Skip to main content

Do Good, Be Good

Sulit bagi siapapun untuk tetap berbuat baik ketika mengetahui orang yang tadinya dianggap baik dan bisa dipercaya ternyata justru kebalikannya.

Siapapun akan kecewa dan memilih untuk berubah sikap. Tapi apakah itu solusi yang bisa menjadikan dunia lebih baik? Kalau solusi untuk mendamaikan hati sendiri, mungkin bisa. Tapi percayalah itu hanya sementara.

Ketika saya "diceritain" ada orang yang ngomongin A, B, C tentang saya,  saya memilih untuk tidak mau mengetahui orang tersebut. Saya tidak mau saya berubah sikap terhadapnya. Dan lagipula, apakah dengan mengetahui dan mengklarifikasi akan menjadikan dunia lebih baik?
Don't feed the gossip! Sometimes clarifying gossip means feeding. Jadi biarkan saja... anggap tidak pernah terjadi apapun. Sulit? Banget. Tapi bukan berarti tidak bisa. :)

We Cannot Please Anyone
Betul! Semua orang punya kepala dan pasti punya pemikirannya masing-masing. Dan tidak semua orang bisa menerima apa yang sudah kita katakan, pikirkan dan lakukan.

Kita tak perlu repot menjelaskan bagaimana diri kita bagi mereka yang memilih untuk tidak mau mengenal kita secara dekat. Cukup senyum saja dan... tetaplah berbuat baik.

Do Good, Be Good! Dan orang masih saja memberi komentar dan mencari kekurangan kita? Tetaplah berbuat baik, seakan hari ini adalah hari terakhir Anda hidup. Percayalah mereka-mereka yang gemar mencari dan mengomentari kekurangan orang lain pun sebenarnya sering alpa dengan kekurangannya sendiri. Lupa kalau mereka pun masih manusia. Tapi tak apa, tetap dan terus belajar untuk memiliki hati seluas samudera dan mencintai tanpa syarat, karena dunia ini takkan lebih baik jika Anda menerapkan prinsip »»» apa yang lo lakuin ke gue, gue lakuin ke elo.

Introspeksi
Tak selamanya pula masukan itu salah. Tak selamanya juga komentar pedas orang itu tanda mereka iri, dsb. Bisa jadi memang itu kenyataannya.
Jadi segeralah pula introspeksi diri.

Sebuah kalimat yang menjadi kalimat favorit saya yang dilontarkan oleh adik saya:
Orang yang sayang kita akan menegur kita secara langsung...

Jadi berbahagialah apabila masih ada orang-orang yang menegur kita secara langsung, santun dan akrab karena itu menunjukkan mereka mencintai kita. Mereka ingin kita menjadi lebih baik.

Tapi apabila ada orang yang menegur kita dengan judes, jutek, sadis, dan sebagainya... maklumilah karena mereka membutuhkan kasih dari Anda dan tetaplah introspeksi diri. Intinya tetaplah menjadi orang baik meski keadaan dunia ini tidak baik.
Anda lah Sang Pemegang Kunci untuk menjadikan dunia ini lebih baik.

Bagaimana untuk menjadi pribadi yang tetap baik dan berlaku baik?
There are plenty of things we can do to stay good and bring the best out of us, yaitu banyak baca bacaan yang bermutu, banyak bergaul dengan orang yang jauh lebih baik dari kita, lebih pintar, lebih berani, lebih menginspirasi dan sebagainya, kemudian selalu temukan kelebihan orang lain dan bukan mencari tau kekurangan orang lain, terakhir membuat mimpi-mimpi kita menjadi nyata alias berkarya...

Ingat, bergosip itu bukan berkarya! Mengomentari orang juga bukan karya... (( tepok jidat tanda mengingatkan diri. ))

Cheers,

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...