Saya punya berjuta alasan kenapa saya bisa mengeluh. Tapi lucunya akhir-akhir ini saya lebih sering ditampar dan disadarkan untuk berhenti mengeluh.
Kejadian-kejadian di Tanah Air, bahkan peristiwa yang saya alami ataupun saudara-saudara dan rekan saya alami menjadi pengingat diri bahwa mengeluh tiada gunanya.
Belum selesai air mata kita akan bencana alam yang ditimpa keluarga dan saudara kita di Lombok beberapa bulan lalu, kita harus kembali mendengar kabar dukacita dari keluarga dan saudara kita di kawasan Palu, Donggala dan sekitarnya.
Saya membayangkan betapa panik meradang bagi mereka yang merantau jauh dari daerah gempa. Harap dan cemas terbungkus dalam doa supaya keluarga mereka baik-baik saja meski komunikasi terputus.
Para korban yang harus kehilangan harta benda, orang-orang yang mereka cintai, organ tubuh, bahkan nyawa mereka sendiri.
Kalau sudah begini, harusnya kita sadar. Bila alam bisa berbicara, alam memang tak butuh manusia. Kita yang paling membutuhkannya, harusnya jangan merusaknya!
Saya tinggal di Malang, sebuah wilayah di Jawa Timur. Di tanah jawa ini pun sebenarnya daerah yang rawan bencana gempa bumi, gunung berapi yang potensial meletus sewaktu-waktu, puting beliung, dan sebagainya.
Saya sadar dan harusnya kita memang begitu. Sadar bahwa apapun bisa terjadi dalam hidup ini, sadar bahwa kita pun bisa mengalami apa yang saudara-saudara kita alami di Lombok maupun Palu kemarin.
Saya melihat ke dalam diri sendiri. Adakah nikmat yang Tuhan beri, belum bisa saya syukuri? Ternyata banyak, Kawan! Saya malu.
Bahkan bila hari ini saya boleh bergereja, saya sepatutnya bersyukur. Di banyak wilayah di negeri ini, banyak saudara-saudara seiman saya belum bisa bebas beribadah memuji dan memuliakan Tuhan.
Saya bersyukur sekali bahwa kemewahan beribadah masih boleh saya rasakan di sini.
Untuk tetap bersyukur, tetap akur, dan tetap mengukur nikmat yang Tuhan beri memang butuh keterampilan memahami dan sadar diri.
Saya masih sering melihat kanan dan kiri saya. Mengamati, menganalisis, dan mengukur kebahagiaan orang lain.
Saya lupa bahwa dengan saya melakukan hal tersebut jadi saya lupa dan tidak fokus dengan berkat nikmat porsi saya sendiri. Duh, maafkan!
Hari ini adalah hari terakhir di bulan September 2018. Sepanjang bulan ini saya merasakan yang namanya diombang-ambingkan, sedih, kecewa, tapi juga ada bahagianya, lucu, dan semuanya bercampur menjadi satu.
Semoga Oktober nanti kita semua bisa lebih baik, dan lebih sukses. Tetap berbahagia dan tetap bersemangat. Amin.
Comments
Post a Comment