Skip to main content

My Great Grateful List

Awal 2017 saya membuat kesepakatan dengan diri saya sendiri, yakni untuk menuliskan setiap berkat nikmat Tuhan yang saya terima dan memasukkannya ke dalam My Grateful Jar, sebuah toples bekas pembagian kue lebaran.

Yang menginspirasi saya melakukan ini adalah untuk mengurangi sifat mengeluh yang sudah mendarah daging dalam diri saya. Hasilnya? Cukup membuat saya berdecak kagum bagaimana Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan, bekerja dalam hidup saya.

Saya akan menuliskan kembali apa-apa saja yang sudah Tuhan berikan yang menurut saya WAJIB saya masukkan dalam hal yang membuat saya bersyukur.

1. Januari
- Tanggal 10 adalah misi pertama suami di tahun 2017. Misinya ke Pontianak, dan karenanya ortu saya bisa nitipin makanan khas Pontianak berikut masakan Mama: sambel pete tempe & tahu, ikan tuna goreng, buah-buahan seperti manggis, rambutan, pisang, jeruk sambel, dan pete mentah! Yeheeey... bahagia rasanya punya Mama yang perhatian di kala anaknya sedang ngidam (padahal uda hamil tua).
- 17 Januari, mertua saya berulangtahun yang ke 51. Puji Tuhan. Sehat2 terus ya, Opung Ello dan Gio.
- 18 Januari, Mama ngirim uang ke saya karena baru abis panen di kebun. Hihi, harusnya sih saya ya yang ngirim2, bukannya Mama.
- 19 Januari, Ibu Sugeng, ibu ketua ranting periode April 2015 s/d Januari 2017 kami memberikan oleh-oleh banyak banget dan itu tidak muraaaah. Terimakasih ya, Ibu. 
- Adik perempuan saya resmi menjadi Mama setelah melahirkan Harvey Reinhart Silitonga pada tanggal 30 Januari. Kebetulan suami saya, Bapatua Harvey, berada di Pontianak sedang melaksanakan misi. Kebetulan yang sangat indah bukan?

2. Pebruari
- My lovely Benedict Gabriello turned 2 y.o
- Our 2nd wedding anniversary.

3. Maret
- 1 Maret 2017. Ruang Hastina 10, kelas I, RS Puri Bunda, Malang. Saya melahirkan anak bernama Emmerich Giovanno seberat 3,5kg dengan normal dan tanpa mengeluarkan biaya sepeser apapun!

4. April
- Rapel gaji brevet suami & kenaikannya. Lumayan banget buat bayar imunisasi anak-anak. Hehehe.

5. Mei
- Saya pulang ke Pontianak nekat memboyong 2 anak laki-laki saya dengan menumpang pesawat hercules. Saya bersyukur bisa menikmati fasilitas negara ini. Kebayang berapa rupiah yang saya keluarkan jika menaiki pesawat komersil? Hehe.
- Di bulan ini juga, profil, nomor handphone, dan alamat rumah di Pontianak terekspos karena saya masuk CIS National Webpage. Sebenarnya bukan saya, tapi usaha saya Kanahaya Gallery.
- Simpanan saya di koperasi organisasi ternyata lumayan, enggak banyak memang tapi lumayan untuk membayar asuransi saya yang kebetulan mau jatuh tempo. Puji Tuhan.
- Ikut merayakan ultah dan peringatan pernikahan Mama dan Papa Harvey yang pertama di Pontianak.
- Celebrating my 29th in Jakarta! Dapet kue dari adek ipar dan pacarnya dan mertua. Bahkan dapet kado juga dari Ito Yosua. Beliau adalah abang ketemu gede yang dari dulu perhatian dan baeeeek banget!

6. Juni
- Suami mulai sering misi. Memang jadinya jarang di rumah, tapi selalu saja ada rezeki yang dibawa pulang. Dihitung-hitung ada 6 hari di bulan ini Papi tidak tidur di rumah.
- Bulan ini pula banyak sekali bingkisan yang kami terima, baik dari Danlanud maupub Danskadron. Belum lagi gaji 14 alias THR yang turun, ditambah salam tempel dari Bapak Komandan.

7. Juli
- Suami berhasil melaksanakan misi ke timur dan dianggap sukses dalam menavigasikan, sehingga beliau layak untuk menyandang 1st Navigator. Meski telat 2 tahun dibanding rekan-rekan sepantarannya, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk mendapatkan kualifikasi tersebut.
- Di bulan ini pula, anak pertama saya Benedict Gabriello (Ello) melepas popok. No more using diapers yang artinya MENGHEMAT banget! Usia Ello 2 tahun 5 bulan ketika tidak membutuhkan popok lagi dalam kesehariannya.
- Papi's 3 days mission. Arrived home safely. Praise the Lord!

8. Agustus
- Orangtua saya datang ke Malang dan kami bisa merayakan hari pernikahan orangtua yang ke-30. Yah meski tidak merayakan yang mewah, kehangatan dan keakraban dapat kami rasakan seraya berlibur ke daerah Batu dan sekitarnya.
- 30 Agustus ini merupakan hari yang membahagiakan ketika suami mendapatkan sertifikasi kelayakan yang telah ditandatangani pejabat bahwa suami resmi menjadi Navigator 1.
- Bulan ini juga saya mendapat FREE ID premium line@ selama 1 tahun untuk taskutasbatam dan kanahayagallery.
- Bergabung menjadi pengurus PIA AG 02-3/D. II yang ke-2x nya. Kali ini saya masuk di divisi Kebudayaan.
- Dapet juara III doooong volley RT bersama tim WARA. Hehehe.
- Ortu berhasil dipulangkan ke Pontianak via Hercules. Herky, sungguh besar jasamu! Bagaimana bisa kutidak cintaaa? Hoho.

9. September
- 11 September, misi kemanusiaan pertama suami ke Myanmar terkait Rohingya.
- Suami kena bells palsy alias kaku sebelah kanan di bagian wajahnya. Meski beliau tidak bisa melaksanakan misi penerbangan sebagaimana mestinya, saya tetap bersyukur, karena artinya saya dan anak-anak  dapat menikmati kebersamaan dengan ayahnya.

10. Oktober
- PP Malang - Halim by Hercules dooong untuk menyaksikan pertunangan Vista dan Aldy.

11. Nopember
- Adikku, Mama Harvey, diberi kelimpahan rezeki sehingga aku dan Godvin diberikan secara cuma-cuma bisnis yang bisa dijual seharga 25juta. Bisnis ini bergelut di bidang travel, pulsa, voucher, dll.
- 18 Nopember, we WENT to Jogjakarta! Gegara nikahannya adik junior suami, oleh Ibu Subhan kita diagendakan ke Jogja sekalian liburan. Hepiiiii!!!
- Arisan Mutiara dibuka kembali untuk ke-3x nya. Sungguh amat senang bisa dipercayai kembali. Hehehe.
-  saya mendapat JUARA Favorit membuat batik tulis dalam rangka HUT PIA AG ke 61. Yeeeee!!!

12. Desember
- Misi pertama Papi ke Guam meski bells palsy belum pulih, malah tambah parah. Tapi praise The Lord, masi ada saja berkat Tuhan yang dibawa pulang yang bisa mencukupi kekurangan-kekurangan dalam menyambut Natal.
- Lagi-lagi, kita berempat cuti kali ini PP FREE karena naek hercules. Bahagiaaaa karena dana yang ada bisa dipos-kan di sektor lainnya.
- Bulan ini juga kita dapet semua. Anak-anak bisa ketemu opung-opungnya, meski mertua laki-laki di kampung tapi syukurnya oktober kemarin sempat ketemu.
- Bisa ngasih mertua, orangtua, bahkan opung-opung kami (buyutnya anak-anak) sedikit rezeki.
- Bisa main ke rumah Bogor dan TMII bawa anak-anak. Khusus Bogor yang uda jarang banget disinggahi, menjadi sesuatu banget ketika bisa berkunjung kembali. Sekalian nostalgia karena saya ditembak suami via telepon ya pas di rumah Bogor itu. Hehehe.
- Bisa ketemu lagi ama adik perempuan saya, Mama dan Papa Harvey serta si gendut Harvey. Harvey sehat dan gendut! Fyi, belum genap 11 bulan saja beratnya nyaris 13kilogram. Ckck! Kebayang gempalnya!
- Total pendapatan dari kanahayagallery dan taskutasbatam mencapai IDR *5,6**,*94. Puji Tuhan. Lumayan buat bayar cicilan-cicilan. Hehehe.

Demikian.
Kebiasaan ini akan saya tetap lakukan di 2018, mengingat saya juga jadi jarang ngeluh. Hehehe. So, ketimbang bikin resolusi yang ribet, panjang dan belum tentu dikerjain, hayuk... belajar bikin grateful list. Mari kita mencoba menghitung hal-hal yang membuat kita bersyukur.

Cheers,

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...