I just celebrated my 35. Meski "celebrated" terkesan exaggerating, but still happy birthday to me! ππ
Di usia yang Tuhan berikan ini, (masih) banyak hadiah yang diberikanNya kepada kami yang kalau dihitung satu demi satu kayaknya jari-jemari ini enggak akan cukup menggambarkan bagaimana melimpahnya berkat Tuhan bagi kami.
Ada satu berkat yang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala karena terpukau: watching my sons grow bigger, wiser, and tougher (AMEN). Tingkah mereka memang sering membuat saya (bahkan kami, dalam konteks ini saya dan suami) agak sakit kepala, tapi tidak jarang juga berdecak kagum bangga. Ya sebandinglah ya! ππ
Jadi, mereka mulai berani mengeskpresikan ketidaksukaan/ketidaksetujuan mereka terhadap cara kami, perkataan kami, dan bahkan aturan kami. Berkompromi sih pasti. Tapi, kami apalagi saya pun masih duniawi dan sangat manusiawi bila emosi lebih sering terjadi daripada forum diskusi.
Berbekal ilmu parenting yang sangat dangkal yang hanya mengandalkan selentingan tiktok yang FYP, bahkan reels di Instagram dan Facebook, serta pengenalan akan Firman Tuhan pada Alkitab, kami berusaha mengkolaborasikan ilmu dan pengetahuan yang kami dapatkan itu untuk merawat, mengasihi, mencintai, dan memenuhi aspek kehidupan anak-anak kami sebagai hak mereka sebagai anak yang mana merupakan kewajiban kami sebagai orangtua.
Punya anak itu gampang. (Some of you maybe disagree cause due to certain conditions, having a baby is not as easy as it's said)
Memberikan hak-hak mereka itu yang super duper gaaa mudah, menurut saya. Kami sebagai orangtua berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi hak mereka.
Hanya saja, WAJAR dong ya kalau setelah memberikan hak mereka, kami minta hak kami juga sebagai orangtua. Saya enggak muluk-muluk mengharuskan anak-anak kami jadi juara olimpiade A-B-C-D...Z. Enggak! Saya tahu bagaimana rasanya dituntut terus dalam bidang akademis, sementara passion saya enggak disitu.
Syukurnya sejauh ini saya dan suami masih satu visi dan misi, dan semoga aja berlanjut terus khususnya dalam mengarahkan anak-anak mencapai potensi terbaik mereka. Suami yang kebetulan berprofesi sebagai prajurit pun tidak mengharuskan anak-anaknya menjadi prajurit juga. Memaksakan mereka jadi prajurit tapi merekanya juga enggak senang, kan kasian ya?!
Saya sebagai orangtua juga enggak pernah merendahkan profesi manapun di dunia ini, termasuk profesi Papi-nya. Saya justru berusaha membuka cakrawala berpikir mereka. Setiap profesi ada konsekuensi yang menyertai. Engga ada profesi yang enggak enak, atau enaak banget. Semuanya sama: sama-sama butuh perjuangan dalam menitinya.
Tapi anak-anak kan masih kecil juga ya. Terlalu berat memaksakan mereka berpikir itu sejak dini. Jadi saya dan suami masih dalam porsi: Yuk, berbagi tugas!
Berbagi tugas apa???
Jadi kami menerapkan: 4B buat anak-anak kami, dan 6B buat kami.
Apa itu 4B?
Apa itu 6B?
4B merupakan singkatan dari: Belajar, Berdoa, Bersyukur, dan Baca Alkitab. 4B itu menjadi tanggungjawab dan kewajiban yang harus anak-anak kami lakukan. Tidak lebih, Tidak kurang.
Sementara kami sebagai orangtua melakukan 6B: Berdoa, Bekerja, Belajar, Bersyukur, Baca Alkitab, dan Berusaha. Kami menambahkan Bekerja dan Berusaha sebagai kewajiban yang harus kami lakukan sebagai orangtua.
Konsistensi adalah KUNCI.
PR sulit menjadi orangtua adalah ketika kami meminta anak kami melakukan kewajibannya, kami pun harus lebih dahulu memberi contoh bahwa kami pun melakukan yang menjadi kewajiban kami.
Sebagai contoh, jadi pernah suatu hari kami pulang dari bepergian. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Ketika kami kembali, kami mendapati anak-anak belum tidur. Saking lelahnya, rasa-rasanya kami hanya ingin langsung rebahan saja. Di saat kami sudah siap-siap mau tidur, Anak-anak kami dengan polosnya bertanya: "Kok engga baca Alkitab dan berdoa dulu sebelum tidur, Mi?
Disitu rasanya saya seperti tertampar bolak-balik. πππ
Dengan terpaksa, saya angkat badan dan mengambil Alkitab lalu membaca satu pasal baru mengajak untuk berdoa bareng sebelum tidur. Kejadian ini berulang terus di poin-poin B lainnya. Ketika saya malas-malasan belajar untuk menghadapi tes, saya lalu teringat: "Oh! Ini tugas saya untuk belajar!" Ya meski belajar kan tidak harus pada saat mau menghadapi tes saja toh?!
Tanpa kami sadari, apa yang sudah kami bagi dan terapkan ke anak-anak TERNYATA menjadi bahan pembelajaran bagi diri kami juga. Mereka belajar, kami belajar lebih lagi.
Comments
Post a Comment