Skip to main content

Selamat Menuju 8 Tahun, Dear Us

8 Februari kemarin Saya baru sadar bahwa itu adalah hari dimana kami (saya dan suami) bersepakat untuk bertunangan delapan tahun sebelumnya. Tidak seperti pertunangan pada umumnya, pertunangan atau martumpol dalam istilah bahasa Batak adalah sebuah pertunangan yang mana jaraknya tidak akan terlalu jauh dari waktu pernikahan. Jadi, 8 Februari 2014  kami bertunangan, di 22 Februari-nya kami menikah. 

Jadi 6 hari lagi kami akan merayakan anniversary yang ke-8 tahun. Fiuh! Sebuah waktu yang tidak pendek tapi ya belum panjang-panjang amat, karena saya masih menantikan waktu-waktu yang lebih lama dan panjaaaang bersamanya. 

Menikah.
Punya anak, hidup dengan usia panjang disertai cerita-cerita cinta yang menyenangkan.
Hidup berbahagia, makmur, sejahtera dan harmonis sampai tua. 
Cita-citanya sih begitu. 

Penginnya.
Kan engga salah ya? Hehehe. Tapi apa daya, hidup kan tidak semanis madu. Bahkan madu alami pun pasti ada pahit-pahitnya sedikit. Demikian juga kami dalam mengarungi bahtera rumah tangga menuju delapan tahun ini. 

Jujurly, belum lewat seminggu ini kami berdua berpelukan saling saying sorry, saling meratapi nasib, dan saya tenggelam dalam pelukannya menangisi diri ini. Masalahnya apa sih? Yah, ada lah. Namanya hidup. 

Sesak menghimpit. Jenuh mendera. Pengin lari, tapi enggak tahu mesti kemana selain ke bahu lebar suami dan Tuhan tentunya. Kami kembali bersatu saling menguatkan. Suami memberi motivasi dan menasehati. Saya pun demikian. Kita saling-lah. Saya pasti banyak kurangnya. Dia apalagi. Hahahaha. Bercanda! Kami sama kok. Setali tiga uang.

Di usia pernikahan yang menjelang delapan tahun ini, ternyata saya baru menyadari betapa saya menyukai sikap bucinnya suami. Saya pikir saya yang terlalu bucin, eh tapi kemarin dia confess dong.

"Mi, aku tu bucin loh!" akunya.
Eh! Saya wajar kaget dong awalnya. Tapi kemudian saya berusaha mengingat-ingat sikapnya ketika saya mungkin terkesan agak terlalu dekat lawan jenis, menurut pengamatannya. 

Saya baru menyadari ketidaksukaannya ketika dia mulai menarik diri, pelit berbicara, bersikap lebih dingin dan cuek, dan memilih berdiam diri pertanda dia sedang cemburu. 

Ah, suami! Padahal ketika dia dekat dengan siapa pun, saya ya engga gitu-gitu amat cemburunya. Ya, engga cemburu lah intinya. Sebel aja. Eh, sama yak? Hehehe.

Menuju delapan tahun pernikahan kami ini, saya engga mau muluk-muluk. Saya cuma berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus untuk penyertaan-Nya selalu dimana suami dan saya boleh tetap saling pelukan, saling rangkulan, saling nangis barengan, saling menguatkan, saling menopang.

Jelas, kita pengin dari segi finansial jauuuuh lebih baik, dari segi akademik, penginnya bisa sekolah tinggi dan lebih tinggi lagi, dan syukur-syukur bisa bawa orangtua ke Eropa, Amerika, atau Jerussalem lah. Seabrek-abrek keinginan yang pengin diraih bersama tapi Tuhan bilang belum karena kita dianggap-Nya masih perlu banyak belajar lagi. 

Mungkin sparks between us udah ga kayak zaman pacaran. Udah ga pake acara sparkling-sparkling lagi karena emang bukan itu lagi kali ya. Kalau kangen dengan sparks-nya, mending liat-liat foto lama. Ga tau sih ya, biasanya jadi senyum-senyum sendiri kayak "ya ampuuuun, unyu banget sih kitaaaa...."

Eniwei, ngeliat video dan foto-foto pernikahan juga bikin banjir air mata karena 2 orang sudah mendahului pergi ke rumah Bapa di Surga, yaitu Namboru yang biasa kupanggil Namboru Grace Simbolon, dan Makela alias Ayah mertua. Kepergian kedua orang yang boleh dibilang sangat dekat membuat saya tersadar bahwa perjalanan kami (baca: pernikahan) harus bisa sampai garis finish nanti. Enggak mau tahu caranya gimana, gimana caranya! TITIK! 

Izin titip link ah... 
Manatau nanti pas uda galau, buka-buka blog lagi jadi ingetin diri lagi supaya tetep saling mencintai, no matter HOW...

https://youtu.be/chYgt1sNPXk




Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...