Skip to main content

Sebuah Kegelisahan Seorang Istri Prajurit TNI (which is me, others IDK)

Malam ini saya tidak bisa tidur. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Saya sempatkan menuliskannya agar keresahan di sanubari ini bisa terobati sedikit. Sebenarnya isu ini berulangkali singgah di kepala, tapi hati saya masih meragu apakah menuliskannya atau tidak? Malam ini saya tulis saja. Kalaupun mau dikomplain, ya silahkan kita beradu argumen. Memang ini yang saya rasakan dan resahkan.

Yuk mari!

Sempat saya goreskan keresahan saya ini di cuitan saya di akun twitter saya @sinaga_mrs .
Ngeliat ada istri prajurit TNI ga mau nyalam pria yang bukan muhrimnya bikin aku berpikir. Ada yang aneh, tapi aku engga tahu menjelaskannya mesti gimana.

Memang ada yang aneh. Bagaimana bisa seseorang yang mengaku sebagai istri prajurit tapi dalam prakteknya membuat perbedaan perlakuan atas dalil agama tertentu?
Saya tidak bisa menarasikannya lebih jauh karena keterbatasan kosakata. Saya hanya berpikir, ketika kita terjun ke dalam suatu instansi/institusi, sebut saja seperti dalam dunia kesehatan, militer, dan mungkin lainnya yang mana terdapat lintas etnis, agama, dan budaya, artinya kita tidak bisa menjadi pribadi yang saklak atau kaku. Maafkan logika saya yang sangat terbatas dalam memahami sesuatu, cuma saya berpikir hal sederhana saja. Apabila suatu hari nanti istri prajurit ini berkesempatan menjabat tangan seorang Presiden, lantas apakah ditolaknya?

Hal lainnya lagi yang saya jumpai selama empat tahun ini menjadi seorang istri prajurit TNI AU adalah setiap kali Natal tiba, jarang sekali saya diberi ucapan selamat merayakan Natal. Kalaupun ada yang mengucapkan selamat, mereka hanya bilang : "Selamat BERBAHAGIA."
Ketika saya tanya berbahagia karena apa, mereka lebih suka ngeles. Ya ampun! Sedemikian berbahayanya kah mengucapkan selamat Natal? Sempat saya tuliskan pada postingan saya yang berjudul Diselamati atau Tidak, Natal Tetaplah Natal ,bahwa analogi dalam mengucapkan selamat natal itu sama artinya dengan kita mengucapkan selamat berulangtahun kepada sahabat, teman, keluarga kita yang merayakan ulangtahun. Bukan berarti dengan kita mengucapkan "selamat ulang tahun ke 30" kepada teman kita, lantas kita akan ikut-ikutan berusia 30! Come on!

Soal lainnya yang membuat saya mengurut dada juga adalah ketika sesama istri tentara yang berkeyakinan sama menghardik rekannya yang belum memakai jilbab sebagai penutup aurat, "pakai dong biar soleha..."
Saya makin tidak mengerti makna dari memakai jilbab itu sebenarnya apa. Kalau sekedar ikut-ikutan ya buat apa? Tapi sudahlah, saya yang termasuk golongan ring luar ini tidak berhak berkomentar banyak.

Yang saya tahu seharusnya seorang istri pun dibekali pemahaman tentang multikulturalisme. Bagaimana hidup berbangsa dan bernegara yang baik. Tidak cukup hanya suami saja yang didoktrin NKRI Harga Mati! Lah, wong para istri juga harus! Bagaimana mungkin keturunan dari prajurit TNI bisa mencintai bangsa ini apabila ibu dari anak-anak para prajurit ini tidak diberi pemahaman yang benar tentang pancasila. Bahwa dalam negara ini terdapat banyak keyakinan, banyak suku bangsa, dan banyak hal lainnya yang membuat Indonesia bisa menjadi seperti ini.

Jangan bicara tentang terorisme, bangkitnya PKI, dan sebagainya. Jangan! Terlalu jauh! Lihat, dan awasi para istri juga. Jangan-jangan malah kita sendiri sebagai istri yang membuat generasi kita ini mengalami dekadensi.


Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...