Skip to main content

Sesuatu Tentang Sabtu

Sebenarnya tidak ada relevansinya dengan hari Sabtu. Lantaran postingan saya ini, saya tulis di hari Sabtu. Saya juga bingung memberi titel terhadap tulisan saya kali ini, dan sebenarnya apa yang hendak saya tulis.
Jadi saya mencoba menulis pelan-pelan, berusaha mereka-reka sebenarnya kemana arah tulisan saya ini nanti, dan sebelumnya memohon ampunan jika dahi Saudara mengernyit karena antara judul, isi hingga tagar tidak memiliki korelasi sama sekali.
Jadi mungkin seperti itulah saya saat sekarang: pikiran dan perasaan sedang bertentangan.
Pertentangannya terletak di: tepat atau tidaknya saya menulis perasaan dan pikiran saya saat ini karena saya rasa-rasa seperti membuka memori saya yang lampau tentang suatu kejadian yang tidak mengenakkan.
Tapi barangkali saya terlalu cepat menyimpulkan keadaan diri saya di hari Sabtu yang indah ini.
Kalau memang bertentangan, tentu saya hidup takkan pernah nyaman.
Baiklah, saya ceritakan dulu perlahan-lahan sampah pikiran saat ini.


Beberapa waktu yang lalu, ketika saya asyik mengunggah beberapa gambar jualan saya di akun instagram pribadi saya (@sinaga_mrs), saya tanpa sengaja -benar, saya tidak sengaja.- menemukan akun seseorang yang sebut saja inisialnya SME dengan jenis kelaminnya perempuan. Ibarat sudah terlanjur basah, nyemplung saja sekalian, maka saya telusuri akun instagramnya. Saya percaya bahwa media sosial menjadi bahan representasi diri, entah sebagai untuk ajang pamer diri atau sekedar tempat untuk melepas penat (baca: lari dari kenyataan). Jujur saja, blog ini bagi saya adalah untuk alasan yang kedua tadi. Sama seperti SME dengan akun instagramnya.
Mengapa saya begitu tertarik membahas SME? Sebegitu pentingnya kah sosoknya bagi saya?
Untuk membahas seberapa signifikansinya bagi kehidupan saya, saya akan menjelaskannya secara perlahan-lahan. Namun, alasan saya sangat tertarik adalah saya pernah berkonfrontasi langsung dengan SME untuk hal yang menurut saya 5S: Sumpah Sungguh Sangat Sepele Sekali. Tapi bukankah kita manusia memang begitu? Bisa ribut gara-gara hal sepele?
Terlepas dari apa yang melatarbelakangi perseteruan kami, ada kata-kata tak laik diucapkan telah terlontar dari pihak SME.
Kata-kata berupa caci-maki, hinaan, dan sebagainya yang masih terngiang jelas karena dipublikasikan melalui media sosial.
Beberapa hal yang kemudian saya garisbawahi:
Pertama, semarah-marahnya Saudara, jangan sampai Saudara luapkan kemarahan Saudara di media sosial. Jikalau nafsu ingin meluapkan tak terbendung lagi, ungkapkanlah dengan cara yang santun. Jika tidak, para netizen akan berasumsi Saudara sendiri yang punya ulah.
Saya memang sempat berang. Mau marah juga. Tapi pikir punya pikir, buat apa? Tidak ada manfaatnya juga saling serang di media sosial. Lebih baik bertemu langsung, duduk, dan berdebat. Bukankah cara tersebut menunjukkan kita manusia beradab?
Jadi, saya memilih diam saja.
Kedua, jika Saudara hendak mencaci seseorang, pastikan hidup Saudara akan jauh lebih berbahagia saat ini dan kedepannya. Karena jika tidak, orang yang pernah Saudara rendahkan harkat dan martabatnya akan melihat Saudara dengan tatapan kasihan. Tetapi, alangkah baiknya jika Saudara tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sedap didengar dan diucapkan. Selain membawa dampak jelek terhadap citra Saudara, juga sungguh tidak mengenakkan jika Saudara atau bahkan kerabat terdekat Saudara yang menerima balik segala kata-kata yang tidak baik tersebut.
Kejadian konfrontasi tersebut telah berlalu nyaris 4 tahun yang lalu. Di penghujung tahun 2011, saya datang menyapa SME yang ingin menghindari saya. Tapi saya teguh. Saya sapa, dan saya katakan saya minta maaf untuk semua kesilapan yang pernah terjadi antara saya dan dirinya.
Setelah itu saya berhenti untuk memikirkan kata-kata cacian dan hinaan yang terucap darinya.
Saya pun melanjutkan hidup.
Saya rasa SME juga begitu. Dia melanjutkan hidup. Hidup yang menjadi pilihannya. Saya sempat iba. Tapi kemudian saya sadar, SME adalah sosok manusia yang pernah hadir di masa lalu.
Beberapa tweet-nya dan kalimat-kalimat yang tertera di akun instagramnya menuliskan bahwa dirinya bahagia dengan hidupnya saat ini, dan bahagia dengan pilihan-pilihannya.
Meski sempat saya mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati, apa betul dirinya bahagia?
Karena bahagia sesungguhnya itu bisa dibaca, sebagaimana rasa kesal dan kecewa terbaca dengan mudahnya saat ini melalui media sosial. Saya tidak bisa membaca letak bahagianya.
Tapi sungguh saya berharap SME bahagia.
Ketiga, hinaan dan hujatan yang Saya terima menjadi bahan koreksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya pernah khilaf. Barangkali, saya pernah menyakiti hati SME sehingga dia begitu marah. Entah sikap atau kata-kata Saya yang mendukakan hatinya. Meski saya tidak tahu yang mana, saya berani untuk meminta maaf.
Bagi saya, urusan selesai begitu saya minta maaf dan tidak mengulangi hal-hal yang memperkeruh suasana. Jikalau SME tidak ikhlas memaafkan, itu bukan urusan saya lagi.
Yang lucu adalah justru konfrontasi kami ini menjadikan saya belajar untuk lebih baik lagi.
Kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan  darinya yang sulit untuk saya lupakan justru menjadi semacam alarm pribadi jikalau saya mulai angkuh sendiri.
Tanpa saya sadari, saya butuh pribadi seperti SME. Pribadi yang tidak segan-segan berkata kasar untuk menantang saya menjadi pribadi yang baik.
Eh, tapi bukan berarti juga ya, saya dengan sengaja menghadirkan orang-orang seperti SME dalam kehidupan saya.
Percayalah, konflik itu melelahkan.
Hehehe.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...