Skip to main content

Sesuatu Tentang Malang

"Menurutmu mana yang lebih enak: Jogja atau Malang?" Tanya Mama suatu sore ketika kami sedang berkendara berdua di tengah keramaian Malang.

Saya terdiam. Merenung untuk membandingkan dua kota bersejarah ini. Bagaimanapun dua kota ini bukan kota-kota yang pernah terpikirkan untuk saya singgahi dalam kurun waktu lama. Dua kota ini semacam takdir untuk saya pernah huni.

"Hmm, mana ya Ma..." saya mulai sulit berkata-kata, ibarat orang terjebak dalam nostalgia mantan yang lama.

"Sepertinya Malang lebih nyaman." Celetuk Mama. Saya mengernyitkan dahi.

"Bagian mananya?" Tanya saya pertanda tak setuju.

"Liat saja betapa banyaknya bangunan gereja di sini. Gereja dan Masjid bisa tinggal berdampingan tanpa huru hara." jawab Mama.

Seketika itu juga saya terdiam. Membenarkan pernyataan beliau namun masih dalam posisi berpikir. Saya mengingat masa-masa hidup di Jogja sekitar 10-12 tahun silam. Saya membayangkan betapa murah dan mudahnya hidup di Jogja sebagai mahasiswa. Saya kemudian membandingkan hidup saya yang dulu dengan hidup saya sekarang di Malang ini. Terbukti memang! Hanya dengan uang 30 ribu saja, saya sudah bisa makan enak dengan catatan masak sendiri. Namun, dengan membeli lauk pun uang sebesar 30,000 pun masih tergolong cukup meski tidak mewah.

Untuk wisata, Malang punya sejuta alasan mengapa harus menghabiskan pundi-pundi uang disini. Bahkan wisata kulinernya pun tidak usah lagi dijabarkan karena telah banyak yang mengulas nikmatnya kuliner Malang dan itu benar adanya.
Tapi yang tak kalah pentingnya selain biaya hidup yang masih tergolong murah meriah, adalah kerukunan umat beragama di Malang yang luar biasa! Jujur, saya belum pernah melihat sekelompok muslim (mereka menamakan diri sebagai Gusdurian Malang) bisa duduk betah tenang di gereja pada saat perayaan Natal di salah satu gereja di Malang tanpa merasa risih.
Belakangan saya baru mengetahui bahwa hal tersebut biasa terjadi di Malang ini bahwa baik yang muslim maupun non muslim saling mengunjungi, bahkan diminta mengisi rangkaian kegiatan dengan hal-hal yang tentunya tidak bersinggungan dengan ajaran masing-masing agama.

Saya merasa malu sendiri. Selama 4 tahun bertumbuh dan menumpang hidup di Malang ini, saya ternyata belum banyak mengamati dan sibuk dengan keseharian saya sendiri sehingga abai dan lalai terhadap daerah sekitar. Malahan Mama saya yang baru saja menghabiskan waktunya di Malang bisa dengan jelas dan gamblang memetakan situasi dan kondisi di Malang.

"Malang ini juga subur. Sayang lahan kebun di rumah dinasmu tidak dimanfaatkan menanam sayur, cabe, tomat, ...." Mama mulai menasehati saya. Saya menurunkan kaca mobil, berharap deru bunyi mobil motor yang meraung bisa mengalahkan celotehan Mama. 
Sayup-sayup kata-kata menasehati Mama tentang berkebun mulai hilang berganti dengan omelan asap knalpot kendaraan yang mulai memenuhi mobil.


~

Comments

  1. memang lebih nikmat hidup di malang dibanding Jakarta , Jogja , bahkan Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, terimakasih telah mampir dan berkenan memberi jejak. Salam kenal. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...