The one you are compete with is yourself!
Kira-kira begitu kata-kata dari orang bijak yang saya lupa siapa pencetus pertama kalinya. Saya lahir dan besar dengan lingkungan yang selalu menyuruh saya untuk menjadi pemenang, bahwa saya ini adalah bagian dari sel pemenang dari sekian milyaran sel lainnya. Pemahaman bahwa dunia ini adalah ajang kompetisi adalah hal yang terus-menerus ditanamkan dan ditelan oleh alam bawah sadar saya, sehingga seringkali timbul ketakutan jika saya kalah dari orang lain, jika saya lebih lambat/lebih bodoh/lebih miskin/dan lebih-lebih lainnya yang sarat dengan hal negatif lainnya dari orang lain.
Saya takut kalau saya lebih bodoh.
Saya takut kalau saya kalah cantik.
Saya takut kalau saya kalah pintar.
Saya takut kalau saya terlihat lebih miskin.
...
dibandingkan dengan...
orang lain.
Ketakutan atau kekhawatiran tersebut membuat saya tidak tenang dan tidak santai dalam menerima hidup ini. Padahal bisa hidup saja merupakan suatu berkat. Bukankah begitu?
Hidup adalah tentang mempunyai waktu.
Waktu adalah kesempatan.
Kesempatan untuk mendapatkan apapun, termasuk kebahagiaan dan ketenangan.
***
Lucu rasanya ketika kita merasa tersaingi atau tersisih jika kita tidak termasuk dalam suatu golongan tertentu. Keinginan untuk diakui kita terlalu besar sehingga kita menjadi manusia yang egois. Egois jelas salah karena lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan orang lain tanpa batas. Apapun kita lakukan agar kita diakui. Entah itu diakui lebih cantik, lebih seksi, lebih pintar, lebih kaya, dan sebagainya.
Tidak salah memang, tapi njuk ngopo?!
Saya akui saya pernah menjadi bagian dari orang macam itu. Ingin diakui! Dan marah bila tidak diakui! Lantas terus timbul pertanyaan, kalau diakui terus kenapa? Dan kalau tidak diakui pun... ya kenapa memangnya?
Jika kita tetap bertahan dengan ego yang kita pelihara ini, nanti lambat laun kemudian melahirkan kesombongan-kesombongan kecil yang menjadi kanker ganas.
TUHAN rupanya tidak kasih saya kesempatan untuk sombong. Kalaupun ada kesombongan kecil, IA langsung matikan bibit-bibit tersebut dengan bentuk musibah, penyakit, kesulitan, hambatan, dan sebagainya dalam hidup saya maupun keluarga.
IA kembali memurnikan diri saya. IA mengingatkan diri saya kembali bahwa kekhawatiran receh saya itu berbahaya dan harus segera diakhiri.
Menjadi seseorang yang baru belajar untuk merendahkan hati dan mengakui bahwa masih banyak langit lain yang lebih tinggi dari langit saya itu jelas sulit dan tidak mudah. Namun, dengan menyuntikkan diri melalui bacaan, film, persoalan dalam hidup, dan bahkan mendengarkan cerita dari orang-orang yang kita temui dan mau berbagi dengan mereka pun ternyata bisa melunturkan "keakuan" saya dan mulai berpikir bahwa tidak masalah sebenarnya jika memang pada kenyataannya ada banyak manusia di sana yang LEBIH baik/cantik/menarik/pintar/baik hati/berbudi luhur dan sebagainya dari kita.
Masalahnya adalah bukan berkompetisi dengan menjadi seperti atau lebih dari mereka. Tapi berkompetisi dengan "keakuan" kita sendiri.
Apakah kita dapat menjadi yang lebih baik dari versi diri kita sendiri secara terus-menerus?
Apakah kita bisa berkolaborasi mensinergiskan kemampuan kita yang saling berbeda ini dengan orang lain?
Apakah kita bisa dengan jujur mengakui bahwa selalu ada orang lain yang lebih dari kita, begitu pula sebaliknya?
Kita tidak sedang berkompetisi dengan siapapun.
Bahkan sedari kita yang katanya sebuah pemenang, pun sebenarnya hanya melawan sel-sel lainnya yang toh merupakan bagian dari kita sendiri juga.
Comments
Post a Comment