Skip to main content

Kita Yang Takkan Pernah Siap

Ada hal unik yabg terjadi pagi tadi di WA grup alumni SMA. Seorang rekan berinisial E menuliskan ulang berita yang didapatnya, informasinya kuranglebih mengenai betapa tidak adilnya sikap mayoritas kepada minoritas di negara tersebut.

Lalu E ini diperingatkan bahwa jika ingin memposting berita tersebut sebaiknya di grup lain, tapi E ini ngotot. Tujuan E mempostingnya untuk menyuarakan dan mengajak rekan-rekan lainnya (mungkin lho ya) agar memiliki simpati yang sama dan mengecam aksi yang dilakukan mayoritas di negara tersebut.

Kami yang tidak memiliki ide yang sama cenderung diam. Tapi ada yang menarik. Satu orang berinisial P mengambil suara. Dia bersuara. P yang notabene sudah harus hidup di negara lain sejak 2007, hidup dengan kultur budaya lain, dan harus hidup dengan orang-orang yang bukan lagi berbeda kepercayaan tentang Tuhan TAPI memilih tidak ber-TUHAN -- mengajak E berdiskusi melalui jaringan pribadi. Tak lama E memilih keluar dari grup kami itu.
Selanjutnya rekan-rekan di grup membahas hal-hal lainnya seperti makanan, bisnis, dan sebagainya yang membuat grup menjadi lebih semarak.

Selesai? Tidak bagi saya.

Kasus tersebut mencerminkan banyak hal, dan saya merangkumnya begini: bahwa kita pada dasarnya mungkin belum siap betul dengan perubahan dan perbedaan. Perbedaan dan perubahan adalah realita! Fakta! Tapi kita memilih untuk tidak membicarakannya karena takut hal itu akan menyinggung.

Dalam hidup ini, sampai kapanpun dan dimanapun kita akan menyinggung. Yang namanya berdampingan pasti akan bersinggungan, untuk itu dibutuhkan sikap yang dewasa, akhlak yang mulia, mampu menyeimbangkan antara emosi dan nalar.

E tak salah. Ia hanya berniat membawa isu tersebut untuk membuat kita melek. Salahnya adalah dia membawa isu itu di grup alumni sekolah, yang notabene kebanyakan yang berkeyakinan mayoritas ketimbang minoritas. Kebanyakan mayoritas tanah air masih merangkul satu sama lain. Meski tak dapat dipungkiri, ketidakadilan yang terjadi masih menjadi PR bersama.
Salahnya lagi adalah E memilih left group. Karena dianggap tidak sepemahaman, maka ia memilih pergi. Ia tak siap dengan realita.

P juga tak salah.
Yang salah adalah kita yang memang pada dasarnya belum siap. Belum siap dengan perubahan, belum siap dengan perbedaan, belum siap dengan banyak hal.

Pertanyaannya adalah mau sampai kapan? Dunia semakin kecil. Jangan-jangan pikiran kita ikut mengkerdil?

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...