Skip to main content

Jadi Istri Prajurit Itu Sulit. Kau Takkan Kuat, Biar Aku Saja. (part ONE)

Hari Minggu, 8 April kemarin, Saya seorang diri mengantarkan putra kedua kami untuk dibaptis. Lho, suaminya kemana? Suami saya mendadak didaulat untuk melaksanakan misi RANSUS RI 1 ke Sorong. Ah ya, suami saya itu seorang prajurit. Jadi mohon maaf saja, untuk urusan negara selalu ia nomorsatukan.

Bicara tentang menomorsatukan, pikir punya pikir saya merasa kelewatan apabila saya memaksakan agar suami saya bisa mengikuti atau menghabiskan waktu bersama selalu dengan saya dan keluarga. Karena faktanya adalah suami saya bukanlah milik saya, dia milik negara. Selama suami saya masih berdinas, disitulah saya harus bersedia menjadi nomor sekian dalam hidupnya.

Wah, hebat! Kakak sanggup dan kuat!
Percayalah. Saya masih belajar menerima semuanya itu dengan lapang dada. ((Lapang Dada Sheila On 7  pun dilantunkan)).
JUJUR saja, manis-manis dan serunya percintaan itu ya ketika kita masih pacaran. Setelah menikah, beuuuh... kalau air mata ini dikumpulkan, mungkin sudah bisa bergalon-galon Cleo. ((Bukan sponsor, saya suka aja air merk CLEO ketimbang merk AQ*UA)) Oke, lanjut!

Jadi selama menikah, Kakak tidak bahagia?
Bahagia. Saya bahagia dengan proses yang kami jalani. Tidak mudah memang. Tapi bagi manusia-manusia yang berorientasi pada proses, saya mengacungi diri saya jempol kaki dan tangan. ((Huuu, sombong!))
Begini... begini! Kita harus sepakat bersama bahwa masa-masa pacaran adalah masa-masa yang indah. Setelah menikah, keadaan kebanyakan berbanding terbalik. Doi yang dulu sering beliin cokelat ketika valentine, kini setelah menikah tidak lagi. Doi yang dulu sering mengumbar kata-kata mesra menjadi tidak pernah lagi. Kebiasaan doi yang dulu kok sweet banget, sekarang malah menjadi kasar dan seenaknya.
PERCAYALAH, suami saya tidak demikian. Boro-boro mau "melayani" istri dengan mesra, melayani diri sendiri saja sulit karena waktunya saja sangat sempit sekali. Hari ini terbang, besok terbang lagi. Belum lagi ia disibukkan dengan aktifitas kantor yang luar biasa. ((Saya sudah bilang kalau suami saya TNI AU dan menggeluti dunia penerbangan? Kalau belum, maapkeun.))
Oleh karena itu waktu yang sedikit ini menjadi sangat berharga bagi kami. Sulit sekali untuk tidak lekas berdamai apabila ada hal-hal yang membuat kami berselisih paham.

Kalau waktu boleh diputar kembali, Kakak tetap mau menikah dengan prajurit?
Iya, tetap. Apalagi kalau prajuritnya kayak Channing Tatum, mau banget saya! Hehehe.

Ya, gimana ya? Menjadi prajurit itu sendiri kan tidak gampang. Menjadi istri prajurit itu lebih tidak gampang menurut hemat saya. ((Opone sing di-hemat meneh? Gaji tentara yo pas-pasan!))
Kita para istri kebanyakan berasal dari dunia sipil. Kalaupun ada orangtua, buyutnya, sepupunya, bahkan adik abangnya tentara, kita tetaplah sipil. Unless kalau istri memang sama-sama bekerja sebagai prajurit. Dunia sipil ini sarat dengan SEMAUNYA GUE. Mau ngomong ya bebas, mau berpakaian ya bebas, mau ngopi cantik sambil merokok di tempat umum ya bebas, mau bolak-balik ke luar negeri seenak udelnya ya bebas, mau bergaya ala istri keluarga Bakrie ya bebas, tapi tidak dengan istri-istri prajurit. Ada pakemnya, ada protokoler dalam bertindak dan bersikap. Selain itu, menjadi istri seorang prajurit dituntut untuk bisa menginspirasi.

Menurut saya, menjadi istri prajurit adalah sebuah status dan pekerjaan yang SERBA. Maksudnya?
Izinkan saya merangkumnya menjadi poin demi poin.

  1. SERBA dengan hati! Menjadi istri prajurit, Anda tidak bisa mencintai suami Anda sepenuh hati, tanpa mencintai organisasi yang menaungi para istri prajurit. Maksud saya begini, ketika Anda memilih menjadi seorang istri prajurit, Anda tidak bisa melepaskan diri dari yang namanya kegiatan organisasi. Anda harus punya hati yang lain untuk Anda berikan bagi organisasi ini. Dan para istri prajurit yang berkecimpung di keorganisasian ini harus sepakat bahwa kegiatan-kegiatan yang dinaungi organisasi tidak sedikit dan meliputi banyak hal. Satu hal, kita memang tidak digaji dalam melaksanakan kegiatan demi kegiatan ini. Jadi ketika rasa lelah menghantui dan mencintai sepenuh hati menjadi hal sulit, saya mengubah paradigma saya bahwa saya melakukan ini untuk suami saya. Bakti saya kepada suami negara, saya tunjukkan dengan saya menyediakan waktu saya bagi organisasi setelah saya menunaikan tugas dan tanggungjawab saya terhadap keluarga.
  2. SERBA Bisa! Oh yes, Darling! Anda harus serba bisa. Bisa masak, bisa main voli, bisa main sepakbola, bisa menyanyi, bisa menari, bisa berpuisi, bisa menjadi aktris/artis, bisa menjadi lebih sabar, bisa menjadi lebih bijak, bisa lebih bermurah hati, bisa lebih sederhana dan apapun ketidak mampuan serta ketidak ahlian Anda akan diubah menjadi sebuah keahlian dan kemampuan begitu Anda menjadi istri prajurit. MUAHAHAHAHAH... 
  3. SERBA <del>Mandiri</del> Sendiri! Tak perlu saya bahas, Anda sudah cerdas.
  4. SERBA Pas-pasan. Mau suami dengan gaji tinggi? Pilih pengusaha. Karena tentara tidak demikian. Oleh karena itu, kita para istri prajurit harus bisa bergaya sesuai kemampuan. Kan enggak lucu kalau gaji suami 7 juta, tapi gaya kita bak suami bergaji 700 juta. Sekali lagi, menjadi istri prajurit itu senantiasa disorot. Yang gayanya, yang tutur katanya, yang kebiasaan sehari-harinya, dan sebagainya. Jadi sekaya apapun Anda dari keluarga aslinya Anda, Anda harus mampu menyesuaikan diri. Bukan apa, menjadi seorang istri prajurit artinya Anda mau tidak mau dan suka maupun tidak suka akan menjadi panutan. Dan lagipula, apa susahnya menjadi sederhana?
  5. SERBA Diamati! Yuhuuu ini yang paling asyik! Anda adalah sang artis! Lampu sorot akan selalu mengarah ke Anda. Selain disorot dari orang-orang lain yang tidak Anda kenal, Anda akan disorot oleh senior (ini mendebarkan!), rekan letting (asal jangan saling sikut), dan adik-adik junior (anda akan menjadi tolok ukur mereka). Setiap kebiasaan kita, bagaimana kita berperilaku, berpakaian, berkata-kata takkan lepas dari sorotan mereka. Jadi, baik-baiklah bergaul dan jangan lekas percaya siapapun. Maksudnya bukan berarti tidak boleh percaya. Begini, lebih baik jika ada duka dan suka yang ingin dibagi, sebaiknya Anda bercerita bukan dengan orang-orang yang satu lingkungan dengan Anda. Bisa saja Anda cerita dengan keluarga Anda, sahabat SD Anda ((kalau ada, kalau ga ada ya wassalam)), siapapun asal bukan satu lingkaran Anda. Bukan apa, namanya manusia semakin berusia, semakin banyak khilafnya. Seringkali informasi yang Anda berikan, dicerna lain oleh lingkungan Anda, maka bukannya menghasilkan solusi, malah masalah. INGAT, jadilah bagian dari solusi bukan masalah! ((Nemu entah dimana, lupa saya.))
Nah, itu saja dulu dari saya. Masih mau menjadi istri prajurit? Ya, kalau tidak kuat silahkan lambaikan tangan. Bukan ke kamera, tapi ke pasangannya. Bilang sudah menyerah dan sudahi saja hubungan ini. Karena menjadi istri tentara itu sulit. Lima poin diatas masih sebatas garis besar saja. Kita belum mengarah ke hal yang personal. Hehehe. Nanti ya di postingan selanjutnya kalau saya ada mood menuliskannya lho ya.
Kalau ada pertanyaan, apa mau sekedar tanya-tanya, silahkan aja tinggalkan jejak disini. Ga papa kok, saya ga pernah rese orangnya. Dan enggak pernah jahat jadi orang seingat saya lho. ((amin!))

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...