Skip to main content

Sesulit Apa?

Pagi tadi dibuka dengan kegiatan arisan rutin PIA AG 02-3/D.II Skadron Udara 32. Jadwal dimulainya kegiatan diumumkan  jam 7.30 namun dalam pelaksanaannya baru jam 8.40 terealisasi. Entah memang sengaja diumumkan waktunya demikian sebagai strategi demi mengantisipasi kecenderungan kita sebagai Ibu-ibu yang sering terlambat atau... kita yang terlalu toleran terhadap keterlambatan? ((Silahkan tanya pada diri kita masing-masing, bukan pada rumput yang bergoyang sayang!))

Jadi, kita sudah kalah 1 poin tentang masalah waktu. :)

Kemudian, sesudah giat berakhir saya kembali menyayangkan kita yang meletakkan sampah di bawah tempat duduk kita atau di depan atau bahkan di samping kursi duduk. Kita kesulitan untuk membuang sampah di tempat sampah yang hanya beberapa langkah kaki dari tempat duduk kita. Padahal ada 2 tempat sampah terpampang nyata, MyLov.

Ditambah lagi, tadi saya ketemu dengan kawan yang berprofesi sebagai dosen di sebuah PTN favorit Malang.
Kita share sedikit dan ngompol ((NGOMong POLitik)), lalu berlanjut ke cara mahasiswa berkomunikasi dg dosen. Ada mahasiswa yang menghubungi dosen dengan mengirim pesan begini ke dosennya:
Bapak dimana? Saya mau konsultasi.

Dilihat dari sisi manapun, bagi saya ini salah! Tp tidak bagi mahasiswa kebanyakan. Maka jangan heran, apabila di PTN maupun PTS manapun terpampang nyata semacam standing banner menganjurkan tata cara menghubungi dosen via SMS atau WA. Keren bukan? Sekelas mahasiswa, Anda masih harus diajari hal remeh tersebut.

Kesulitan-kesulitan macam ini yang sepele namun telah mengakar dan menjadi kepribadian kita. Padahal untuk kita yang katanya masih menjunjung tinggi budaya ketimuran, religiusitas, and so on, hal ini seringkali luput.

Bukankah kepada siapapun kita berinteraksi dengan WA ((whatsapp))maupun SMS, kita harus mengucapkan sapa dengan memanggil Bapak/Ibu atau kata sapa apapun, dan memohon maaf karena telah menghubungi barulah mengutarakan niat atau maksud dari menghubungi seseorang itu? SIAPAPUN. Mau dia cuma dosen, guru, rekan ((kecuali yang dirasa sudah akrab betul)), bahkan penjaga atau petugas kebersihan. Hey, bahkan sampai dengan hari ini ketika saya berhubungan dengan suami, saya pun masih mengucapkan salam loh, dan minta maaf apabila saya menghubunginya ketika jam kantornya berlangsung.
Biar kata orang kaku amat, saya mau membentuk karakter saya seperti itu.

Kembali tentang disiplin waktu dan kebersihan. Saya sebisa mungkin tepat waktu dalam setiap hal apapun, dan selalu memposisikan diri masih junior meski sudah ada beberapa orang adik-adik yang lebih muda dari saya. Memposisikan diri sebagai junior terus dalam hal waktu memberikan saya akses untuk tetap bisa on time di sini. Karena kecenderungan yang ada adalah kalau sudah agak senior katanya boleh telat. Aduh. Konsep-konsep berpikir seperti ini yang tidak masuk akal bagi saya.
Ketika Anda terlambat, Anda memberikan suasana tidak nyaman bagi orang-orang yang telah hadir duluan. Atmosfir yang Anda berikan pasti memberikan hal negatif. Betul, anda tidak terlambat sendirian. Masih banyak yang lainnya yang lebih telat. Tapi cara Anda ini justru berakibat fatal. Acara yang tadinya bisa selesai cepat, jadi telat beberapa jam karena konsep berpikir Anda sama dengan yang lainnya.
Pikirkan waktu yang bisa Anda pakai untuk hal lainnya jadi terbuang percuma lantaran Anda terlambat.

Perihal kebersihan juga setali tiga uang dengan keterlambatan. Menjadi budaya kita menaruh piring di bawah kolong meja, membuang sampah dibawah tempat duduk. Apa sulitnya memindahkannya ke tempat sampah? Atau ke tempat yang telah disediakan?
Kita baru bergerak ketika sudah ada yang mencontohkan.

Oh saya tidak marah-marah, saya hanya kesal dengan diri saya sendiri. Saya kesal ketika saya merasa belum bisa berdampak bagi orang lain. Sekecil apapun yang kita perbuat, usahakanlah hal tersebut dapat berefek positif bagi orang lain. Itu saja...

Jadi, sesulit apa untuk berkarakter, berbudaya dan beretika?
Ayolah...

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...