Skip to main content

Kangen

Rasanya menyenangkan ketika kemanapun kita pergi nanti, tiap tempat yang pernah kita jejaki akan trus kita rindui.
Saya, 27 tahun.
Kangen.
Saya memang lagi kangen.
Kangen pada kota Yogyakarta. Kota yang sudah 1,5 tahun tidak pernah saya injak lagi sejak Maret 2014.
Lucu memang, saya juga mengangeni suasana dan bahkan para manusianya yang sempat saya kenal. Suasana yang membuat saya pernah sedih, bahagia, bahkan bingung dalam menafsirkannya.
Saya merantau pertamakali di Yogyakarta tahun 2006. Kota yang memiliki universitas negeri tersohor yang entah bagaimana ceritanya saya kok bisa-bisanya diterima jadi mahasiswanya. Tapi saya cukup bahagia menyandang status sebagai alumni nya. Karena tidak semua yang berstatus mahasiswanya, bisa menjadi alumninya.


Saya mencintai Yogyakarta justru di detik-detik akhir keberadaan saya di sana. Saya tak bisa pungkiri, kenyataan saya pernah bermasalah dengan dosbing, skripsi, mantan pacar, orang-orang yang dengan mereka saya berkonflik, dan  passion saya di dunia seni justu membuat saya semakin mencintai Yogyakarta. 
Yogyakarta adalah tempat dimana semua jenis manusia memiliki tempat tanpa merasa termarjinalkan.
Tidak ada yang satu pun manusia yang saya kenal berani dengan frontal meremehkan manusia yang lainnya. Mereka justru saling memuji dibalik caci-maki.
"Cowok itu mukanya jelek banget tapi otaknya encer tingkat dewa!" ;
"Dia kan kaya parah, tapi mau-maunya kerja di Starbucks. Kurang duit apa ya? Cuman seru sih anaknya." ;
"Dibalik wajahnya yang polos kayak bayi gitu, dia itu sexy dancer, cuy!"
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat menarik yang kita temui.
Yogyakarta adalah miniatur Indonesia.
Ingat, Yogyakarta dan bukan Jakarta lho ya.
Karena menurut pemikiran saya yang dangkal ini, Yogyakarta masih  berusaha mempertahankan nilai-nilai ke Indonesia annya ketimbang Jakarta. Tentu saya harus mengemukakan data-data valid dan bukan argumentasi belaka. Tapi saya lagi sedang tidak mood berbicara statistik. Jadi, jika Saudara tidak setuju dengan saya, sungguh saya enggak apa-apa lho.
Balik lagi ke Yogyakarta Berhati Nyaman. Dari teman laki-laki yang pernah saya kenal dan menjalin hubungan di Yogyakarta, akhirnya ada 1 juga yang berhasil mengubah status saya menjadi istri sekaligus ibu dari anaknya.
Saya jadi terkenang kembali masa-masa kami pacaran. Bukan karena masa-masa pacaran kami yang indah, justru karena masa awal perkenalan kami dirundung banyak tantangan.
Memangnya tantangannya apa saja?
Pertama sekali, MANTAN. Mantan selalu menjadi momok. Baik mantan saya maupun mantannya suami. Tapi itu bukan masalah yang patut dibesarkan sekarang. Cuma kalau berbicara dulu, rasanya memang agak besar. Hehehe.
Kedua, kuliah saya yang enggak kelar-kelar karena saya banyak maunya. Saya maunya bisa ngelarin skripsi disambi dengan kegiatan saya yang berhubungan dengan entertaining dan hasrat traveling saya. Selain itu, saya juga ingin tetap berkiprah menulis dan juga membantu dosen riset. Percaya atau tidak, saya juga melakukan bisnis kecil-kecilan dengan teman saya. Kami memulai online shop yang kami namakan desister project . Sebuah online shop yang mendesain atasan untuk perempuan dengan model tubuh curvy.
Ternyata saya tidak bisa menggapai semuanya. Saya menyia-nyiakan cumlaude saya yang tadinya bisa saya tempuh cuma 3,5 tahun dengan nilai IPK 3,65 dengan ambisi-ambisi semu.
Yang saya namakan kegiatan entertaining dan rodho nyeni toh hanya bersifat temporer. Memang menyenangkan tapi juga melelahkan karena tidak mendapat dukungan.
Traveling menghabiskan tabungan saya. Tapi saya tidak menyesal, cuma timingnya saja tidak tepat.
Baik menulis maupun melakukan riset saya lakukan setengah hati dan setengah jadi. Sehingga saya boleh dibilang poor sekali dalam hal ini meski digaji lumayan tinggi.
Online shop yang saya lakukan dengan teman saya memang berjalan dengan baik bahkan laris manis. Tapi saya harus menyudahi karena waktu saya di Yogyakarta sudah usai.
Ketiga, masa-masa pendidikan suami cukup menguras emosi kami berdua. Karena masa pendidikannya juga merupakan masa transisi menuju kedinasan barunya.
Meski begitu, kami tetap berusaha menjalaninya. Saya akui tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.
Jujur, saya jadi kangen. Kangen terhadap masa-masa yang lampau meski saya pun tak mengingini waktu-waktu yang sulit terulang kembali.
Saya mengangeni setiap sudut Yogyakarta meski kota tersebut bukan kota asli saya dilahirkan atau dibesarkan secara fisik. Yogyakarta adalah kota pertama saya merantau. Kota dimana saya didewasakan dan menjadi manusia.
Saya kangen makanan dan minumannya:  gudeg di pinggir jalan dini hari, angkringan yang sedianya nasi kucing-teh manis-kopi-sate usus, kopi klotok (oplosan kopi hitam dan alkohol) di selokan mataram, wedang uwuh sang minuman tradisional hasil racikan dedaunan yang dikeringkan - jahe - induk gula, aneka makanan yang dijajakan tepat di emperan maupun trotoar jalanan. Rasa debu jalanan ternyata memberi cita rasa tersendiri yang sukar dilupakan.
Saya kangen suasana Yogyakarta sehabis hujan, ketika sedang terik-teriknya matahari, ketika jalanan tertutup debu abu merapi, ketika angin puting beliung merobohkan pepohonan dan menerbangkan genteng, dan ketika gempa membuat orang-orang keluar dari rumah dengan tatapan sama.
Saya pernah merasakan itu semua.
Saya kangen manusianya. Dari jenis manusia yang keberadaannya sulit diterima secara norma, etika dan agama hingga kelompok manusia yang sebaliknya.
Suatu saat nanti saya akan kembali ke Yogyakarta.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...