Skip to main content

Karena Hasil Takkan Menghianati Usaha Maka Tenanglah, Wahai Jiwa!

Tulisan terakhir saya bulan Mei, berarti selama bulan Juni saya absen menulis. Duh, dimana kekonsistenan saya? ((Ngomong sama diri sendiri.))
Saya tidak pernah mau menganggap diri sok sibuk, menulis seharusnya seperti bernapas. Ada keberlangsungan, keharusan dan keteraturan. Tapi yah mau gimana lagi, memasuki bulan Juni dan bahkan hingga saat ini, saya merasa berkejaran dengan waktu. Mau nyalahin siapa kalau sudah begini? Tidak ada selain menjalaninya sepenuh hati, dan selalu berstrategi setiap menghadapi orang dan hari yang baru. ((Lalu zurhaaat ciyeeee!))

Jadi  selama tidak menulis secara teratur, saya kemana aja? Hm, saya berproses. Seperti biasa, saya memanfaatkan waktu dengan berproses. Caranya? Saya persulit diri saya sendiri. Untuk melihat sejauh mana otak saya dan tubuh saya ini bersinergis dan bekerjasama dalam mencari solusi.

Memasuki bulan Juni kemarin, saya disibukkan dengan kegiatan persiapan PESPARANI (Pesta Paduan Suara Gerejani) dalam ruang lingkup TNI AU Se-Indonesia Raya. 
Jika dua tahun lalu mendekati perhelatan lomba, saya digempur setiap hari latihan. Maka kali ini ada upaya ekstra yang saya lakukan, yaitu DIHARUSKAN latihan setiap hari dengan durasi waktu kurang lebih 7 jam sehari, yaitu dari jam 2 (kadang jam 3) hingga jam 9 malam. Setiap hari? Ya, setiap hari!
Menyenangkan memang apabila dalam proses latihan demi latihan yang kita lewati, kita tidak memiliki beban dan tanggung jawab yang berarti. Tapi tidak dengan saya. Saya memiliki keluarga, dua orang anak yang masih kecil untuk diperhatikan, tanggung jawab di organisasi istri tentara, dan banyak hal lainnya.
Membagi waktu adalah hal tersulit bagi saya, tapi saya HARUS bisa. Syukurnya saya memiliki seorang suami yang mau diajak kerjasama. Ketika beliau tidak melaksanakan misi penerbangan di hari libur, sementara saya masih saja harus latihan, beliau dengan suka hati mau menjaga dan merawat anak-anak kami. Menjadi soal adalah ketika beliau berdinas di luar dan rewang kebetulan tidak bisa datang. Saya dengan tergopoh-gopoh harus menggendong dua bocah di bawah lima tahun untuk ikut latihan, belum lagi polah anak-anak saya di tempat latihan yang aduh... sungguh luar biasa. Tapi itulah proses yang saya hadapi. Barangkali menjadi pertanyaan, kenapa toh dipaksain ikut kalau memang riweuh, ga usah ikut kenapa? Banci tampil sekali?! Hehehe... pertama, ini bukan masalah banci tampil atau tidak. Tapi karena panggilan hati untuk memuji Tuhan, selain itu karena dipilih langsung setelah melewati seleksi ((Ceile, seleksi!)) oleh pelatih kami, Bang Iyok sebagai coach yang dipercaya Lanud ABD Saleh untuk melatih tim pesparani sejak tahun 2012. Kedua, karena keterbatasan personil. Jadi bener seperti yang tertulis dalam alkitab Matius 22:1-14: "banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." Bahwa memang ada banyak umat Kristiani di lingkungan ABD Saleh, Malang, namun karena alasan satu dan lain hal sehingga hanya segelintir saja yang bisa berpartisipasi. Ketiga, karena acara dilaksanakan di Jakarta, maka saya beranikan diri untuk ikut lagi mengingat mertua saya tinggal di Jakarta, jadi bisa sekalian anak-anak ketemu dengan Opungnya. (( Ceritanya sekali mendayung, 3 pulau terlampaui. Hehehe...))

Dalam proses yang berlangsung 3 bulan itu, dimana kami harus bisa menyanyikan 3 lagu beruntun yang artinya ada beban lebih dari dua tahun lalu, sudah barang tentu bukan soal yang mudah. Selain keringat, dan intonasi suara yang berlebih, ada juga air mata yang tumpah di dalamnya. Saya seringkali menangis karena kesulitan memahami partitur, kesulitan melagukan syair, dan... kelelahan mengemong anak sambil latihan. Jika ada yang menyanyi sambil mengemong, menggendong, dan menyuapi anak, itu saya! 
Hingga H-12 sebelum giat berlangsung, saya dan suami pun sepakat bahwa saya butuh pertolongan. Maka mertua saya datang dari Jakarta. Kami terbangkan dengan pesawat komersil agar bisa menemani para cucu di rumah sementara saya berlatih.

Tak usah bicara hasil dapat juara berapa karena usaha dan air mata yang kita curahkan pasti memberikan hasil yang baik selama dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Bagi saya, meski kami tak dapat mempertahankan gelar dua tahun lalu, tapi ada kehangatan yang luar biasa yang kami rasakan, yaitu: kami bisa berbahagia satu sama lain di dalam internal tim, serta kami bisa bersorak-sorai gembira bersama mereka yang menyandang juara lainnya. 
Bagi kami, juara keberapa pun bukan jadi soal karena kami sudah sepakat bahwa tujuan kami ke Jakarta untuk memuji Tuhan selain mewakili ABD Saleh.

* * *

Di tengah keriuhan demi keriuhan yang ada, hal yang tak boleh saya syukuri adalah saya berbahagia memiliki suami dan mertua yang mau diajak kerjasama. Apa ceritanya kalau suami saya tak setuju saya mengikuti kegiatan tersebut, apa jadinya apabila mertua saya tak acuh? 
Bisa bonyok sendiri saya. Hehehe.

Selesai kegiatan pesparani tersebut, saya pun kembali melaksanakan aktifitas saya dan "dihajar" kembali mengejar mimpi. Saya paksa diri saya untuk terus bisa memberikan yang terbaik. Bukan untuk siapa pun, tapi untuk diri saya sendiri. ((Diri saya sendiri juga maksudnya untuk keluarga inti saya ya.))

Bisa saja saya duduk santai berleha-leha, tapi buat apa? Diam cuma bisa bikin badan senut-senut nyeri, mending saya bergerak. 
Intinya, saya cuma mau bilang bahwa setiap aspek apapun dalam hidup ini, bersungguh-sungguhlah. Saya selalu terapkan lakukan dan lupakan. Lakukan dengan semaksimal mungkin, dan lupakan sehingga kita tak terlalu berharap apa yang sudah kita lakukan tersebut memberi hasil atau tidak. Masalah hasil itu serahkan kepada Sang Pencipta Kehidupan. Tapi percaya saja bahwa hasil takkan pernah menghianati usaha.

Jadi tenang saja, wahai Anda yang telah berusaha sungguh-sungguh... 

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...