Skip to main content

Kebijaksanaan dari Air

Waktu seringkali menjadi musuh bagi ingatan. 
Maka, sebelum waktu itu tiba memunahkan semua ingatan saya, izinkan saya menggoreskannya dalam bentuk sebuah catatan.

Saya baru saja mandi. Seger! Airnya bening sehingga dasar bak mandi kelihatan. Byurr...byurrr... lebih dari 5 gayung saya siramkan ke tubuh demi memastikan badan saya telah terguyur semua oleh air. Sembari bersenandung, memori menghantarkan saya ke ingatan masa kecil saya di Pontianak. Saat itu saya barangkali masih duduk di bangku SD, bahkan hingga SMP bisa dipastikan air di kamar mandi rumah di Pontianak tidak akan pernah bisa sebening ini. 

Saya masih ingat dulu kalau sudah musim kemarau, air ledeng akan berubah rasa menjadi payau. Rasa payau itu seperti air larutan oralit. Maklum saja, PDAM di Pontianak dan mungkin saja di daerah mayoritas Kalimantan menggunakan sumber air dari sungai yang diolah sedemikian laik sehingga bisa dialirkan. Tapi, jujur saja jika dibandingkan dengan air yang saya pakai mandi tadi jauh lebih laik untuk diminum timbang air yang diolah PDAM zaman saya masih kecil. 

Pernah mandi dengan menggunakan 10 gayung air saja? Ya, saya pernah! Kami dijatah oleh Mama, bahkan yang dulu pernah merewangi kami. Atau setidaknya diri kami sendiri menjatah agar air yang dipakai tidak banyak. Kenapa? Soalnya airnya sulit mengalir. 
Jadi, kami pernah juga saking kekeringannya, kami pergi ke semacam tempat aliran sungai. Di sana kami mandi bersama dengan warga lainnya yang mencuci pakaian, mandi, dan mungkin menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari di dapur. Hahahaha. Tidak percaya?!

Warna air di kamar mandi kami dulu beragam. Ketika warna air berwarna hijau kebiruan agak keruh artinya debit air sedang banyak-banyaknya dan biasanya air rasanya tawar. Namun, kalau air kecoklatan artinya air sedang susah alias musim kemarau dan biasanya rasanya itu payau. 
Kondisi ini diperparah ketika musim kemarau, PDAM bahkan bisa dengan tega tidak mengalirkan air sama sekali. Kalaupun air mengalir bisa kecil sekali alirannya. Nah, pernah kami siasati dengan memasang pompa air. Tapi yang ada malah menimbulkan masalah baru, yakni selain harga listrik naik, juga putaran meteran air berjalan menjadi sangat kencang sehingga pembayaran PDAM pun membengkak.

Instingmu Menajam Ketika Dirimu Diberi Persoalan
Ayah saya yang akhirnya harus memutar otak sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Pertama, ayah saya memanggil tukang sumur. Digalilah sumur dengan jarak jauh dari pusat septic tank. Saya lupa berapa meter. Yang saya tahu, ketika sumur digali pun airnya tetap cokelat. Memang kalau tanah di Kalimantan dibilang tanahnya merah sehingga air yang mengalir pun tidak akan bisa jernih warnanya. Setelah itu, Ayah membeli beberapa tempayan besar plastik. Kemudian tidak cukup hanya disitu, Ayah memanggil tukang untuk membuat sebuah tampungan air besar di atas tanah namun ditutup semen seukuran kolam renang dengan tinggi 150cm. Fungsinya, untuk menampung hujan atau penampungan air sebelum dialirkan ke seluruh rumah. 

Ketika musim hujan datang, air yang jatuh di atap tak terbuang percuma. Ia mengalir ke tandon yang sudah Ayah siapkan. Air mengendap semalaman, lalu kami pakai keesokan harinya. Jujur, itu adalah air pertama kami yang bisa menunjukkan kepada kami dasar bak mandi kami. Bening! Meski tetap belum sebening air di tanah Jawa. 
Ketika kami tidur, keran air dinyalakan dan dengan sistem yang sudah Ayah rangkai maka air dari PDAM hanya mengalir ke dalam tandon penyimpanan air. Taruhlah kami lupa mematikan besok hari, tetap tidak ada ceritanya kebanjiran karena kami juga belum pernah meneliti seberapa lama keran air harus dihidupkan agar bak raksasa ini bisa penuh. 

Ketika kemarau datang, kami bisa menggunakan sumur yang sudah ada. Airnya memang cokelat sekali. Tapi Ayah punya kemampuan untuk mengolahnya dengan larutan kimia, tawas dan sebagainya agar airnya bisa jernih. Kata Ayah, setidaknya bisa digunakan untuk sekedar siram-siram WC atau tanaman. Tapi, jarang kami gunakan air dari sumur. Air sumur lebih difungsikan untuk menyiram tanaman saja. 

Kalau diingat-ingat kembali zaman itu, rasanya tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri nikmat hari ini. Sesederhana apapun itu. Dari sekedar air, ia mengajarkan banyak hal. Dulu di Pontianak, air menjadi masalah tersendiri bagi kami. Tapi, dari air juga kami belajar untuk berhemat, mencari akal agar bisa mengatasi masalah yang kami hadapi, serta mensyukuri bilamana kami boleh mendapatkan kenikmatan hari ini yang dulu tidak bisa kami dapati. 

Cheers, 


Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...