Skip to main content

Bye-bye 2015. Welcome 2016.

2015 akan segera usai. 2016 tinggal dalam hitungan hari saja. Selayaknya menjelang akhir tahun, kita biasa menuliskan rangkaian resolusi berisi harapan dan target yang akan kita capai di tahun yang baru nanti.
Saya sering menuliskan resolusi jelang akhir tahun. Sekitar 30% nya ternyata bisa saya capai, selebihnya akan saya tuliskan kembali sebagai resolusi di tahun yang akan datang.
Namun, di akhir tahun 2014 kemarin saya sama sekali tidak menulis resolusi. 2015 saya jalani mengalir apa adanya. Target saya baru buat ketika ingat dan sedang minat. Puji Tuhan, Tuhan Allah tetap melindungi dan menyertai sehingga banyak pencapaian yang bisa saya dan suami capai di tahun 2015 kemarin.
Sebagaimana anak sekolah yang punya catatan rapor sebagai hasil evaluasi belajar, saya mencoba membuat evaluasi dan laporan terhadap hasil yang sudah saya dan suami capai.
Kenapa harus ada saya dan suami???
KARENA saya dan suami sekarang sudah 1 paket sekarang. Hehe..


2015
1. Pebruari 2015, kami mendapat hadiah yang luar biasa dari Tuhan Allah kami. Seorang putra yang luar biasa menggemaskan, Benedict Gabriello lahir sebagai hadiah di usia 1 tahun pernikahan kami.
2. Meski, suami mengalami kecelakaan pada saat hendak terbang sehingga beliau harus off terbang selama 10 bulan lamanya, Papi Ello tetap diberi kesempatan oleh Tuhan Allah untuk berprestasi di ruang lingkup Lanud Abd Saleh, juga mendapat kesempatan untuk mengikuti sejumlah pelatihan di Cimahi, Batu, bahkan menjadi bagian dari tim pemikir untuk giat PPRC  yang dilaksanakan di Makasar kemarin. Pelatihan-pelatihan tersebut tentunya memberi dan menambah khazanah berpikir dan juga menambah pengalaman dan teman.
3. Kami masih mencintai dan saling mendukung. Itu yang paling penting. Kecelakaan suami yang mengakibatkan beliau harus digips, membuat saya harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan bahkan biaya yang tidak sedikit. Tuhan Allah tampaknya sengaja mengizinkan hal tersebut terjadi agar kami makin mencintai dan mendukung satu sama lain.
Semua pasangan bisa menerima pasangannya ketika mereka sedang dalam kelimpahan, tetapi apakah mereka bisa menerima satu sama lain ketika pasangannya sedang dalam kekurangan dan penderitaan?
Disitu, Tuhan Allah menguji saya.
Tak bisa saya pungkiri, saya mencintai suami saya justru dalam keadaan terlemahnya karena di situ beliau membutuhkan saya dengan sangat.
4. Saya belajar tidak bergantung secara finansial dengan mulai menggerakkan kembali galeri online saya bernama Kanahaya Gallery. Puji Tuhan meski baru sedikit demi sedikit uang yang saya hasilkan, saya mulai bisa lebih menghargai setiap rupiah yang ada dan belajar tidak melulu meminta-minta dengan suami.
Kejadian dimana suami mengalami kecelakaan serta harus off terbang, membuat saya harus memutar otak untuk mencukupi penghidupan dari gaji. Saya belajar untuk bisa berkreasi, menghasilkan tambahan-tambahan dari hasil kreasi saya.
5. Saya dipercaya untuk menjadi pengurus, yakni Sekretaris Rumah Pintar di tingkat Lanud. Bukan apa, saya ini cuma junior baru tingkat bawah tapi saya sudah dipercaya untuk mengemban tugas dan tanggungjawab. Bagi saya, dipercaya itu sebuah prestasi.
6. Saya dipercaya untuk berpartisipasi mengikuti giat lomba dalam rangka HUT organisasi di Lanud, seperti voli dan grup vokal dikreasikan dengan tari. Saya bahagia ketika saya bisa juga bermain voli ditambah dilatih suami sesekali. Saya sekarang masuk dalam tim bola voli skadron 32 meski masih diposisikan di bangku cadangan.
7. Kemudian, saya dan suami berhasil menerjemahkan sebuah artikel ke dalam bahasa Inggris dan dimuat di majalah online yang akan dibaca oleh pembaca di luar negeri. Meski sifatnya sukarela, saya bahagia ketika nama suami turut dimuat di dalam artikel tersebut.
Jadi,di tengah kesukaran pun banyak hal manis dan baik yang boleh terjadi. Ello putra kami yang baru berusia 10 bulan pun lincahnya bukan main. Rasa penasarannya yang amat tinggi memaksa saya untuk belajar terus dalam membimbing dan menyiapkannya menjadi yang terbaik yang bisa dirinya capai nanti.
Lantas, apa kiranya resolusi di 2016 nanti?Tidak banyak. Saya enggan untuk beresolusi panjang lebar lagi. Usia semakin bertambah, begitu juga tanggung jawab. Saya hanya ingin:
☺Bisa lebih jujur, adil, dan melakukan kebaikan dan kebenaran lebih banyak lagi.
☺Bisa melayani lebih ikhlas lagi sebagai istri dan ibu.
☺Bisa menghabiskan bahan bacaan saya berjumlah 10 buku di tahun 2016.
☺Bisa mengumpulkan modal agar bisa membuat tas tangan, clutch, dan sandal/selop dari bahan tenun maupun batik khas kalbar..
☺Bisa honeymoon dengan suami ke Bali. Hehe. (Jujur, kami belum pernah honeymoon beneran karena keterbatasan waktu dan dana kemarin setelah menikah).
☺Bisa menulis dan mempublikasikan artikel lagi seperti dulu... 
☺One month, one writing on blog.
☺我可以说汉语。Setidaknya bisa dengerin makna lagu mandarin, sama ketika berita metro xinwen ditayangin. 加油!
AMEN to all those good wishes.

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...