Skip to main content

Menjaga Silaturahmi Menjadi Menjaga Diri Sendiri

Menyapa harusnya tak membuat harimu rusak. Tapi kemarin seharian saya merenung karena menyapa seseorang. Sapaan saya via whatsapp tidak dibalas. Karena malas berpikir yang tidak-tidak ya sudah, saya delete chat saja.
Saya mencoba untuk tidak berasumsi jelek. Saya pikir mungkin dia sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membalas chat saya. (Sementara recent updates WA nya gencar yess!)

Menyapa meski isi sapaan tak seberapa signifikan mengindikasikan bahwa masih ada perhatian dan masih ada niat untuk menjaga tali silaturahmi. Menyapa merupakan bentuk komunikasi dengan harapan yang disapa akan memberikan umpan balik.
Sederhananya, komunikasi itu 2 arah. Kalau cuma 1 arah itu informasi.

Menjaga tali silaturahmi itu penting. Biar tidak slek, kata orang-orang. Dan persis! Di zaman yang makin 'jedun' ini, orang-orang bahkan saya jadi gampang sensi-an. Makanya saya menjaganya dengan berusaha bersikap bersahabat. Tapi kalau yang disikapi baik malah pongah dan jumawa, ya saya mundur teratur kalau gitu. Kalau 1, 2 bahkan 3x saya masih menampakkan senyum ala-ala kucing minta ikan asin, artinya saya masih menunjukkan itikad baik. Tapi kalau respon saudara malah jauh dari ekspektasi ya jangan salahkan saya ketika saya memilih untuk bodo amat.

Oh ini bukan tentang 'eye for eye', atau 'apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai', atau payback time alias balas dendam. Nope!

It is about taking a good care of my own feelings and time. Saya kemudian mengambil langkah prioritas. Sejak anda tak memperdulikan itikad baik saya, why should I care about you who don't deserve it?

Sesederhana itu? Iya.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...