Skip to main content

Hal Positif dari "Kena Tegur" aka TROUBLE

Jadi ceritanya saya pernah ditegur oleh istri dari seniornya suami lantaran saya melakukan hal-hal yang menurut kacamata sipil saya, sangat sepele.
Hal-hal sepele tersebut bisa seperti: saya datang terlambat lebih dari 10-15 menit dari jadwal yang ditentukan, saya mengubah janji yang sudah direncanakan 5 jam sebelumnya, saya tidak memberitahu istri senior tentang alasan saya mengubah rencana tersebut, saya mendahului senior keluar dari area parkir, dll. (Duh, Gusti!)

1. Terlambat 10-15 menit itu bukan sepele. Itu masalah besar.
Oke, saya memang ditegur karena terlambat akan tetapi keterlambatan dengan alasan apapun itu tidak berlaku bagi yang sudah senior bahkan meski sudah berjam-jam telatnya.
2. Mengubah janji itu masalah.
Oke, itu masalah. Akan tetapi itu tidak akan dipermasalahkan jika yang melakukannya sudah senior, bahkan ketika membatalkannya in the very last minute. Kalimat seperti,"tidak apa-apa, Mbak. Kami maklumi." pun bermunculan.
3. Ada lagi suatu peraturan tidak tertulis dimana saya harus memberitahukan satu-satu istri yang lebih senior dari saya ketika saya berhalangan hadir dalam suatu forum rapat atau forum pertemuan ibu-ibu lainnya. Kalau sudah riweuh begitu, biasanya saya akan memberitahukan atau meminta izin kepada istri yang paling senior dan yang paling baik menurut saya. Hehehe.
4. Terakhir, saya kena tegur lantaran saya mendahului istri senior ketika sedang mengendarai mobil.
Yang menarik adalah tidak semua senior mempermasalahkan hal mendahului ini, dan ada juga sebagian senior yang ternyata sangat sensitif dengan hal ini.
Ada banyak hal-hal yang mungkin bagi saya tidak masuk akal alasan saya seringkali ditegur atau di trouble in. Meski begitu, saya tetap berusaha mengambil hal positif dari hal tersebut.
Setidaknya melatih saya untuk memiliki etika dan tata krama dalam keluarga besar saya ini.
Namun, ada pula hal yang saya soroti. Yakni budaya teguran yang tajam kebawah dan tumpul ke atas ini yang membuat saya sering mengernyitkan dahi.
Mengapa kita lebih menolerir para senior yang berbuat salah, sementara kita yang lebih junior ditegur habis-habisan? Atau kepada junior, kita lantas menasehati habis-habisan?
Iya, kalau ditegur dan menegur dengan cara menyenangkan (Lagian sejak kapan yang namanya ditegur itu menyenangkan? Hehehe), kalau ditegur dengan cara yang lebih tidak masuk akal? Misalnya, dimarahi di muka umum?
Saya pikir semua teguran pasti ada faedahnya. Saya sebisa mungkin mengambil manfaat positifnya saja. Tapi dari kejadian kena tegur tersebut saya memiliki 2 hipotesa sederhana, yakni Saudara ditegur hanya:
1. Jika Saudara bukanlah junior yang dekat dengan kakak-kakak senior Saudara.
2. Saudara adalah OBJEK menarik untuk ditrouble-in sehingga ada celah sedikit yang saudara lakukan akan menjadi perhatian menarik para Senior.
Terlepas dari tegur atau trouble, Saya berjanji jika suatu hari nanti saya punya adik junior dan ada alasan tepat saya untuk menegur mereka, sebisa mungkin saya dekati dengan pendekatan persuasif.
Saya tidak akan menegurnya didepan khalayak ramai, tetapi akan saya panggil untuk berbicara HANYA empat mata dengan saya.
Eits, satu lagi...
Jika saya sudah menjadi senior nanti... saya harus zero mistake. Khususnya, harus benar-benar tepat waktu dan memegang janji terhadap apa yang sudah saya katakan. No lame excuses sehingga kalau saya tidak menepati janji, saya akan beri hukuman pada diri saya sendiri untuk kepentingan bersama dengan menraktir makan, misalnya.
Hehehe.
Semoga!

Comments

Popular posts from this blog

It’s Always God: Through Change and Growth

Unstoppable gratitude, these are the two words that define 2025, and probably 2026 and many years ahead. When I look back at early 2025, so many meaningful things happened. The second semester at UNHAN began. My children turned 10 and 8. We celebrated our 11th wedding anniversary, and my husband and I both turned 37. Many beautiful moments filled our days. Besides the ups, we also faced some downs. As a couple, we learned how to reconcile and find our rhythm again. We are constantly learning to manage our shortcomings so that the system we have built—our family—can keep working and growing. The second half of 2025 brought quite drastic changes. My husband moved to a different division at work, and we moved into our panggon , our new home in Halim Perdanakusuma. Our children advanced to years 5 and 3. I was no longer in my second semester at UNHAN, but I was trusted to serve as a Master of Ceremony and moderator for several UNHAN events. I also traveled to Pontianak for a few days with ...

The House That Carried Us Forward

I don’t think I’ve ever written about the government housing provided by the Air Force where we’re currently living. We’ve been here for almost half a year now—since June, to be exact. I still remember the day we left Malang for Jakarta: the kids and I ended up crying together. Strangely enough, that move also happened in December, as if the month itself always carries a bittersweet turning of seasons for our family. But life moves forward, and so must we. Our first home in Jakarta was in Lubang Buaya—a small house, roughly 108 square metres, with three bedrooms and two bathrooms. My mother-in-law had lived there ever since I married her son in 2014. My husband and I bought the house using a mix of our parents’ support. Technically, we still owe my parents the remaining balance. Lol. After living in Jakarta for about two and a half years, we decided to move into what we call the Panggon , or rumah dinas—a service house provided by TNI AU. Since it isn’t a Rumah Jabatan < Official Re...

Pilih(an)

Konon, menulis jurnal adalah bagian dari proses penyembuhan. Saya mengangguk setuju. Menulis jurnal , bukan menumpahkan emosi lewat status WhatsApp sambil berharap semesta ikut marah hanya karena hati kita sedang seret. Ada jurang lebar antara refleksi batin dan pamer luka di ruang publik, meski banyak yang mengacaukannya. Awalnya saya enggan menyinggung hal ini. Namun, hidup sering bercanda—niat saya membahas hal lain langsung terpelintir hanya karena saya menanggapi sebuah status WA. Rupanya respons saya tidak bertaut dengan ekspektasinya. Jadilah ia bereaksi—riuh, garang, seperti hendak menerkam sesuatu yang bahkan bukan ancaman. Saya hanya tersenyum tipis. Mungkin saya memang salah frekuensi. Ternyata, memberi perhatian pun bisa dianggap provokasi oleh orang yang sedang tidak selaras gelombang batinnya. Dan ya, mungkin energi saya sedang terlalu lincah; spontanitas saya memercik, lalu memicu dinamika yang membuat saya menghela napas dan membatin, “Ya ampun… ups .” Saya tak henda...