Skip to main content

Anak Sehat, Anak Kuat

"Karena pemahaman yang salah, temen-temen saya ga mau mengimunisasikan anak-anaknya. Alasannya haram. Saya berharap mereka melek informasi dan mau mengimunisasikan anak-anaknya lagi. Bukan apa, anak-anak saya kan bergaulnya dengan anak-anak mereka yang ga mau diimunisasi. Kalau mereka terjangkiti gimana?" Jelas saya ke temen saya yang sebut saja namanya Angela pada saat ceramah mengenai penyakit difteri di lingkungan TNI AU tadi pagi.
Angela tertawa sambil menggeleng.
"Ya Allah kejamnya, Mbak." Ujarnya menanggapi pernyataan saya yang dipertegas dengan pertanyaan itu.

Saya bukan pelopor gerakan pro vaksin. Saya bukan bermaksud melawan mereka yang tergolong komunitas antivaks yang belakang santer terdengar.
Saya cuma ibu dua anak yang ingin mempersiapkan generasi saya kuat dalam menghadapi dunia. Dan kita harus sepakat bahwa sehat dan kuat itu setali tiga uang.
Jadi saya kesal sekali ke para ibu yang menganggap sepele imunisasi.

Batuk rejan alias difteri yang kembali mewabah merupakan suatu kasus luar biasa. Harusnya tidak muncul lagi, tapi karena pemahaman yang salah yang dianut oleh orang-orang yang merasa  pintar sedunia maka penyakit tersebut muncul kembali & pemerintah direpotkan lagi dengan menggalakkan imunisasi kembali plus imunisasi bagi orang dewasa juga. (Hadeh! Mbok ya jadi manusia belajar memudahkan pekerjaan sesamanya tho yaaa... Kerjaan pemerintah itu ga cuma ini, Mbak dan Masnya! Gedhek dan gemes saya!)

Jadi dalam kesempatan tadi, saya memberanikan diri bertanya kepada pemateri yang kebetulan adalah dokter spesialis anak di RSAU dr. Munir yang biasa menjadi langganan anak-anak saya kalau sakit atau imunisasi.
Pertanyaan saya  intinya adalah: "Bagaimana perjalanan sebuah vaksin sehingga bisa dikatakan layak untuk disuntikkan ke tubuh manusia? Apa himbauan dokter bagi kami agar tidak menjadi orangtua antivaks karena menganut pemahaman yang kurang tepat?"

Sebenarnya jawaban tersebut gampang. Tinggal masukkan kata kunci dalam kolom mesin pencari google, dan TADAAA... jawaban akan keluar. Tapi saya ingin dokter Muchlis (nama pemateri) menjelaskannya dari kacamata beliau sebagai seorang dokter, dan sebagai seorang muslim yang cendekia.
Agaknya beliau paham dengan maksud saya menanyakan hal tersebut, lalu beliau menjelaskannya dengan rinci bahwa imunisasi oleh MUI dipandang pengecualian. Memang ada beberapa imunisasi (tapi bukan DPT yang mengandung Difteri) yang memiliki enzim babi (saya lupa apakah enzim atau bagian apa dari babi yang penting dalam pembuatan vaksin), dan sampai sekarang nanya babi satu-satunya hewan yang memiliki unsur penting yang dibutuhkan untuk pembuatan vaksin. Pemberian imunisasi dinyatakan boleh oleh MUI.

Jadi bagi anda-anda yang masih bersikeras tidak mau mengimunisasikan anak-anaknya, segera bertobat. Jangan sampai terlambat.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...