Skip to main content

Untuk Kalian Yang Pernah Kuabaikan Tanpa Kata


Sial, aku galau lagi. Akibat menikmati lagu-lagu indie yang membangkitkan memori. Aku paling benci saat ingatan lama kembali menyeruak, mendesak, dan membuat sesak. Betul, aku memang susah melupakan.

Bagi kalian yang pernah merasa sakit kutinggalkan, percayalah waktu kan mengobatinya. Tapi waktu yang sama itu tak pernah berpihak padaku. Dia memang berlalu, tapi jejaknya penuh duri: membesat, mengiris bak sembilu. Pelan-pelan aku tersiksa oleh ingatan, terutama tentang kalian yang kubayangkan hanya bisa diam terpaku tanpa tahu kenapa aku pergi dulu.

Aku pergi begitu saja, menutup pintu tanpa suara, dan meninggalkan kalian dengan ribuan tanya yang tak pernah kujawab. Saat itu, aku merasa akulah pusat semesta: merasa paling benar, paling tersakiti, dan merasa kepergianku adalah hak yang tak perlu diperdebatkan.

Aku terlalu pengecut untuk sekadar berucap "maaf."

Aku menangis bukan karena ingin kembali ke masa itu, tapi karena aku akhirnya menyadari betapa berharganya ketulusan yang pernah kalian beri, yang dulu kusia-siakan demi sebuah justifikasi bahwa aku yang benar. Waktu mungkin sudah mengobati luka kalian, namun waktu yang sama justru sedang menguliti egoku, menunjukkan betapa kelirunya aku dulu.

Seandainya garis waktu dulu bisa kulewati dengan men-skip orang-orang semudah memilih topik di beranda medsos. Tapi aku bisa apa? Aku pun manusia yang belajar menjadi benar dengan harus banyak melakukan kesalahan. Tangis dan sumpah serapah kalian didengar Semesta, dan itu semua melukis aku yang sekarang.

Sial, aku menangis lagi.

Kudoakan yang terbaik bagi kalian yang pernah kuabaikan tanpa kata, yang tanpa aba-aba sepatah katapun kutinggalkan dengan tanda tanya yang besar di dada. Aku berharap kita jangan pernah bertemu lagi, sampai kapan pun... karena di depan kalian, aku takkan sanggup membendung air mata dari besarnya rasa berdosa ini.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...