Skip to main content

Tentang Jatuh

"Awas, jangan sampai anak kamu jatuh! Anak-anak saya enggak pernah itu jatuh sama sekali!"
Ibu mertua saya, usia 49 tahun yang cantik dan baik hati, cuma tata bahasa  dan intonasi penyampaiannya dalam mengemukakan sesuatu masih agak berantakan.
Ello, anak pertama saya sudah pernah jatuh dari tempat tidur. Tenang! Jatuhnya dari tempat tidur yang cuma sejengkal tingginya dari permukaan lantai.
Dan bukan karena ketidaksengajaan saya, Ello jatuh. Justru karena saya menginginkan dia belajar jatuh. Lho?!


Tentang jatuh ini merupakan teori kecil-kecilan saya. Saya berpikir jika Ello tidak belajar segera untuk merasakan jatuh, dia akan kaget ketika suatu saat nanti dirinya jatuh dari ketinggian yang tak seberapa.
Dengan usianya yang 7 bulan jalan 8 bulan, dan dengan panjang tubuh lebih dari 75cm, rasanya jatuh dari ketinggian sejengkal tangan saya bukan masalah besar.
Terbukti memang, dia jatuh dengan kepala mendarat duluan.
Benjol? Tidak.
Menangis? Kencang pake banget.
Tapi setelah melihat saya tersenyum, dirinya pun lantas tersenyum, tertawa, dan merangkak lagi kemudian... jatuh lagi. Tapi tidak menangis lagi kali lain.
Saya langsung merenung. Mungkin Tuhan sang Pencipta saya juga begitu sesekali: membiarkan kita sengaja untuk jatuh dibawah pengawasanNya agar nanti ketika kita diperhadapkan masalah yang lebih besar, kita tidak langsung putus asa. Kita bisa bangkit lagi.
Satu hal yang bisa menenangkan kita, yakni:
DIA mengawasi kita jatuh. Memastikan kita belajar untuk kebal secara aman dengan caraNya yang seringkali sulit kita pahami.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...