Finally! The year I have been waiting for has come for real! 2018. Tahun dimana saya berusia GENAP 30 tahun.
Jujur saja, awalnya saya sempat termasuk dalam golongan kaum yang merasa sudah sangat tua sekali ketika menginjak kepala 3. Apalagi ditambah dengan reaksi sebagian besar orang yang terang-terangan menyatakan bahwa ketika kita menginjak usia kepala 3 artinya kita sudah berumur, sudah tua, dan sebagainya dan sebagainya. Bahkan ekspresi ngenyek menyebalkan juga Saya terima dari suami tercinta saya. Katanya,"Selamat ulangtahun, Sayang! Kamu sudah TUA! Hahaha." sambil tergelak bahagia.
Saya dan suami memang terpaut 1 bulan saja jaraknya. Saya lebih tua 1 bulan, dan itu pula yang memberikan saya semacam otoritas lebih untuk mengomeli dirinya ketika dia melakukan kesalahan. Hehehe.
Baiklah, kembali ke angka 30! Saya perlahan mulai menerima bahwa saya memang tidak muda lagi. Maksudnya begini, ketika saya berusia 30 artinya saya memasuki fase dimana saya tidak bisa dikategorikan manusia dewasa awal. Saya kini memasuki kategori manusia usia dewasa menengah. Saya harus bisa menunjukkan kematangan secara emosional, lebih bijak dalam bertutur, dan lebih dewasa lagi dari saya di fase usia 20-an.
Saya tidak mau dikatakan berumur, saya maunya dikatakan masih bertumbuh. Lho, ya iya dong! Selama kita masih hidup, selama itu pula kita bertumbuh dan terus harus belajar. Dan atas kesempatan untuk masih boleh bertumbuh dan terus belajar itu, Saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ingat, tidak semua manusia di bumi ini bisa memiliki kesempatan hidup dengan usia 30!
Terus terang saja, di usia saya yang 30 ini saya kembali merenung lagi tentang: sudah sejauh mana hidup yang saya inginkan tercapai? Apakah saya harus menyamakan standar hidup orang lain dengan milik saya? Atau haruskah saya memiliki jalan lain yang berbeda?
Mama saya mengatakan bahwa di usianya yang ke-30, beliau sudah memiliki 3 anak dan sudah mendapatkan status PNS. Saya tidak mau membandingkan diri saya dengan orang lain, termasuk Mama. Kami berdua hidup di zaman yang terpaut dua dekade. Namun, menurut saya adalah sosok inspiratif yang saya tahu sepak terjangnya sejak saya masih kecil. Sehingga pengalamannya sangat baik untuk saya pelajari.
Meski saya anaknya, bagaimanapun saya tidak seperti beliau. Saya tidak mau punya 3 anak. Saya sudah berbahagia dengan memiliki dua orang putra yang menurut saya lucu dan menggemaskan.
Saya juga tidak ingin menjadi PNS lagi, meskipun saya tetap saja mengikuti rangkaian test yang ada sekedar mengukur kemampuan diri juga menjadi nadzar saya bahwa saya akan mengikuti tes demi tes sampai dengan batas akhir usia saya tidak diperbolehkan lagi.
Mama pun tidak menuntut saya untuk menjadi sepertinya. Cuma beliau dengan gamblang meminta saya untuk tidak berhenti bertumbuh, tidak berhenti bermimpi, tidak berhenti bergerak.
Satu petuah dari sekian banyak petuah lainnya yang ada dari beliau yang saya ingat adalah, "Sekecil apapun itu, Yoan! Kerjakanlah. Tetap bergerak. Jangan pernah berpuas diri."
Saya awalnya juga tidak paham maksud Mama sering mengatakan hal tersebut kepada kami, anak-anaknya. Namun pelan-pelan saya memahami bahwa Mama ingin kami selalu beradaptasi dengan segala kemungkinan yang ada. Mama tidak ingin kami hidup di zona aman dan nyaman melulu. Mama ingin kami terus bertumbuh dengan segala kemungkinan yang ada. Meski sebegitu tidak menyenangkannya nanti, Mama tetap ingin kami bertumbuh.
Di usia 30 ini, saya mulai menata kembali diri. Dengan berstatuskan sebagai seorang istri dan ibu dari dua anak laki-laki, tentu saya harus bisa memilah mana yang prioritas dan mana yang tidak.
Untuk hal-hal yang sekiranya tidak ada faedahnya bagi keluarga saya, saya harus taruh di posisi ke sekian dalam priority list saya.
Sebaliknya, untuk hal-hal yang memang bermanfaat kelak bagi keluarga artinya saya harus taruh dalam posisi teratas.
Juga, saya tidak boleh melupakan mimpi-mimpi lama saya yang terkubur menunggu untuk dibangkitkan kembali.
So, my dearly self! Allow me to congratulate you once again: Happy 30th birthday to you, my dearly self!Bertumbuh dan bertumbuhlah terus selama waktu masih memungkinkanmu untuk bertumbuh. Bersyukurlah dan bersyukurlah terus selama waktu masih ada bagimu untuk bersyukur.
Comments
Post a Comment