Postingan ini harusnya saya tulis persis sesudah kecelakaan terjadi. Namun, saya tidak sanggup. Membayangkan saya dan putra saya, Ello yang kala itu masih berusia 4 bulan bisa saja tewas dalam tragedi Hercules di Medan, 30 Juni 2015 silam membuat saya masih trauma sesekali waktu.
We do really never know when the last good-bye is.
Rasanya masih mimpi. Kemarin Mas Dian Sukma, seorang Penerbang dari PSDP TNI AU lulusan 2012, sempat menanyakan ke saya manakah marga yang dulu dia tulis setelah nama terangnya: Pasaribu yang didapatnya dari Bapaknya yang Batak kah atau Chaniago yang didapatnya dari Ibunya yang Padang. Saya jawab pasang saja dua-duanya. Cuma memang membuat bingung, mengingat Padang dan Batak adalah dua budaya yang sangat bertolakbelakang di Indonesia. Yang satu menganut patrilinieal, yang lainnya matrilinieal. Ini rumit karena Bapak Mas Sukma adalah seorang Batak, sementara Ibunya asli Padang. Mereka sama kuatnya.
Terlepas dari perbincangan serius kami itu, kami sama-sama naik pesawat ke Jakarta menggunakan transportasi udara yakni Hercules milik Skadron Udara 32. Kebetulan pilotnya adalah Kapten Sandy Permana 2005, dengan navigator Kapten Riri 2006, co-pil Lettu Pandu Setiawan dan Sukma Pasaribu beserta kru teknik yang membantu mulusnya misi nantinya.
Kami menggunakan pesawat Hercules sebagai sarana transportasi gratisan. Berhubung kami adalah keluarga prajurit TNI AU, yang kebetulan berdinas di Skadron 32, tidaklah sulit untuk mengurus perizinan penggunaan transportasi militer tersebut.
Singkatnya, kami pun terbang dari Lanud ABD Saleh, Malang pada tanggal 29 Juni 2015. Siang itu sebelum take-off , saya merasa pusing dan agak mual.
Semalaman saya tidak tidur! Jujur, saya enggak bisa tidur pulas. Seakan ada kejadian besar menanti. Saya ingat, saya biasanya tidak bisa tidur pulas jika keesokan harinya saya pentas, ujian, atau mau berangkat liburan heboh. Dari dulu memang begitu. Tapi ini kan cuma me Jakarta saja. Menjumpai Opung Borunya Ello.
Jadilah saya teronggok di dalam pesawat yang sesak. Ada banyak yang menumpang dalam pesawat tersebut, termasuk para karbol ganteng yang akan balik ke Jogja siang itu. Sebelum kami ke Jakarta, kami round dulu sebentar di Jogja.
Kembali ke sebelum take-off, saya yang pusingnya luar biasa itu memandangi wajah putra saya dan mulai berdebat dalam batin,"berdoa ga ya? Ah.. ga usah. Aman kok. Kan pesawat militer. Jarang kecelakaannya kok."
Semalaman saya tidak tidur! Jujur, saya enggak bisa tidur pulas. Seakan ada kejadian besar menanti. Saya ingat, saya biasanya tidak bisa tidur pulas jika keesokan harinya saya pentas, ujian, atau mau berangkat liburan heboh. Dari dulu memang begitu. Tapi ini kan cuma me Jakarta saja. Menjumpai Opung Borunya Ello.
Jadilah saya teronggok di dalam pesawat yang sesak. Ada banyak yang menumpang dalam pesawat tersebut, termasuk para karbol ganteng yang akan balik ke Jogja siang itu. Sebelum kami ke Jakarta, kami round dulu sebentar di Jogja.
Kembali ke sebelum take-off, saya yang pusingnya luar biasa itu memandangi wajah putra saya dan mulai berdebat dalam batin,"berdoa ga ya? Ah.. ga usah. Aman kok. Kan pesawat militer. Jarang kecelakaannya kok."
Tiba-tiba suara hati saya yang lain berbisik,"Kamu kemana-mana dan mau ngapa-ngapain kan selalu berdoa. Kenapa sekarang enggak? Ingat, kebiasaan bagus kenapa tidak dipelihara? Lagipula, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."
Lalu saya berdoa mohon keselamatan sebelum kami meninggalkan ujung landasan menuju langit Jogja siang itu.
Lalu saya berdoa mohon keselamatan sebelum kami meninggalkan ujung landasan menuju langit Jogja siang itu.
Setibanya di Jogja, rasa mual saya semakin hebat. Ello tidur pulas dalam dekapan saya. Mas Sukma wira-wiri di hadapan saya. Saya iseng-iseng foto putra saya yang tengah terbaring pulas di dudukan pesawat Hercules.
Saya tidak tahu kalau gambar tersebut adalah gambar terakhir Hercules A-1310 yang masih utuh.
Saya tidak tahu kalau gambar tersebut adalah gambar terakhir Hercules A-1310 yang masih utuh.
Jogjakarta panas. Sama kayak di Malang. Bedanya saya senang. Tersenyum bahagia karena bisa landing dengan selamat di Lanud Adisucipto. Saya terngiang dengan masa lalu saya. Memori-memori lama menguak kembali. Meski kurang dari 1 jam round di Jogja, saya bahagia. Hanya menatap langit Jogja, tulisan Lanud Adisucipto, hanggar pesawat jupiter, dan birunya langit Jogja itu membuat saya bahagia meski rasa mual tak berhenti mendera.
Ketika pesawat hendak take-off lagi menuju Halim Perdanakusuma, saya pun berdoa lagi memohon ampunan dan keselamatan kepada Tuhan Allah.
Ketika pesawat hendak take-off lagi menuju Halim Perdanakusuma, saya pun berdoa lagi memohon ampunan dan keselamatan kepada Tuhan Allah.
We Probably Were the Last Persons of 32nd Air Squadron They Met
"Ito, ngapain ke Jakarta? Ikut aja kami besok ke Pontianak habis dari Medan." Kata Mas Sukma sambil mencubit anakku, Ello. Kami tiba di Halim PK dengan selamat tanpa kurang suatu apapun pada pukul 12.45 siang tanggal 29 Juni 2015.
Saya beritahu bahwa saya ada urusan keluarga di Jakarta. Kalau kelar urusan, Kamis ini kami berencana menumpang pulang pakai pesawat ini lagi.
Saya beritahu bahwa saya ada urusan keluarga di Jakarta. Kalau kelar urusan, Kamis ini kami berencana menumpang pulang pakai pesawat ini lagi.
Dengan Mas Pandu Setiawan, saya masih sempat mengucapkan terimakasih. Dia masih membalas dengan senyuman ditengah ke-umekan pekerjaannya. Sebelum naik ke bus penjemputan, saya sempat ketemu Bang Riri. Masih sempat beliau bertanya,"Ngapain ke Jakarta? Bagaimana kabar suami?" Sambil mencowel Ello.
Bagian yang saya rasa sangat sedih adalah saya dan Ello mungkin satu-satunya orang dari keluarga skadron 32 yang terakhir kali dan terlama melihat mereka dalam balutan overall orange mereka.
Tidak Bisa TIDUR Nyenyak
Fix 2 malam saya tidak tidur. Malam tanggal 29 Juni 2015, saya berusaha keras untuk tidur. Ello sudah pulas dari tadi. Saya kesal sendiri karena besok pagi saya harus menyetir mobil menuju Bogor untuk mengurus perpanjangan STNK mobil.
Fix 2 malam saya tidak tidur. Malam tanggal 29 Juni 2015, saya berusaha keras untuk tidur. Ello sudah pulas dari tadi. Saya kesal sendiri karena besok pagi saya harus menyetir mobil menuju Bogor untuk mengurus perpanjangan STNK mobil.
Saya bingung ada apa. Jujur, saya capek. Setelah semalaman tidak tidur, masih harus mengurus Ello sendiri, ditambah malam ini tidak tidur, besok mau menyetir... aduh! Iso remek awakku rek!
Jadilah besok paginya saya menyetir dengan pelan sekali, khawatir kenapa-kenapa karena masih mengantuk.
Jadilah besok paginya saya menyetir dengan pelan sekali, khawatir kenapa-kenapa karena masih mengantuk.
The Tragedy I Won't Ever Forget and The Lessons I Learned
Jam 12 siang, perpanjangan STNK selesai. Mertua yang ikut menemani, saya ajak ke rumah di Bogor. Sekedar melihat-lihat saja mengingat rumah kami di Bogor yang sudah lama tak dihuni. Betul ternyata. Sudah macam hutan liar sendiri di komplek perumahan tersebut.
Tiba-tiba hape saya berdering. Saya malas mengangkatnya. Tapi ini kok lebih dari berkali-kali ya deringannya. Segera saya angkat.
Telepon dari Chika Setiawan, istri dari teman letting suami.
"Mom, Let Ado engga papa kan?"
"Papi Ello ga terbang, Mama Calvin. Lagi standby di Malang."
"Syukurlah, siapa-siapa aja letting kita yang terbang ya?"
"Kenapa emangnya, Mak Calvin ?"
"Lho kan pesawat Hercules jatuh di Medan. Enggak tahu?"
"KAPAN?!"
"Barusan."
"Cuma tergelincir kan ya? Bukan jatuh hancur?"
"Belum ada pengumuman resmi TNI AU, tapi itu pesawat skadron 32. Kalau liat kecelakaannya sih parah, Mom."
Tiba-tiba hape saya berdering. Saya malas mengangkatnya. Tapi ini kok lebih dari berkali-kali ya deringannya. Segera saya angkat.
Telepon dari Chika Setiawan, istri dari teman letting suami.
"Mom, Let Ado engga papa kan?"
"Papi Ello ga terbang, Mama Calvin. Lagi standby di Malang."
"Syukurlah, siapa-siapa aja letting kita yang terbang ya?"
"Kenapa emangnya, Mak Calvin ?"
"Lho kan pesawat Hercules jatuh di Medan. Enggak tahu?"
"KAPAN?!"
"Barusan."
"Cuma tergelincir kan ya? Bukan jatuh hancur?"
"Belum ada pengumuman resmi TNI AU, tapi itu pesawat skadron 32. Kalau liat kecelakaannya sih parah, Mom."
DEG!!!
Jantung saya langsung berdebar kencang.
Jantung saya langsung berdebar kencang.
"Aku coba liat tv dulu ya, Mama Calvin."
"Iya, Mom."
Telepon putus. Ada banyak sms berdatangan dan missed call. Perasaan saya enggak enak. Saya nyalakan tv dan terhenyk mendengar berita yang saya tonton.
Di semua channel tv, siarannya mengenai jatuhnya pesawat Hercules C-130 tipe B dengan nomor lambung A-1310. Saya telepon suami saya. Suami saya tidak angkat. Suami saya menjawab via line. Singkat, padat dan jelas: "Aku sibuk, sayang. Nanti aku hubungi. Itu pesawat yang kalian naiki kemarin. Jatuh di Medan tadi. Keep silent dulu ya. Belum ada pengumuman resmi berapa korban, tapi melihat kecelakaannya dipastikan tidak ada yang selamat."
"Iya, Mom."
Telepon putus. Ada banyak sms berdatangan dan missed call. Perasaan saya enggak enak. Saya nyalakan tv dan terhenyk mendengar berita yang saya tonton.
Di semua channel tv, siarannya mengenai jatuhnya pesawat Hercules C-130 tipe B dengan nomor lambung A-1310. Saya telepon suami saya. Suami saya tidak angkat. Suami saya menjawab via line. Singkat, padat dan jelas: "Aku sibuk, sayang. Nanti aku hubungi. Itu pesawat yang kalian naiki kemarin. Jatuh di Medan tadi. Keep silent dulu ya. Belum ada pengumuman resmi berapa korban, tapi melihat kecelakaannya dipastikan tidak ada yang selamat."
Saya seperti main roller coaster dimana saya tengah berada di momen roller coaster membawa saya meluncur ke bawah dari ketinggian. Mencekam.
Saya minta ke mertua untuk langsung pulang ke Jakarta. Menangis saya tidak bisa. Karena saya dalam kondisi tidak pasti. Seakan digantung. Belum ada kejelasan bagaimana kondisi selanjutnya.
Pikiran saya berkecamuk.
Batin saya tersiksa.
Sungguh, momen tersebut membuat saya menderita.
Saya minta ke mertua untuk langsung pulang ke Jakarta. Menangis saya tidak bisa. Karena saya dalam kondisi tidak pasti. Seakan digantung. Belum ada kejelasan bagaimana kondisi selanjutnya.
Pikiran saya berkecamuk.
Batin saya tersiksa.
Sungguh, momen tersebut membuat saya menderita.
Bagaimana jika suami tercinta saya ikut dalam misi tersebut?
Bagaimana keadaan saya dan anak saya jika suami saya pergi untuk selamanya?
Eh... kan saya yang naik pesawat itu dengan putra saya? Bagaimana jika pesawat tersebut sudah rusak ketika kami take-off dari Malang atau Jogja kemarin siang?
Bagaimana jika kami yang mati?
Bagaimana... bagaimana dan bagaimana...
Bagaimana keadaan saya dan anak saya jika suami saya pergi untuk selamanya?
Eh... kan saya yang naik pesawat itu dengan putra saya? Bagaimana jika pesawat tersebut sudah rusak ketika kami take-off dari Malang atau Jogja kemarin siang?
Bagaimana jika kami yang mati?
Bagaimana... bagaimana dan bagaimana...
Kami pulang dengan diam. Mertua tidak banyak bersuara. Kami sempatkan ke GKPO sebentar menemui adik ipar saya. Beliau sedang jualan takjil di depan gereja saat itu. Ketika adik ipar saya memberitahu bahwa tidak ada satupun kru yang selamat, disitulah saya langsung menangis sejadi-jadinya tanpa perduli muka umum.
Rasanya lebih parah dari patah hati oleh orang yang sama berkali-kali, lebih sakit daripada dimaki-maki dan dihujat khalayak ramai, dan lebih menyedihkan daripada ditinggalkan oleh kerabat yang kita kenal sekalipun.
Rasanya lebih parah dari patah hati oleh orang yang sama berkali-kali, lebih sakit daripada dimaki-maki dan dihujat khalayak ramai, dan lebih menyedihkan daripada ditinggalkan oleh kerabat yang kita kenal sekalipun.
Saya membayangkan satu persatu wajah kru pesawat A-1310. Masih segar dalam ingatan saya tawa, senyum, gagahnya, dan kini tinggallah nama dan kenangan.
Mereka yang pernah datang ke rumah dinas kami, yang pernah bertindak konyol, yang pernah menyebalkan hati, dan pernah membuat dongkol tapi tanpa kami sadari kami kagumi.
Mereka yang pernah datang ke rumah dinas kami, yang pernah bertindak konyol, yang pernah menyebalkan hati, dan pernah membuat dongkol tapi tanpa kami sadari kami kagumi.
Tragedi tersebut membuat saya sadar bahwa saya sebagai orang istri dari air crew yang notabene juga merupakan prajurit TNI AU harus bisa mempersiapkan diri dan menyadari betul bahwa suami saya bukanlah milik saya. Ia milik Negara dan milik Tuhan Allah. Suami saya takkan pernah menjadi milik saya sampai Ia dipanggil kelak oleh Sang Khalik.
Ketika suami saya mengeluh pekerjaannya yang 24 jam sehari dan 7x dalam seminggu full, saya harus sabar dan banyak mendengar.
Ketika Ia lelah, saya bukannya menambah keletihannya dengan mengeluh melainkan bisa membantunya mendinginkan kepala dan hatinya.
Ketika dirinya ingin melepas penat, saya harus mampu bekerja lebih ekstra untuk melayaninya.
Ketika Ia lelah, saya bukannya menambah keletihannya dengan mengeluh melainkan bisa membantunya mendinginkan kepala dan hatinya.
Ketika dirinya ingin melepas penat, saya harus mampu bekerja lebih ekstra untuk melayaninya.
Di lain sisi, saya sadar betul saya tidak boleh melimpahkan kewajiban seorang suami sebagai pemberi nafkah hanya di bahunya. Saya harus membantunya dan melatih diri saya sendiri untuk tidak menggantungkan diri.
Di lain sisi, saya sudah lama berhenti berharap kepada pemerintah, apalagi instansi tempat suami saya bekerja untuk memperhatikan nasib para pegawainya. Saya tidak bisa memaksa siapapun untuk memperhatikan sarana dan prasarana infrastruktur untuk menjamin keselamatan penerbangan dan kerja.
Terlepas dari siapapun yang memimpin, saya sudah berhenti berharap. Saya berharap kepada Tuhan Allah untuk mengetuk pintu hati para pemimpin di pemerintahan ini.
Agar ketika memutuskan suatu kebijakan bisa memberi win-win solution .
Agar ketika memutuskan suatu kebijakan bisa memberi win-win solution .
Comments
Post a Comment