Skip to main content

Syukur dan Tafakur

KANGEN.

Tapi ada takut juga. Takut tidak bisa lagi seperti dahulu kala: jujur dalam menuangkan perasaan ke dalam bentuk tulisan. Takut bila suatu hari nanti dijudge berdasarkan tulisan. Ah, dasar saya! Banyak takutannya! Tidak berubah!

Baiklah. Izinkan saya memulai lagi, setelah sekian lama vakum entah kenapa?! 
Hm, kenapa ya? Bukan karena sibuk, tapi lebih karena mungkin memang tidak menyempatkan waktu saja. Jadi, baiklah malam ini saya beranikan diri menulis ditemani alunan lagu-lagu galau. 

ASTAGA! Lagu-lagu galau memang juaranya membuat perasaan dan kenangan kejadian yang lampau kembali menguap. 

Oke-oke. Fowkes! 

Jadi, di tahun 2022 yang baru berjalan sebulan dan seminggu ini sebenarnya tidak ada kejadian yang wah-wah. Semuanya sebenarnya ya sudahlah berjalan saja lah seperti biasanya. Tapi kesannya kok seperti tidak bersyukur ya saya-nya? Hahaha. Maaf-maaf. Inilah saya, manusia yang banyak nyelenehnya tapi banyak ngangeninnya. Sudah, ga usah ditahan kalau mau hoekh. Mau diskip juga engga apa. Sudah biasa! Hehehe.

Awal tahun 2022 sebenarnya terasa berat dijalani. Saya enggak pesimis si, cuma berusaha realistis saja: tagihan dan cicilan sudah satu rangkap lah ya itu, kemudian ketidakjelasan sementara saya penginnya ya yang jelas-jelas saja, dan belum lagi urusan berhubungan dengan banyak orang. Soal bersyukur, jelas lah saya bersyukur. Kalau dipikir-pikir, bisa bertahan menjalani tahun 2021 dengan sehat saja sudah puji Tuhan kan ya? 

Tapi kayak kata Pendeta (Lupa pendeta siapa namanya) selama kita masih hidup, namanya masalah pasti akan selalu ada. Kalau sudah tidak ada masalah, artinya kita itu sudah mati. Okelah. 

Jadi, Januari yang isinya 31 hari itu pun akhirnya berlalu, berganti menjadi Februari yang isinya jauh lebih singkat. Hari ini, my Aquarius boy pun berusia 7 tahun. Puji Tuhan! Anak saya yang pertama yang menurut saya ganteng dan rupawan di mata saya dan yang katanya mirip puolll dengan saya itu, tersenyum dengan sumringahnya menceritakan kepada dunia bahwa usianya kini 7 tahun. 

Siapa yang tidak diceritakannya tentang dirinya yang kini berusia 7 tahun? Guru sekolahnya, teman-teman sekelasnya, bahkan teman-teman Mami-nya pun diceritain. Anakku yang bahagia, sayanya yang ketar-ketir. Aduh, minta apa lagi nanti ya? Jujur diri ini agak dag-dig-dug karena kuatir belum bisa memenuhi keinginannya kali ini karena memang harus diakui banyak prioritas yang harus diutamakan. 

"Mami, Abang mau hadiah." katanya. 

ADUH! Muka saya tersenyum dan bertanya: "Abang mau apa?" 

"Hm, mainan deh Mi." Saya mengernyit. 

"Mainan apa lagi? Kan mainannya sudah banyak?" tanya saya sambil menahan nafas. Mulai sesak ceritanya. 

"Apa ya, Mi?" balasnya bertanya dengan polosnya. 

"Yaa mana Mami tau." jawab saya. Sok cool padahal mulai berkeringat. Ya, takut saja dia minta hal yang belum bisa saya penuhi. Rasanya menyedihkan saja apabila sebagai orangtua, saya belum bisa memenuhi permintaan anak saya. Anak saya toh tidak minta dilahirkan di... aduh, air mata saya menitik menceritakan bagian ini. 

Singkat cerita, anak sulungku tidak meminta hal-hal yang di luar kemampuanku sebagai orangtua. Saya pun sebagai orangtua pun tidak mau dia menjalani hari ulangtahunnya sama seperti hari-hari biasa. Saya tekankan harus ada yang spesial, dan itu bukan berarti harus dengan hadiah mahal, atau dirayakan secara berlebihan. Hari ulangtahunnya harus dibuat spesial karena hari itulah dia mampu belajar memaknai satu tahun usia yang boleh Tuhan tambahkan baginya.

Di hari ulangtahunnya, saya belikan sebuah kue ulangtahun dihiasi dengan aneka coklat manis, menyiapkan nasi kuning dan printilannya, kemudian meniup balon, dan membuat  banner kecil ukuran 1mx1m seharga 35rb. Hari ini, ruang tamu kami sulap secara sederhana. Boleh percaya atau tidak, saya pun tidak percaya ketika kedua anak ganteng saya yang meniupi balon demi balon. Balon yang mereka tiup itu bukan balon berukuran kecil tapi besar-besar. Saya saja ngeri melihat balon-balon yang ditiup seukuran 3 kali ukuran kepala mereka. Ketika balon yang mereka tiup terlalu besar dan akhirnya DHUAAAAR meletus, mereka hanya terkejut sebentar lalu tertawa dan kemudian meniup balon yang lain dan tetap berukuran 3 kali besarnya dari kepala mereka. 

Saya iri dengan keberanian mereka. Dulu mungkin saya begitu, tapi kini menjadi orangtua sepertinya saya mulai gampang merasa takut, cemas, dan banyak pertimbangannya. 

Di usianya yang ke-tujuh, saya pikir akan ada hal besar yang akan berubah di dalam diri anak saya. Ternyata... belum. Saya masih berteriak kepadanya untuk menyelesaikan tugasnya, dan sekolah online masih berlanjut yang mana saya harus syukuri juga, karena bolak-balik mengantarnya pergi sekolah yang jaraknya bisa 9,2 KM dari rumah dinas milik pemerintah, membuat saya juga kelelahan sendiri. 

Saya teringat lagi pernah ada pendeta (apa pastur ya?) pernah berkata demikian: "Jikalau pada saat ini engkau tidak bisa bersyukur mengenai apa yang terjadi dalam dirimu, diamlah dan renungkanlah itu semuanya dalam doamu kepada Tuhanmu."

Seringkali dalam hidup ini banyak hal yang tak kupahami tapi terjadi. Entah maksud Tuhan itu apa. Saya yang sudah 34 tahun ini menjadi penganutnya saja tidak paham cara kerjaNya dan cara berpikirNya bagaimana. 

Jadi kita sebenarnya cuma dikasih dua pilihan: Bersyukur. Kalau belum bisa bersyukur ya tafakur, alias merenung saja dulu. Berpikir dulu. 

Anak-anak saya kini tengah beristirahat dengan Opung Borunya, alias mertua perempuan saya. Saya sebentar lagi juga akan tidur setelah menyelesaikan curahan hati pertama saya ini di tahun 2022. Tapi mungkin sebelumnya saya mau main game dulu lah: township dan evermerge. Aduh, jadi addicted ini! 

Ya sudahlah, begitu saja dulu ya. Agak lega juga setelah mewek sedikit. Biasalah, menjadi emak-emak membuat hati ini semakin rapuh tersentuh. Aisssh!










Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...