Skip to main content

Tetap Bersemangat

"Saya suka liat Ibu! Penuh semangat selalu!"
"Ibu cantik selalu semangaaaaat!"
"Suka nengok semangat Ibu!"
dan sebagainya-dan sebagainya

Mereka, Ibu-ibu anggota tempat kesatuan suami berdinas mengenal saya sebagai perempuan yang bersemangat. Jujur, disebut sebagai perempuan bersemangat adalah prestasi bagi saya. Ketika kita bersemangat, kita menularkan hal positif kepada orang-orang di sekitar kita. Ketika kita bersemangat, hal yang tampak berat mendadak ringan dan kita malah tidak terlihat lelah sama sekali. 

"Tetap Bersemangat" menjadi semboyan Sekolah Katholik Santo Petrus dibawah Yayasan Pendidikan Kalimantan, sekolah saya dulu zaman SMP. (Di depan sekolah ini persis ada jual eskrim. Rasanya enak banget! Namanya eskrim angie. Oke, lanjut!)

Sebagai manusia biasa, saya bisa saja mengeluh. Daftar keluhan saya banyak pastinya, entah itu tentang kondisi yang saya hadapi, orang yang saya temui, bahkan kondisi dan orang yang tidak saya temui. Untuk poin terakhir maksudnya begini: saya bisa saja mengeluh melihat berita di TV padahal saya tidak terjun langsung di dalamnya. :)
Hanya saja, mengeluh itu kok rasanya bikin capek ya? Malah bikin badan kian lelah.

Kalau ditanya: "Rahasianya apa bisa semangat terus?" Saya juga bingung menjawabnya. Apa ya?! Selama ini setiap saya menjalani rutinitas dengan kesadaran bahwa saya tidak selamanya hidup. Saya harus semangat, berinovasi, karena saya tidak mungkin selamanya berada di lingkungan ini terus. Sayang saja, saya menghabiskan energi dan waktu hanya untuk mengeluh untuk kondisi yang sulit saya ubah. Kan kalau kondisi tidak bisa kita ubah artinya kitanya yang harus berubah. Betul?

TETAP BERSEMANGAT itu jelas sulit apabila kita mengalami kondisi yang sedang tidak baik: suami yang sakit, anak-anak yang melelahkan, orang-orang sulit yang kita temui, sakit-penyakit yang kita derita, bahkan kegagalan yang kita hadapi. Itu rasanya mau nangis terus deh.
Tapi lagi-lagi, saya berusaha tetap bersemangat! :)

Apa pernah mengalami lesu, lemah, dan tak berdaya?! 
Percayalah! Seringkali!

Lantas solusinya bagaimana?
Curhat ke suami! Huaaaaaa! Iya, curhat ke suami habis itu menenangkan diri dengan tidur, jalan-jalan, makan, nonton, membaca, bahkan menulis. Menenangkan ala diri seperti itu seringkali melahirkan semangat dan kekuatan baru untuk memulai hari dalam menghadapi siapa pun.

Orang-orang (entahlah, ini mungkin cuma asumsi saya saja. Hehehe) barangkali menilai saya sebagai perempuan yang tangguh dan bermental baja (ya, soalnya pernah ada 1-2 orang yang secara eksplisit dan implisit menyatakannya kepada saya.)
Tangguh? Ya biasa saja! Mungkin lebih ke keadaan dan lingkungan militer yang saya hadapi serta bisa jadi pengalaman saya yang sehabis lulus SMA langsung merantau ke Tanah Jawa untuk kuliah.
Bermental baja? Hahaha, mungkin ini perumpamaan halus dari "tidak tahu malu." Ya, selama saya rasa itu benar dan baik menurut norma dan nilai yang saya pelajari, ya hayuk saja.

Buat saya, kita harus tetap bersemangat selama jantung masih berdenyut. Jangan pernah berharap orang lain yang akan menyemangati kita. Iya, kita butuh orang lain! Tapi pada saat tidak ada satupun yang bisa menyemangati, lantas kita lalu mati tak berdaya? Jangan! Hidup terlalu sayang untuk diperlakukan begitu.
Tetap bersemangat, khususnya dalam hal berbuat kebaikan. Meski itu sulit....

Cheers,



Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...