Skip to main content

Itu Kok Ngomong "Itu"

"Jadinya males aja bergaul dengan orang-orang kek gitu, Kak!" kata S, via video call tadi sore. S itu adikku. Perempuan usia 31 tahun yang pencapaiannya udah uwow banget menurutku. Dalam mencapai segala sesuatu di hidupnya, dia bisa dikategorikan diatas kecepatan rata-rata pokoknya. Di fase hidupnya yang menurutku uda enak banget, ternyata dia masih menyimpan ketidakpuasan yang akhirnya dimuntahkannya tadi. 

Sebenarnya saya uda bisa menerka kalau pasti ada yang tidak beres dengan adikku ini dari cara kami berkomunikasi semingguan ini. Rasa marah, jengkel yang tiada berkesudahan, muak, dan semuanya itu bisa kurasakan ketika ia bercerita tentang dirinya. Namun dari semua topik yang diceritakannya, ada satu topik yang membuatku tergelitik untuk menuliskannya. Setidaknya untuk menjadi pengingat bagiku supaya jangan jadi pribadi seperti itu

Hm, gimana ya memulainya agar tidak nganu kali ketika dituliskan? Hehehe.

Jadi, begini. Biarlah agak berbelit-belit sedikit. Namanya juga baru menulis lagi. Hehehe (lagi).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etnosentrisme adalah sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Dan ini bermakna negatif. 

Pertanyaanku, apabila kita memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan kita sendiri lalu menilai ternyata ada aspek kebudayaan kita ini yang lebih rendah dari kebudayaan maupun masyarakat suku lain, nah sikap kita itu apa namanya ya? Karena begini, selama ini kita menilai dari cara pandang kita untuk menilai orang lain. Tapi ternyata setelah kita mengenal banyak orang, cara berpikir kita tentang sikap kita atau komunitas kita pada umumnya pun berubah.

 Duh, njelimet ya?

Jadi, seringkali saya menemukan kenyamanan justru ketika melakukan apa yang saya sukai, seperti bertransaksi jual beli, JUSTRU dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Kalaupun ada orang-orang yang aku kenal melakukan bisnis dengan saya lebih baik orang-orang tersebut bukan dari komunitas/golongan itu deh. Nah, ternyata sama! S juga merasakan hal yang sama. 

Dia mengungkapkan sebuah cerita yang memang membuat tidak enak hati. Dia bertemu si ABC (sebut aja gitu) di sebuah bank. S menyapa dengan ramah, karena S memang kenal dengan si ABC, selain satu tempat ibadah, juga kenal dengan keluarganya. Si ABC dengan acuh tak acuh berlalu menimbulkan luka di hati S. Saya bilang ke S untuk tidak memasukkannya dalam hati karena bisa jadi si ABC ini juga tidak ngeh akan keberadaan S. S keuhkeuh kalau ABC melihatnya, namun karena S waktu itu emang nobody ya ngapain gitu dibalas sapa? 

Suatu hari, tiada angin hujan dan badai, datanglah ABC menelepon S untuk minta bantuan. S dongkol. Tapi tetap dilayaninya karena sudah jadi karakter dasar S untuk memberikan bantuan dan pelayanan. Namun karena rasa jengkel, S tidak segan-segan untuk mengenai extra-charge, meski dirinya bisa mengupayakan tidak ada biaya sama sekali. Namun, kata S: "Enak bener! Semua-semua mau gratis! Kalau butuh, baru ngemis-ngemis. Kalau ga butuh, dianggap manusia aja kaga!" Begitulah kira-kira. Oh ya, extra-charge yang diterima S disalurkan kepada para pekerja yang sudah dimintai tolong.  

Ada lagi cerita lucu lainnya. Ini cerita saya ya, tapi S pernah mengalami. Serupa tapi tidak mirip. Aku  berjualan tas kulit ular. Waktu itu ada temen Mama yang beli. Yah, dari komunitas itu. Saya bilang harganya 900,000. Dia minta 800,000 dengan alasan sudah pensiun, temennya Mama, dan segenap ina-inu alasan lainnya. Ya, ga papa. Saya iyakan! Dia kasih DP 500,000 dan minta dicustom tas dengan model yang dia inginkan. Agak sebal sebenarnya! Uda minta diskon, eh banyak permintaan lagi! Tapi ya lagi-lagi, atas dasar pelayanan (ceile) ya kita layani. Setelah tas jadi, sebelum aku kirim, aku konfirmasi ke dia. Dia harusnya transfer 300,000 + ongkir dong ya?! Karena sudah DP di awal 500,000 atas pembelian tas harga 800,000 yang sebelumnya harganya 900,000. Dengan manisnya, dia info kalau uda transfer 200,000 karena sisa di ATM nya 200,000. 

Wajar ya kalau aku kecewa?! Hihihi. Kecewa-ku karena mereka-mereka itu yang mengklaim dan membungkus dirinya dengan citra yang wuidihmakcetarmenggelegar ternyata dalam pelaksanaannya NOL gede. Mereka-mereka itu yang bilang :"hey, kita kan saudara!"; "udah kenal lama lho kita!" endesbre, justru merupakan kaum yang sering ngecewain. 

Sementara itu...

Orang-orang lain di luaran sana. Orang-orang yang tidak pernah merasa ekslusif, orang-orang yang merasa dirinya biasa wae, justru ketika melakukan transaksi jual-beli malah melebihkannya dari nilai nominal yang ada. Misalkan harganya 785,000. Eh ditransfer 800,000! Atau banyak hal lainnya yang diberi dan itu tidak hanya sekedar materi, seperti menolong, memperhatikan, dan itu tidak hanya sebatas lips service.

Justru dari mereka-mereka yang bukan dari golongan itu aku belajar banyak hal, tentang memberi, tentang bersikap tulus hati, dan tidak iri namun justru bisa turut bangga dan memacu diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Saya bersyukur saya langsung merantau, lalu berkeluarga dengan orang yang sama sekali baru, dan bertemu dengan banyak orang yang berasal dari latar belakang berbeda, yang tidak masalah menjadi sederhana, yang mau bersaing untuk prestasi bukan sekedar soal materi, yang tidak pernah meremehkan atau menganggap rendah orang lain. Saya yakin sebenarnya masih banyaaaaaaak orang-orang yang pikirannya luas dan tidak secetek kaum itu. Tapi ya ketutup aja jadinya karena terlalu banyak kaum nyelenehnya yang bergaya dan bersuara. Ya kali ya!

Oh ya, dari tadi saya bilang kaum/komunitas itu, padahal sejatinya saya dan S juga bagian dari komunitas itu. Hehehe, lucu ya? Itu ya kok ngomong itu.

Ah ya, mbuhlah...





 

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...