"Awas, jangan sampai anak kamu jatuh! Anak-anak saya enggak pernah itu jatuh sama sekali!"
Ibu mertua saya, usia 49 tahun yang cantik dan baik hati, cuma tata bahasa dan intonasi penyampaiannya dalam mengemukakan sesuatu masih agak berantakan.
Ibu mertua saya, usia 49 tahun yang cantik dan baik hati, cuma tata bahasa dan intonasi penyampaiannya dalam mengemukakan sesuatu masih agak berantakan.
Ello, anak pertama saya sudah pernah jatuh dari tempat tidur. Tenang! Jatuhnya dari tempat tidur yang cuma sejengkal tingginya dari permukaan lantai.
Dan bukan karena ketidaksengajaan saya, Ello jatuh. Justru karena saya menginginkan dia belajar jatuh. Lho?!
Dan bukan karena ketidaksengajaan saya, Ello jatuh. Justru karena saya menginginkan dia belajar jatuh. Lho?!
Tentang jatuh ini merupakan teori kecil-kecilan saya. Saya berpikir jika Ello tidak belajar segera untuk merasakan jatuh, dia akan kaget ketika suatu saat nanti dirinya jatuh dari ketinggian yang tak seberapa.
Dengan usianya yang 7 bulan jalan 8 bulan, dan dengan panjang tubuh lebih dari 75cm, rasanya jatuh dari ketinggian sejengkal tangan saya bukan masalah besar.
Terbukti memang, dia jatuh dengan kepala mendarat duluan.
Benjol? Tidak.
Menangis? Kencang pake banget.
Tapi setelah melihat saya tersenyum, dirinya pun lantas tersenyum, tertawa, dan merangkak lagi kemudian... jatuh lagi. Tapi tidak menangis lagi kali lain.
Dengan usianya yang 7 bulan jalan 8 bulan, dan dengan panjang tubuh lebih dari 75cm, rasanya jatuh dari ketinggian sejengkal tangan saya bukan masalah besar.
Terbukti memang, dia jatuh dengan kepala mendarat duluan.
Benjol? Tidak.
Menangis? Kencang pake banget.
Tapi setelah melihat saya tersenyum, dirinya pun lantas tersenyum, tertawa, dan merangkak lagi kemudian... jatuh lagi. Tapi tidak menangis lagi kali lain.
Saya langsung merenung. Mungkin Tuhan sang Pencipta saya juga begitu sesekali: membiarkan kita sengaja untuk jatuh dibawah pengawasanNya agar nanti ketika kita diperhadapkan masalah yang lebih besar, kita tidak langsung putus asa. Kita bisa bangkit lagi.
Satu hal yang bisa menenangkan kita, yakni:
DIA mengawasi kita jatuh. Memastikan kita belajar untuk kebal secara aman dengan caraNya yang seringkali sulit kita pahami.
DIA mengawasi kita jatuh. Memastikan kita belajar untuk kebal secara aman dengan caraNya yang seringkali sulit kita pahami.
Comments
Post a Comment