Menyapa harusnya tak membuat harimu rusak. Tapi kemarin seharian saya merenung karena menyapa seseorang. Sapaan saya via whatsapp tidak dibalas. Karena malas berpikir yang tidak-tidak ya sudah, saya delete chat saja.
Saya mencoba untuk tidak berasumsi jelek. Saya pikir mungkin dia sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membalas chat saya. (Sementara recent updates WA nya gencar yess!)
Menyapa meski isi sapaan tak seberapa signifikan mengindikasikan bahwa masih ada perhatian dan masih ada niat untuk menjaga tali silaturahmi. Menyapa merupakan bentuk komunikasi dengan harapan yang disapa akan memberikan umpan balik.
Sederhananya, komunikasi itu 2 arah. Kalau cuma 1 arah itu informasi.
Menjaga tali silaturahmi itu penting. Biar tidak slek, kata orang-orang. Dan persis! Di zaman yang makin 'jedun' ini, orang-orang bahkan saya jadi gampang sensi-an. Makanya saya menjaganya dengan berusaha bersikap bersahabat. Tapi kalau yang disikapi baik malah pongah dan jumawa, ya saya mundur teratur kalau gitu. Kalau 1, 2 bahkan 3x saya masih menampakkan senyum ala-ala kucing minta ikan asin, artinya saya masih menunjukkan itikad baik. Tapi kalau respon saudara malah jauh dari ekspektasi ya jangan salahkan saya ketika saya memilih untuk bodo amat.
Oh ini bukan tentang 'eye for eye', atau 'apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai', atau payback time alias balas dendam. Nope!
It is about taking a good care of my own feelings and time. Saya kemudian mengambil langkah prioritas. Sejak anda tak memperdulikan itikad baik saya, why should I care about you who don't deserve it?
Sesederhana itu? Iya.
Comments
Post a Comment