Ajari kami ya, Tuhan Allahku untuk mampu mengampuni satu sama lain ketika kata-kata kami menyakiti hati pasangan kami satu sama lain ataupun ketika tindakan kami membuat kami saling bersusah hati.
Berilah kami roh kekuatan melalui Roh KudusMU ya, Yesus Kristus ketika kami suami-istri mulai lelah dan putus asa dalam menghadapi satu sama lain.
Malang, 10 Juni 2014.
Berilah kami roh kekuatan melalui Roh KudusMU ya, Yesus Kristus ketika kami suami-istri mulai lelah dan putus asa dalam menghadapi satu sama lain.
Malang, 10 Juni 2014.
Saya tulis tulisan tersebut di halaman Alkitab saya (Alkitab adalah buku terkumuh yang saya pernah punyai karena penuh dengan coretan tangan saya) , masih segar dalam ingatan saya alasan kenapa saya tulis tulisan tersebut. Saya pernah sedih, jengkel, dan kecewa terhadap tingkah laku suami saya. Sayangnya, saya lupa bagaimana kronologis peristiwa tersebut mengingat kejadian tersebut sudah setahun lebih berlalu.
Ketika saat teduh tadi, saya buka lembaran Alkitab dan menemukan banyak sekali tulisan-tulisan penuh cinta dan bersyukurnya saya terhadap berkat yang Tuhan Allah berikan kepada saya ketimbang potongan kalimat minta kekuatan akibat kekecewaan.
Saya sadari hidup ini tidak pernah akan mulus. Wong jalanan tol saja ada juga yang bergelombang dan rusak, apalagi hidup kita?
Tuhan Allah masih pelihara hubungan kami. Hubungan kami tidaklah selalu mulus, tapi juga tidak dirundung duka menerus. Suka duka bergantian, tanpa kami sadari itu yang membuat kami semakin mencintai.
Tuhan Allah masih pelihara hubungan kami. Hubungan kami tidaklah selalu mulus, tapi juga tidak dirundung duka menerus. Suka duka bergantian, tanpa kami sadari itu yang membuat kami semakin mencintai.
30 Oktober 2011
Hari itu genap kami dekat selama sebulan lebih. Jujur, niat pacaran tidak ada dalam diri saya. Alasannya: saya habis putus, ada mantan lain yang ingin saya jumpai masih studi di UK, sementara dirinya sekedar saya anggap teman cerita saja. Toh saya ketemunya cuma sekali setelah itu engga pernah ketemu lagi. Ya, saya tahu stigmatisasi apa yang kemudian saudara pikirkan. Saya player? Bukan. Saya adalah perempuan yang haus atensi dan butuh kasih sayang saat itu.
Hari itu genap kami dekat selama sebulan lebih. Jujur, niat pacaran tidak ada dalam diri saya. Alasannya: saya habis putus, ada mantan lain yang ingin saya jumpai masih studi di UK, sementara dirinya sekedar saya anggap teman cerita saja. Toh saya ketemunya cuma sekali setelah itu engga pernah ketemu lagi. Ya, saya tahu stigmatisasi apa yang kemudian saudara pikirkan. Saya player? Bukan. Saya adalah perempuan yang haus atensi dan butuh kasih sayang saat itu.
Sekedar bbm-an, sms, dan teleponan. Tidak ada kata-kata sayang. Dia juga sedang ada masalah dalam hubungannya dengan para mantan yang seabrek itu. Jadilah kami dua pribadi yang saling mengisi hingga saya melihat Papi dari putra kami, Ello mengambil keputusan serius yang meski terseok-seok ia jalani, ia tetap teguh dalam pendiriannya.
Dia nembak saya.
Masalah nembak ini juga lucu. Di satu sisi, dia harus berkoordinasi dengan mantannya waktu itu. Ini tak bisa saya lupakan, karena saya sedang serius nonton pertandingan Liga Champion, yang main waktu itu Chelsea lawan siapa saya lupa. Lalu dia nembak, sembari bilang," tunggu dulu aku telepon mantanku dulu."
Dia nembak saya.
Masalah nembak ini juga lucu. Di satu sisi, dia harus berkoordinasi dengan mantannya waktu itu. Ini tak bisa saya lupakan, karena saya sedang serius nonton pertandingan Liga Champion, yang main waktu itu Chelsea lawan siapa saya lupa. Lalu dia nembak, sembari bilang," tunggu dulu aku telepon mantanku dulu."
Kali berikutnya dia menelepon, saya pure nothing to lose. Saya suka, ya saya bilang saja. Untuk pacaran? Tidak apa-apa, toh cuma sebulan saja. Habis itu paling tus...putus.
Akhirnya dia memilih saya. Saya tidak surprise, biasa saja. Karena kemenangan chelsea di grup kualifikasi saat itu lebih mengejutkan saya.
Chelsea masuk babak selanjutnya. Saya dan dia jadian. Sempurna. Belakangan baru saya tahu alasan suami sulit mengambil keputusan. Dia merasa tidak enak ternyata. Tidak enak karena keputusannya jelas dan kelak akan selalu menyakiti mantan dan keluarganya yang notabene sudah sangat dekat. Tapi dia juga sudah tidak nyaman lagi menjalin hubungan cinta dengan mantannya.
Akhirnya dia memilih saya. Saya tidak surprise, biasa saja. Karena kemenangan chelsea di grup kualifikasi saat itu lebih mengejutkan saya.
Chelsea masuk babak selanjutnya. Saya dan dia jadian. Sempurna. Belakangan baru saya tahu alasan suami sulit mengambil keputusan. Dia merasa tidak enak ternyata. Tidak enak karena keputusannya jelas dan kelak akan selalu menyakiti mantan dan keluarganya yang notabene sudah sangat dekat. Tapi dia juga sudah tidak nyaman lagi menjalin hubungan cinta dengan mantannya.
Satu hal yang kemudian saya pelajari dan sadari: Hubungan yang masih bertahan meski sudah tidak ada lagi kenyamanan, itu artinya hubungan tersebut hanya dilandasi rasa kasihan belaka.
Day 1, Day 2, ... Day 1462.
Teman-teman selalu bilang mbok ojo diitung yoo. Dijalani aja.
Saya cuma tersenyum. Saya tetap menghitung hari demi hari yang kami lalu. Meski tidak melulu mencatat detail peristiwa yang kami alami setiap hari, tapi peristiwa-peristiwa tertentu saya rangkum sebagai bahan introspeksi diri dalam berhubungan.
Teman-teman selalu bilang mbok ojo diitung yoo. Dijalani aja.
Saya cuma tersenyum. Saya tetap menghitung hari demi hari yang kami lalu. Meski tidak melulu mencatat detail peristiwa yang kami alami setiap hari, tapi peristiwa-peristiwa tertentu saya rangkum sebagai bahan introspeksi diri dalam berhubungan.
Di dalam kebersamaan kami yang sudah menginjak empat tahun ini, banyak hal yang sudah terjadi. Kesulitan dan kesukaran kami sering jumpai, tapi kami percaya Tuhan Allah kami izinkan itu terjadi untuk kami hadapi:
Dicaci-maki di awal hubungan kami.
Dipecundangi.
Dianggap bukan siapa-siapa, ya memang bukan siapa-siapa juga sih. Hehehe.
Dan banyak lainnya. Kami boleh saja berhenti, lalu pergi tak kembali.
Tapi bukankah itu yang diingini mereka yang hanya bisa mendengki? Dan lagipula, apa untungnya bagi kami jika kami lekas berhenti?
Dicaci-maki di awal hubungan kami.
Dipecundangi.
Dianggap bukan siapa-siapa, ya memang bukan siapa-siapa juga sih. Hehehe.
Dan banyak lainnya. Kami boleh saja berhenti, lalu pergi tak kembali.
Tapi bukankah itu yang diingini mereka yang hanya bisa mendengki? Dan lagipula, apa untungnya bagi kami jika kami lekas berhenti?
Dan jika kami berhenti sebelum waktunya berakhir dalam setiap aspek apapun dalam hidup ini, bagaimana kami bisa yakin akan berhasil?
Justru yang akan ada hanyalah luka.
Justru yang akan ada hanyalah luka.
Untuk setia sampai akhir jelas dibutuhkan kesabaran yang panjang. Dan kita perlu waspada agar tidak tergoda untuk berhenti dari sesuatu yang belum selesai karena tinggi hati.
Mari anakku, tunaikan tugas yang dipercayakan kepadamu; sebagai seorang Ibu dan istri dengan tidak setengah hati dan juga tidak dengan setengah jadi.
Elora Mazda Munthe, Mama.
Mari anakku, tunaikan tugas yang dipercayakan kepadamu; sebagai seorang Ibu dan istri dengan tidak setengah hati dan juga tidak dengan setengah jadi.
Elora Mazda Munthe, Mama.
Selamat hari jadi yang ke 1462 ya, Kekasih hati. Peluk cium mesra selalu.
Comments
Post a Comment