Bagi kalian yang pernah merasa sakit kutinggalkan, percayalah waktu kan mengobatinya. Tapi waktu yang sama itu tak pernah berpihak padaku. Dia memang berlalu, tapi jejaknya penuh duri: membesat, mengiris bak sembilu. Pelan-pelan aku tersiksa oleh ingatan, terutama tentang kalian yang kubayangkan hanya bisa diam terpaku tanpa tahu kenapa aku pergi dulu.
Aku pergi begitu saja, menutup pintu tanpa suara, dan meninggalkan kalian dengan ribuan tanya yang tak pernah kujawab. Saat itu, aku merasa akulah pusat semesta: merasa paling benar, paling tersakiti, dan merasa kepergianku adalah hak yang tak perlu diperdebatkan.
Aku terlalu pengecut untuk sekadar berucap "maaf."
Aku menangis bukan karena ingin kembali ke masa itu, tapi karena aku akhirnya menyadari betapa berharganya ketulusan yang pernah kalian beri, yang dulu kusia-siakan demi sebuah justifikasi bahwa aku yang benar. Waktu mungkin sudah mengobati luka kalian, namun waktu yang sama justru sedang menguliti egoku, menunjukkan betapa kelirunya aku dulu.
Seandainya garis waktu dulu bisa kulewati dengan men-skip orang-orang semudah memilih topik di beranda medsos. Tapi aku bisa apa? Aku pun manusia yang belajar menjadi benar dengan harus banyak melakukan kesalahan. Tangis dan sumpah serapah kalian didengar Semesta, dan itu semua melukis aku yang sekarang.
Sial, aku menangis lagi.
Kudoakan yang terbaik bagi kalian yang pernah kuabaikan tanpa kata, yang tanpa aba-aba sepatah katapun kutinggalkan dengan tanda tanya yang besar di dada. Aku berharap kita jangan pernah bertemu lagi, sampai kapan pun... karena di depan kalian, aku takkan sanggup membendung air mata dari besarnya rasa berdosa ini.
Comments
Post a Comment