A : Ada yang mau aku bicarain, tapi kuatirnya ga ada waktu lain. Jadi disini aja ya.
B : Apaan? (Kepo)
A : Sekedar masukan karena aku sering dengar orang ngomong kalau kamu itu...
B : Siapa yang ngomong? Aku ga mau dengar kalau aku ga tau orangnya! (Mendadak 3N : nyamber, nyolot, ngamuk)
A : Ya kamu dengar dulu. Ini kan masukan. (Jadi agak emosi juga)
B : (EH!RH#RRJ#@Y#)*YYH (Tetep ga terima, lalu mendadak diam.)
A : (Pengin ikutan ngamuk juga. Kenapa juga saya harus ngomong, mending masa bodoh sajalah.)
***
Bener! Jadi orang peduli itu serba salah. Susah. Karena kebanyakan manusia itu inginnya didengar, bukan mendengar.
Dan benar juga, bahwa negativity infects anyone easily.
Tuhan menciptakan manusia dengan 1 mulut dan 2 telinga agar kita banyak mendengar, bukannya kata-kata yang terlontar.
Zaman NOW, perduli itu adalah perilaku yang dianggap langka, sikap masa bodoh malah menjadi sesuatu yang... normal.
Bagi orang lain, mungkin bersikap perduli itu yah dua hal, kalau enggak dianggap carmuk, juga seringkali malah ga dianggap. Maka tidak heran apabila sekarang banyak orang lebih milih menjadi masa bodoh.
Kalau saya perduli itu menunjukkan karena masih ada rasa sayang. Masih ada perhatian. Saya bisa bersikap masa bodoh pada siapapun dan apapun. Lalu apakah hal itu bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik? Saya rasa tidak. Maka dari itu, ketika saya melihat dan menemukan ada yang tidak pas, saya berusaha membuat semuanya jelas. Tapi barangkali tidak semua manusia bisa menerima hal dengan jelas. Mereka lebih suka berada di situasi yang samar-samar, dengan alasan biar AMAN.
Tapi apabila orang yang kita perdulikan ternyata termasuk golongan manusia yang lebih suka berada di situasi yang samar-samar atau yang suka menerapkan standar ganda, ada baiknya kepedulian saya ini harus dikurangi kadarnya.
Susah? Agaknya, tapi ya mau bagaimana lagi? Karena tidak semua orang bisa menerima maksud baik kita.
DO GOOD, BE GOOD! Tapi mungkin mesti agak di rem juga kali ya... Hehehe...
Cheers,
Comments
Post a Comment