Kita Takkan Pernah Bisa Bersikap Biasa Saja Pada Orang Yang Pernah Membuat Kita Yakin Bahwa Hidup Bak di Negeri Dongeng Itu Mungkin.
Saya menggambarkan Maret ini sebagai puncak dari kenangan dan kemenangan. Kenangan, entah itu sedih-senang-lucu-aneh-menggelikan, dsb. Kemenangan akan perasaan demi perasaan yang pernah menghantui.
Bulan ini adalah waktu dimana perasaan saya sempat khawatir akan banyak hal, sementara itu logika saya mengajak sebaliknya.
***
Dari adik saya baru saya tahu kalau seorang kawan lama telah kehilangan sosok wanita yang dicintai dan diidolakannya. Wanita itu saya kenal. Kami tak pernah bertemu, berjabat tangan bahkan menciumnya. Kami hanya pernah mendengar suara satu sama lainnya. Hangat dan sangat ... batak!
Saya takkan mampu menjabarkannya karena saya tau itu akan membuat luka kembali menganga. Saya tak tau apakah kawan saya itu pernah singgah mampir ke halaman saya ini atau tidak, tapi izinkanlah saya untuk mengucapkan turut berdukacita sebagai seorang yang pernah mengenalnya dekat. Saya takkan pernah mampu untuk menjamahnya secara personal lagi karena ini masalah janji saya dengan diri sendiri.
***
Saya dipertemukan pula dengan sosok terdekat suami dahulu sekali. Jauh sebelum saya dan suami bertemu dan mengikat janji.
Tiba-tiba beribu kenangan membanjiri. Kenangan yang tidak enak tentunya yang pernah terjadi di antara kami. Tentunya karena takdir mengharuskan begitu. Tak pernah ada putus yang baik-baik, kalaupun ada itu barangkali keduanya telah saling menemukan dan saling memaafkan. Kemungkinan lainnya, mereka tak terlalu cinta. Atau... mereka berusaha untuk melupakan. Namun, pernah ada bara yang ditoreh menjadi luka. Dan luka itu seringkali muncul bilamana kita bertemu kembali. Dan itu yang barangkali terjadi. Kita bisa baik-baik saja tanpa harus bertatap muka.
***
Saya pun belajar memahami bahwa kita pernah menjadi sosok yang dicintai dan digilai, lalu semuanya berubah ketika kita memilih keluar jalur. Kita memilih orang lain. Lalu kita berubah menjadi sosok paling dibenci.
Kita takkan pernah bisa bersikap biasa pada orang yang pernah membuat kita yakin bahwa hidup di negeri dongeng itu mungkin.
Kita mungkin pernah menjadi sosok yang memberi orang lain harapan, tapi harapan itu tak pernah berwujud kenyataan dan malah menjadi kepahitan.
Atas semua kenangan dari sosok-sosok masa lalu yang kini menjadi masa depan bagi pasangannya masing-masing, atau yang masih mencari, --kita semua telah mengalami kemenangannya masing-masing.
Kita memilih melanjutkan hidup dan tidak terkukung oleh satu orang atau satu lingkungan saja.
Tak perlu tegur sapa.
Tak perlu lagi tawa di wajah kita.
Karena kita telah menjadi dua orang asing yang pernah mencinta.
Yang pasti kita harus berbahagia.
Meski kebahagiaan itu terwujud ketika kita tak bersama.
Kebebasan tlah kita raih, meski perjalanannya sempat perih.
Tapi kita melaluinya...
Comments
Post a Comment