Skip to main content

Day 1462: Tidak Setengah Hati dan Tidak Setengah Jadi

Ajari kami ya, Tuhan Allahku untuk mampu mengampuni satu sama lain ketika kata-kata kami menyakiti hati pasangan kami satu sama lain ataupun ketika tindakan kami membuat kami saling bersusah hati.
Berilah kami roh kekuatan melalui Roh KudusMU ya, Yesus Kristus ketika kami suami-istri mulai lelah dan putus asa dalam menghadapi satu sama lain.
Malang, 10 Juni 2014.


Saya tulis tulisan tersebut di halaman Alkitab saya (Alkitab adalah buku terkumuh yang saya pernah punyai karena penuh dengan coretan tangan saya) , masih segar dalam ingatan saya alasan kenapa saya tulis tulisan tersebut. Saya pernah sedih, jengkel, dan kecewa terhadap tingkah laku suami saya. Sayangnya, saya  lupa bagaimana kronologis peristiwa tersebut mengingat kejadian tersebut sudah setahun lebih berlalu.
Ketika saat teduh tadi, saya buka lembaran Alkitab dan menemukan banyak sekali tulisan-tulisan penuh cinta dan bersyukurnya saya terhadap berkat yang Tuhan Allah berikan kepada saya ketimbang potongan kalimat minta kekuatan akibat kekecewaan.
Saya sadari hidup ini tidak pernah akan mulus. Wong jalanan tol saja ada juga yang bergelombang dan rusak, apalagi hidup kita?
Tuhan Allah masih pelihara hubungan kami. Hubungan kami tidaklah selalu mulus, tapi juga tidak dirundung duka menerus. Suka duka bergantian, tanpa kami sadari itu yang membuat kami semakin mencintai.
30 Oktober 2011
Hari itu genap kami dekat selama sebulan lebih. Jujur, niat pacaran tidak ada dalam diri saya. Alasannya: saya habis putus, ada mantan lain yang ingin saya jumpai masih studi di UK, sementara dirinya sekedar saya anggap teman cerita saja. Toh saya ketemunya cuma sekali setelah itu engga pernah ketemu lagi. Ya, saya tahu stigmatisasi apa yang kemudian saudara pikirkan. Saya player? Bukan. Saya adalah perempuan yang haus atensi dan butuh kasih sayang saat itu.
Sekedar bbm-an, sms, dan teleponan. Tidak ada kata-kata sayang. Dia juga sedang ada masalah dalam hubungannya dengan para mantan yang seabrek itu. Jadilah kami dua pribadi yang saling mengisi hingga saya melihat Papi dari putra kami, Ello mengambil keputusan serius yang meski terseok-seok ia jalani, ia tetap teguh dalam pendiriannya.
Dia nembak saya.
Masalah nembak ini juga lucu. Di satu sisi, dia harus berkoordinasi dengan mantannya waktu itu. Ini tak bisa saya lupakan, karena saya sedang serius nonton pertandingan Liga Champion, yang main waktu itu Chelsea lawan siapa saya lupa. Lalu dia nembak, sembari bilang," tunggu dulu aku telepon mantanku dulu."
Kali berikutnya dia menelepon, saya pure nothing to lose. Saya suka, ya saya bilang saja. Untuk pacaran? Tidak apa-apa, toh cuma sebulan saja. Habis itu paling  tus...putus.
Akhirnya dia memilih saya. Saya tidak surprise, biasa saja. Karena kemenangan chelsea di grup kualifikasi saat itu lebih mengejutkan saya.
Chelsea masuk babak selanjutnya. Saya dan dia jadian. Sempurna. Belakangan baru saya tahu alasan suami sulit mengambil keputusan. Dia merasa tidak enak ternyata. Tidak enak karena keputusannya jelas dan kelak akan selalu menyakiti mantan dan keluarganya yang notabene sudah sangat dekat. Tapi dia juga sudah tidak nyaman lagi menjalin hubungan cinta dengan mantannya.
Satu hal yang kemudian saya pelajari dan sadari: Hubungan yang masih bertahan meski sudah tidak ada lagi kenyamanan, itu artinya hubungan tersebut hanya dilandasi rasa kasihan belaka.
Day 1, Day 2, ... Day 1462.
Teman-teman selalu bilang mbok ojo diitung yoo. Dijalani aja.
Saya cuma tersenyum. Saya tetap menghitung hari demi hari yang kami lalu. Meski tidak melulu mencatat detail peristiwa yang kami alami setiap hari, tapi peristiwa-peristiwa tertentu saya rangkum sebagai bahan introspeksi diri dalam berhubungan.
Di dalam kebersamaan kami yang sudah menginjak empat tahun ini, banyak hal yang sudah terjadi. Kesulitan dan kesukaran kami sering jumpai, tapi kami percaya Tuhan Allah kami izinkan itu terjadi untuk kami hadapi:
Dicaci-maki di awal hubungan kami.
Dipecundangi.
Dianggap bukan siapa-siapa, ya memang bukan siapa-siapa juga sih. Hehehe.
Dan banyak lainnya. Kami boleh saja berhenti, lalu pergi tak kembali.
Tapi bukankah itu yang diingini mereka yang hanya bisa mendengki? Dan lagipula, apa untungnya bagi kami jika kami lekas berhenti?
Dan jika kami berhenti sebelum waktunya berakhir dalam setiap aspek apapun dalam hidup ini, bagaimana kami bisa yakin akan berhasil?
Justru yang akan ada hanyalah luka.
Untuk setia sampai akhir jelas dibutuhkan kesabaran yang panjang. Dan kita perlu waspada agar tidak tergoda untuk berhenti dari sesuatu yang belum selesai karena tinggi hati.
Mari anakku, tunaikan tugas yang dipercayakan kepadamu; sebagai seorang Ibu dan istri dengan tidak setengah hati dan juga tidak dengan setengah jadi.
Elora Mazda Munthe, Mama.
Selamat hari jadi yang ke 1462 ya, Kekasih hati. Peluk cium mesra selalu.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...