Skip to main content

PHP Oh PHP...

Jadi ceritanya ada temen saya yang mau beli barang ke saya. Sebut saja, KZL. Si KZL ini janjinya transfer Senin. Sampai dengan hari Sabtu ini, beliau ga transfer-transfer. Saya bbm ga di read. Cuma delivered aja. Saya SMS ga dibales. Saya telepon ga diangkat.

Kemungkinan dia ga meresponinya adalah antara lain:
1. Sibuk.
2. Sakit.
3. Emang ga serius beli.
4. Dia mati.
Kemungkinan nomor 1 dan 2 jelas ga mungkin, karena angka statistik membuktikan separah-parahnya sakit dan sesibuk-sibuknya seseorang, yang namanya hape buat update status hampir almost selalu always pasti di tangan. Ga percaya?!
Jadi opsi nomer 1 dan 2 kita anulir saja.
Nomor 4 juga ga mungkin, kalaupun iya saya pasti kirim bunga tanda berduka jika mendengar kabar beritanya. Sampai sekarang saya belum dengar kabar apa-apa, jadi dia masih hidup sehat dan montok.
Tinggal kemungkinan nomor 3 yang sangat mungkin. Dia ga serius mau beli.
Saya adalah orang paling baik di dunia yang getol memberi orang second chance. Toleransi saya terhadap orang sangat tinggi. Dan buat saya, uang bukan segalanya. Saya juga cantik, meski sudah berstatus emak-emak... hubungannya? Enggak ada.
Si KZL ini telah menyia-nyiakan kepercayaan saya. Dia dengan gaya meyakinkan ala dia meyakinkan saya bahwa dia akan beli barang tersebut dengan harga sekian, dan ditransfer hari senin. Tapi ketika saya meminta bukti transfernya agar barang segera diproses, dia langsung hilang... lenyap meninggalkan saya dengan tanda D tok di chat BBm.
Seandainya saja, si KZL bilang membatalkan orderannya, saya lega. Setidaknya barang bisa saya oper ke customer lain sehingga tidak membuat pengrajin saya menunggu.
Ini saya di PHP in!!!
Saya kecewa.
Saya marah.
Saya bete setengah mampus karena yang mem-PHP in saya adalah orang yang sudah saya kenal 8 tahun lamanya. Orang yang saya pikir perangainya juga akan berubah. Tapi ternyata... dia masih seperti yang dahulu. Saya sedih.
Bukan apa, masalah kepercayaan adalah hal yang krusial buat saya.
Akhirnya saya mengambil suatu kebijakan agar tidak merugikan pengrajin saya dan membuat pikiran saya plong.
Tentang si KZL yang belum ngabarin sama sekali? Bodo amat!
Saya cukup tahu saja karakternya yang seperti itu. Kalau kita tidak berubah dan mempertahankan gaya lama kita yang tidak baik, kita sendiri akan ditelan waktu dan banyak orang.
Lagipula, now is a time for me to stop caring that much of others business. There are other persons who work with me professionally need my attention. So, pardon me if I am gonna be bold and firm this time.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...