terjadi pada wajah yang terpapar angin atau AC sehingga menyebabkan sebelah wajah bisa kaku. Penyakit tersebut tidak berbahaya, tapi cukup bikin resah. Sampai saat ini suami belum kunjung sembuh juga. Tapi tulisan ini tidak akan memuat tentang bagaimana mencoba sabar menghadapi semua, saya malah mau cerita tentang bagaimana saya akhirnya memahami bahwa ini adalah bagian dari cara Tuhan mendewasakan dan memesrakan kami berdua. 😊
***
Saya dan RS, inisial nama suami saya tergolong dua manusia paket cepat kilat yang memutuskan berumahtangga. Oktober 2011 memutuskan menjalin hubungan serius setelah sebulan saja berkenalan. Lalu Februari 2014 memutuskan berumahtangga. Tidak seperti pasangan lainnya yang masih sempat mengadakan foto pre-wedding dan bulan madu, kami sama sekali tidak sempat begitu-begituan. Selain karena keterbatasan waktu, jarak, juga secara finansial pada waktu itu.
Hal-hal semacam itu yang katanya bisa membuat rekat, kami tidak punya. Awal berumahtangga juga, kami diujicoba dengan banyak masalah, baik faktor internal maupun eksternal. Kemelekatan kami diuji. Dua anak manusia yang diajar dan dihajar Semesta di tempat rantau yang jauh dari keluarga untuk mengelola konflik dan gesekan demi gesekan yang terjadi.
Tahun demi tahun kami lewati. Masalah tak juga berhenti. Ibarat berlari estafet, selesai 1 putaran toh masih harus lanjut lagi.
Modal kami cuma 1: doa. Dalam doa ada tangis yang menyertai, ada harapan yang kami isi, ada cinta yang kami sisipi, dan tentunya doa tersebut harus kami imani.
Menjalani nyaris 5 tahun kehidupan berumahtangga, dengan berbagai cerita kehidupan yang ada, kami semakin mesra. Suatu hari, saya mengantar suami saya setelah bolak balik dari berkegiatan dahulu, lalu masih harus menemaninya terapi pijat tradisional. Saya bisa saja menunjukkan ekspresi kebosanan, kemarahan dan kelelahan saya padanya. Tapi itu tidak terjadi lagi. Kalau dulu, jelas iya! Saya takkan segan berkata kasar padanya. Tapi apa gunanya memarahi dan menyakitinya? Toh suami saya ini adalah bagian dari diri saya. Masa saya tega menyakiti bagian dari diri saya?
Laiknya kita yang mencintai dan merawat diri sendiri, RS pun saya perlakukan demikian. Saya mengubah pola pikir saya. Saya lebih jujur juga padanya. Kesembuhan RS adalah prioritas saya. Tanpa kami berdua sadari, Tuhan menciptakan kemesraan demi kemesraan yang boleh kami rasakan. Saya yang tak tega apabila RS menjalani pengobatannya sendiri, atau RS yang lebih percaya diri bila saya yang menemaninya.
Setiap kelemahan yang Tuhan izinkan RS alami, justru malah menjadikan saya 'kuat'. Kuat dalam arti saya semacam diberi semangat dan motivasi dobel dalam menjalani hari. Saya termotivasi untuk menjadi lebih baik, dan terus berusaha meningkatkan kualitas diri.
Ketika kemarin saya lelah sekali, RS memijat lembut punggung saya hingga saya terlelap dalam pelukannya. Di dalam pelukannya yang sangat nyaman dan hangat. Saya tahu RS berbadan besar, dadanya bidang, tapi baru malam kemarin saya mengakui bahwa dekapannya itu memberi kehangatan yang benar-benar memberi keamanan dan kenyamanan.
Saya bukannya tidak pernah marah dan kesal kepada Tuhan untuk setiap cobaan yang IA sengaja beri. Namun, semakin sering IA memberi cobaan, saya belajar melembutkan hati dan mencari tahu hikmat atau pelajaran apa yang IA sengaja beri.
Tuhan mungkin tidak ingin kami mesra ketika keadaan finansial baik, Tuhan ingin dalam keadaan susah pun kami bisa mesra.
Tuhan tidak ingin kami intim di kala kami sehat, Tuhan ingin kami tetap intim bahkan di kala kami sedang sakit.
Tuhan ingin menguatkan kami dan membiat kami bahagia justru bukan para saat keadaan tengah baik, namun sebaliknya. IA memberi kami pilihan, dan kami memilih untuk bagian tersulit namun dengn keyakinan bahwa ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan.
Semoga kita semua yang telah berkeluarga yang tengah dicobai tetap setia, tetap kuat dan tetap mesra selalu...
Comments
Post a Comment