Ada yang berbeda dengan musim penghujan kali ini. Pertama, ia jatuh ke bumi membasahi mereka yang telah lama kering di awal bulan November ini. Kedua, kenangan yang ia bawa kini sudah tak sama lagi.
Tanggal 6 November kemarin ia jatuh untuk pertamakali di bumi arema ini, tepatnya di depan halaman rumah kami, mengguyur dan mengirim aroma hujan yang tlah lama saya rindui.
Tanpa bermaksud lebay, apalagi sok puitis, saya menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena saya benar-benar telah lama menanti dirinya.
Tanpa bermaksud lebay, apalagi sok puitis, saya menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena saya benar-benar telah lama menanti dirinya.
Saya berterimakasih karena kasih Tuhan tlah menjelma dalam bentuk tetesan-tetesan air yang memberi kehidupan.
Kenangan
Berbicara tentang hujan jelas tak luput dari kenangan demi kenangan yang ia bawa dalam tiap butirnya.
Adalah dirinya yang ada ketika saya masih bersama si A, B, C, D, E... wah... banyak betul?!
Adalah dirinya pula yang kini menyertai ketika saya menuliskan tulisan ini.
Berbicara tentang hujan jelas tak luput dari kenangan demi kenangan yang ia bawa dalam tiap butirnya.
Adalah dirinya yang ada ketika saya masih bersama si A, B, C, D, E... wah... banyak betul?!
Adalah dirinya pula yang kini menyertai ketika saya menuliskan tulisan ini.
Tapi baiklah kita mundur di beberapa waktu yang baik, ketika saya bertemu dengan Papi Ello. Saat dimana tak seorang pun dari kami yang bisa melakukan tiap detil pertamakali kami bertemu.
Kami bertemu memang sebelum hujan turun. Waktu itu bulan September. Setelah beberapa kali kami berhubungan intens via BBm, kami memutuskan bertemu. Pertemuan kami aneh. Bahkan tak biasa. Tidak ada skenario jemput-menjemput. Yang ada kami bertemu dengan menaiki transjogja dari kediaman kami masing-masing.
Halte transjogja tempat kami turun pun berseberangan. Saya dari arah monjali, dirinya dari arah adisucipto.
Saya masih ingat ketika saya memutuskan tidak menunggunya dan malah pergi ke shopping, tempat dimana buku-buku bekas diperjualbelikan.
Ia mengirim pesan ke telepon saya menanyakan keberadaan saya, kami pun lantas bertemu dengan dirinya yang agak kesal karena saya bukannya menunggu di halte malah ngeloyor pergi kemana.
Halte transjogja tempat kami turun pun berseberangan. Saya dari arah monjali, dirinya dari arah adisucipto.
Saya masih ingat ketika saya memutuskan tidak menunggunya dan malah pergi ke shopping, tempat dimana buku-buku bekas diperjualbelikan.
Ia mengirim pesan ke telepon saya menanyakan keberadaan saya, kami pun lantas bertemu dengan dirinya yang agak kesal karena saya bukannya menunggu di halte malah ngeloyor pergi kemana.
Sama seperti hujan. Enggan untuk jatuh diam di tempat yang sama. Kalau tidak menyebar, lantas memilih menguap.
Pertemuan pertama kami boleh dikatakan sebagai kencan pertama kami. Kami tampak konyol. Dirinya berusaha ngebanyol, sementara saya terbengong tolol.
Saya sudah beberapa kali pacaran malah terlihat seperti anak kecil.
Saya sudah beberapa kali pacaran malah terlihat seperti anak kecil.
Pertemuan pertama kami ditutup dengan hujan turun. Saya masih ingat ia mengantarkan saya pulang jam 1 pagi setelah saya memaksanya menemani saya menonton Final Destination V. Selidik punya selidik, itu kencan pertamanya yang pulangnya paling larut.
Bagi saya dan bagi hujan... tak pernah ada kata larut. Tak pernah ada kata terlalu malam dan terlalu pagi, jika kami mengingini.
Bagi saya dan bagi hujan... tak pernah ada kata larut. Tak pernah ada kata terlalu malam dan terlalu pagi, jika kami mengingini.
Setelah itu kami lama tak bertemu. Hanya SMS, telepon, dan BBm sebagai media kami bertegur sapa. Namun, kata-kata kangen dan sayang mulai sering menghiasi.
Hujan menemani dan menyertai setiap kata cinta yang mulai kami semai.
Saya sedang di Bogor dan waktu itu hujan deras ketika dirinya mulai menunjukkan keinginannya untuk membuat hubungan kami sekedar teman.
Hujan menemani dan menyertai setiap kata cinta yang mulai kami semai.
Saya sedang di Bogor dan waktu itu hujan deras ketika dirinya mulai menunjukkan keinginannya untuk membuat hubungan kami sekedar teman.
Pertama kali ia nekat datang meminta izin kepada orangtua saya untuk berteman, Bogor hujan deras juga. Meski dirinya mungkin syok berat setelah mengetahui belangnya Saya yang diberitahukan oleh orangtua Saya.
Momen tersebut terjadi di musim penghujan di penghujung akhir tahun 2011.
Momen tersebut terjadi di musim penghujan di penghujung akhir tahun 2011.
Musim penghujan pertama kami yang membasahi tanaman yang menggersang, tanah yang mengering, dan jiwa kami yang sempat kosong.
Hujan Bulan November 2015
Musim penghujan ke lima kali yang kami lewati kini. Ia hadir menyejukkan kembali. Membawa kembali ingatan-ingatan yang pernah ada. Menyegarkan untuk senantiasa menyatukan... Amin.
Comments
Post a Comment